backup og meta
Kategori

1

Tanya Dokter
Simpan
Cek Kondisi

6 Penyakit Kulit yang Paling Sering Terjadi pada Ibu Hamil

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 06/07/2023

6 Penyakit Kulit yang Paling Sering Terjadi pada Ibu Hamil

Perubahan hormon tidak hanya berpengaruh pada kondisi fisik dan emosional ibu hamil, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit dan masalah kulit.

Tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, penyakit kulit pada ibu hamil juga kerap menurunkan kepercayaan diri.

Untungnya, berbagai masalah tersebut biasanya akan membaik dengan sendirinya setelah melahirkan. Simak informasi berikut untuk mengetahui selengkapnya.

Kenapa ibu hamil lebih mudah terkena penyakit kulit?

Selain karena perubahan hormon, penurunan sistem kekebalan tubuh juga menjadi alasan mengapa kulit ibu hamil lebih sensitif terhadap berbagai masalah kulit.

Meningkatnya sirkulasi darah dan meregangnya kulit seiring dengan pertumbuhan janin juga kerap membawa masalah pada kulit. Namun, perlu diingat bahwa kondisi ini wajar terjadi selama kehamilan.

Oleh karena itu, sebagian besar masalah kulit saat hamil memang akan membaik dengan sendirinya setelah Anda melahirkan.

Meski begitu, bukan berarti ibu bisa mengabaikan perubahan kulit saat hamil. Pasalnya, beberapa kondisi tersebut mungkin memang membutuhkan perawatan khusus.

Berbagai penyakit kulit pada ibu hamil

gatal saat hamil

Setiap ibu hamil mungkin mengalami gangguan kulit yang berbeda. Ini lantaran perubahan hormon, sirkulasi darah, hingga kondisi sistem imun setiap orang juga berbeda.

Berikut adalah beberapa masalah kulit yang cukup sering dikeluhkan ibu hamil.

1. Pruritic urticarial papules and plaque of pregnancy (PUPPP)

PUPPP adalah masalah kulit pada ibu hamil yang ditandai dengan bercak dan bentol kemerahan yang disertai rasa gatal. Kondisi ini paling sering ditemukan pada trimester tiga kehamilan.

Bentol kemerahan dan gatal karena PUPPP biasanya dimulai dari darah perut, lalu menyebar ke paha, bokong, dan dada.

Belum diketahui secara pasti penyebab PUPPP. Namun, para ahli menduga bahwa penyakit ini disebabkan oleh perubahan sistem kekebalan tubuh ibu hamil.

Bercak kemerahan dan rasa gatal karena PUPPP biasanya menghilang pada 1–2 minggu usai ibu melahirkan.

2. Prurigo

Gangguan kulit pada ibu hamil seperti prurigo dapat muncul pada 1 dari 300 kehamilan selama trimester berapa saja.

Gejala utama dari prurigo adalah bentol-bentol gatal yang muncul secara tiba-tiba, khususnya pada bagian lengan bawah, pipi, perut, hingga bokong.

Penyebab prurigo pada ibu hamil adalah perubahan sistem imun dan kondisi kulit yang lebih kering saat hamil.

Meski terasa sangat gatal, jangan menggaruk bentol prurigo terlalu keras. Sebagai gantinya, ibu bisa menggunakan kompres dingin, menggunakan pakaian yang lebih longgar, dan mengoleskan losion supaya kulit tidak kering.

Beberapa ibu hamil mungkin masih merasakan bentol karena prurigo beberapa bulan setelah melahirkan.

3. Herpes gestationis

Pemphigoid gestationis atau yang sering disebut herpes gestationis merupakan penyakit autoimun yang ditemukan pada 1 dari 50.000 kehamilan.

Penyakit kulit ini kerap terjadi saat ibu hamil memasuki trimester dua dan tiga. Kondisi yang ditandai dengan bentol berisi air di sekitar perut ini bisa bertahan bahkan setelah melahirkan.

Meski kecil kemungkinannya, herpes gestationis dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur dengan ukuran tubuh yang lebih kecil.

Gangguan kulit saat hamil ini disebabkan oleh produksi auto-antibodi terhadap protein pada kulit. Untuk mengatasinya, dokter dapat meresepkan obat oles dengan kandungan kortikosteroid rendah.

Tahukah Anda?

Meski dinamai herpes, gangguan kulit ini tidak ada kaitannya dengan penyakit herpes pada umumnya karena tidak disebabkan oleh virus.
Penamaan herpes gestationis didasarkan pada bentol berisi cairan yang juga terjadi pada seseorang yang mengalami herpes karena virus.

4. Intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP)

Jika kulit gatal saat hamil disertai dengan perubahan warna kulit menjadi menguning, ini mungkin menandakan intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP).

ICP merupakan gangguan pada hati yang disebabkan oleh terhambatnya aliran cairan empedu. 

Mengutip dari laman Cedars Sinai, rasa gatal karena ICP saat hamil paling sering terasa pada telapak kaki dan tangan. Rasa gatal ini biasanya memburuk pada malam hari.

Meski merupakan hal yang wajar terjadi selama kehamilan, ICP perlu segera diatasi karena dapat meningkatkan risiko bayi lahir lebih cepat.

5. Folikulitis pruritus

Folikulitis pruritus biasanya muncul ketika memasuki trimester dua dan tiga. Gejalanya yakni bintik kemerahan tanpa rasa gatal pada daerah perut, dada, lengan, hingga punggung.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab folikulitis pruritus saat hamil. Banyak ahli percaya bahwa kondisi ini disebabkan oleh perubahan hormon selama kehamilan.

Meski bisa menghilang dengan sendirinya pada 2–8 minggu setelah melahirkan, dokter mungkin meresepkan krim kortikosteroid dosis rendah untuk mengatasi bintik kemerahan.

6. Melasma

Perubahan hormon selama kehamilan dapat meningkatkan produksi melanin dalam tubuh. Melanin merupakan zat yang memberikan warna pada kulit, rambut, dan mata Anda.

Produksi melanin yang terus meningkat dapat menimbulkan bercak-bercak hitam yang disebut melasma. Bercak-bercak ini biasanya muncul di sekitar dahi, pipi, dagu, dan bibir.

Melasma atau yang juga dikenal dengan mask of pregnancy dapat memburuk jika ibu terkena paparan sinar matahari.

Oleh karena itu, penting untuk tetap menggunakan tabir surya selama kehamilan dan mengenakan pakaian tertutup saat keluar rumah.

Kebanyakan penyakit kulit pada ibu hamil berkaitan dengan perubahan hormon dan akan membaik sendiri usai persalinan. 

Akan tetapi, jika ibu hamil merasa tidak nyaman karenanya, ada baiknya segera hubungi dokter. Dengan begitu, ibu bisa mendapatkan pengobatan yang tepat.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 06/07/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan