Azoospermia merupakan salah satu penyebab masalah kesuburan pada pria. Masalah ini mungkin tidak disadari sampai Anda dan pasangan tidak kunjung dikaruniai momongan meski sudah berhubungan intim tanpa pengaman secara teratur.
Azoospermia merupakan salah satu penyebab masalah kesuburan pada pria. Masalah ini mungkin tidak disadari sampai Anda dan pasangan tidak kunjung dikaruniai momongan meski sudah berhubungan intim tanpa pengaman secara teratur.

Azoospermia adalah suatu kondisi saat air mani yang dikeluarkan mengandung sangat sedikit sel sperma atau bahkan tidak ada sama sekali.
Normalnya, pria yang sehat akan memiliki 15–20 juta sel sperma dalam setiap mililiter air mani.
Sel sperma dihasilkan oleh testis lewat proses yang disebut spermatogenesis. Lalu, sel sperma bergerak melalui sistem reproduksi dan bercampur cairan untuk membentuk air mani.
Air mani yang berisi sel sperma inilah yang nantinya akan dikeluarkan dari penis saat ejakulasi.
Jika istri Anda belum hamil meskipun Anda berdua sudah mencoba selama lebih dari satu tahun, kelainan sperma ini mungkin menjadi penyebabnya.
Umumnya, ciri-ciri azoospermia tidak bisa dilihat secara langsung. Kondisi ini hanya bisa diketahui bila Anda melakukan analisis semen.
Berdasarkan penyebabnya, kondisi kurangnya jumlah sel sperma dalam air mani ini terbagi ke dalam tiga jenis seperti di bawah ini.
Kondisi testis dan saluran reproduksi pria tampak normal, tetapi testis tidak cukup terstimulasi oleh hormon untuk menghasilkan sperma yang sehat.
Pretesticular azoospermia termasuk azoospermia non-obstruktif yang umumnya terjadi setelah kemoterapi atau akibat ketidakseimbangan hormon di dalam tubuh.
Pada kelainan sperma ini, pria mengalami kerusakan struktur dan fungsi testis. Akibatnya, produksi sperma yang terganggu atau sperma memiliki kualitas yang buruk.
Sama seperti jenis kelainan sperma sebelumnya, testicular azoospermia ini juga termasuk azoospermia non-obstruktif.
Post-testicular azoospermia terjadi saat sperma tidak bisa keluar saat ejakulasi karena adanya penyumbatan di sepanjang saluran reproduksi pria.
Kondisi yang termasuk azoospermia obstruktif ini merupakan jenis yang paling umum dan bisa memengaruhi hingga 40% pria yang mengidap azoospermia.

Penyebab sperma kosong pada pria tidak bisa disamaratakan. Secara umum, kelainan sperma ini dapat terbagi ke dalam dua jenis, yakni obstruktif dan nonobstruktif.
Jenis azoospermia ini disebabkan oleh adanya penyumbatan pada saluran reproduksi, biasanya pada epididimis dan vas deferens.
Penyumbatan ini membuat sperma tidak bisa meninggalkan testis. Kondisi ini membuat air mani yang keluar akan mengandung sedikit sel sperma atau tidak ada sama sekali.
Berikut adalah beberapa kondisi yang bisa menimbulkan sumbatan pada saluran reproduksi.
Penyebab jenis azoospermia ini adalah masalah dalam produksi sperma. Hal ini mungkin terjadi akibat gangguan hormon atau fungsi testis yang tidak sempurna.
Dalam kondisi ini, dokter tidak menemukan adanya penyumbatan yang menghalangi aliran sperma dari testis menuju saluran reproduksi.
Beberapa penyebab dari azoospermia non-obstruktif adalah sebagai berikut.
Untuk mendiagnosis azoospermia, dokter terlebih dahulu akan mengajukan pertanyaan mengenai gejala yang Anda rasakan, riwayat aktivitas seksual, dan kondisi kesehatan Anda secara keseluruhan.
Kondisi air mani yang memiliki sangat sedikit sel sperma bisa diketahui melalui analisis semen.
Dokter terlebih dahulu akan meminta Anda untuk mengambil sampel air mani. Kemudian, sampel air mani ini diperiksa di bawah mikroskop untuk mengetahui jumlah sel sperma di dalamnya.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan melakukan tes penunjang lainnya seperti berikut ini.

Jangan langsung berkecil hati ketika dokter memberi tahu kalau Anda mengalami kondisi ini.
Dengan perawatan dan pengobatan yang tepat seperti berikut ini, pria dengan azoospermia tetap memiliki peluang untuk memiliki keturunan.
Pembedahan atau operasi sering kali dapat memperbaiki saluran reproduksi yang tersumbat.
Cara mengobati azoospermia ini juga dapat dilakukan untuk membuat sambungan yang tidak pernah berkembang karena adanya cacat bawaan.
Makin cepat penyumbatan ditangani, makin besar peluang operasi akan berhasil. Jika operasi berhasil, peluang Anda untuk berhasil dalam program hamil pun makin besar.
Berikut ini adalah beberapa jenis operasi untuk mengobati azoospermia obstruktif.
Apabila kondisinya tidak terlalu serius, sebagian orang hanya perlu melakukan perubahan gaya hidup, minum obat, atau melakukan detoksifikasi.
Anda mungkin membutuhkan waktu sekitar 2–3 bulan hingga jumlah sel sperma dalam air mani Anda kembali normal.
Jika azoospermia disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon, dokter dapat memberikan obat hormon yang memungkinkan sperma untuk kembali diproduksi oleh tubuh.
Obat hormon yang umumnya diperlukan antara lain:
Beberapa pria mungkin mengalami varikokel, yakni kondisi saat pembuluh darah vena pada testis membesar sehingga akan membuat produksi sperma bermasalah.
Tindakan varikokelektomi dapat mengidentifikasi juga mengikat vena yang bermasalah. Secara umum, keberhasilan tindakan ini mencapai 40% untuk mengembalikan produksi sperma.
Kelainan sperma yang disebabkan oleh kelainan genetik mungkin tidak dapat sepenuhnya dicegah.
Namun, Anda bisa melakukan beberapa langkah berikut untuk mencegah gangguan sperma yang disebabkan oleh faktor di luar genetik.
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai masalah ini, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Azoospermia: No sperm count. (2023). Cleveland Clinic. Retrieved December 17, 2024, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15441-azoospermia
Azoospermia. (2023). Johns Hopkins Medicine. Retrieved December 17, 2024, from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/azoospermia
Azoospermia. (n.d.). Stanford Health Care. Retrieved December 17, 2024, from https://stanfordhealthcare.org/medical-conditions/mens-health/azoospermia.html
Azoospermia. (n.d.). UCLA Health. Retrieved December 17, 2024, from https://www.uclahealth.org/medical-services/urology/mens-clinic-ucla/fertility/azoospermia
Azoospermia. (2024). University of Utah Health. Retrieved December 17, 2024, from https://healthcare.utah.edu/fertility/conditions/sperm-production-azoospermia
Azoospermia. (2019). UNC School of Medicine Department of Urology. Retrieved December 17, 2024, from https://www.med.unc.edu/urology/patientcare/adult-non-cancer/male-fertility/azoospermia/
Cocuzza, M., Alvarenga, C., & Pagani, R. (2013). The epidemiology and etiology of azoospermia. Clinics, 68, 15-26. https://doi.org/10.6061/clinics/2013(sup01)03
Versi Terbaru
24/12/2024
Ditulis oleh Atifa Adlina
Ditinjau secara medis oleh dr. Damar Upahita
Diperbarui oleh: Diah Ayu Lestari