7 Jenis Hormon Pada Ibu Hamil dan Fungsinya

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 05/12/2022

    7 Jenis Hormon Pada Ibu Hamil dan Fungsinya

    Perubahan hormon merupakan salah satu hal yang pasti dialami oleh ibu hamil. Ada hormon yang mengalami peningkatan kadar selama kehamilan dan ada pula yang benar-benar baru terbentuk begitu Anda hamil.

    Apa saja hormon tersebut dan apa fungsinya untuk ibu hamil?

    Macam-macam hormon kehamilan

    Hormon kehamilan berperan penting untuk mendukung kesehatan ibu hamil sekaligus janin yang sedang dikandung.

    Meski begitu, terkadang perubahan hormon ini juga disertai efek yang kurang menyenangkan, seperti morning sickness. Untungnya, ini merupakan hal yang wajar.

    Berikut beberapa jenis hormon kehamilan dan masing-masing fungsinya.

    1. Human chorionic gonadotropin (hCG)

    terapi kesuburan suntik hcg

    Salah satu hormon yang berfungsi untuk menjaga kehamilan adalah hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon satu ini hanya terbentuk selama kehamilan.

    Hormon hCG dibentuk oleh plasenta dan dapat ditemukan dalam darah serta urine ibu hamil.

    Maka dari itu, keberadaan hCG dalam urine kerap dijadikan patokan apakah seseorang benar-benar hamil melalui test pack. Kadar hCG akan meningkat pesat selama trimester pertama.

    Hormon hCG berfungsi untuk menebalkan lapisan rahim dan menghentikan menstruasi. Keberadaan hCG juga akan memicu produksi hormon estrogen dan progesteron.

    Mengutip laman Cleveland Clinic, hormon hCG terbentuk pada hari ke-11 setelah pembuahan dan memiliki nilai tertinggi pada akhir trimester pertama atau saat usia kandungan 10 minggu.

    Hormon satu ini juga menjadi salah satu penyebab ibu hamil mual dan muntah selama awal masa kehamilan.

    Kadar hCG yang rendah pada usia muda memang normal. Namun, ini juga bisa menjadi tanda adanya:

    • blighted ovum atau hamil kosong,
    • keguguran,
    • kematian bayi, dan
    • hamil di luar rahim atau kehamilan ektopik.

    Sementara itu, kadar hCG yang terlalu tinggi juga kerap dikaitkan dengan:

    • hamil kembar atau lebih,
    • hamil anggur, dan
    • pertumbuhan abnormal pada rahim.

    2. Human placental lactogen (hPL)

    Hormon human placental lactogen (hPL) juga diporoduksi oleh plasenta dan hanya ditemukan saat seseorang hamil.

    Hormon yang juga dikenal dengan nama human chorionic somatomammotropin (HCS) ini akan mulai diproduksi saat kehamilan menginjak usia dua minggu.

    hPL berfungsi memberikan nutrisi pada kandungan sehingga janin bisa tumbuh dengan baik. Maka dari itu, hormon ini berkaitan dengan berat badan bayi saat dilahirkan.

    Selain untuk janin, hPL juga akan mendorong kelenjar susu pada payudara untuk memproduki air susu ibu (ASI).

    3. Estrogen

    Hormon estrogen diproduksi oleh ovarium meski Anda tidak sedang hamil. Namun, kadarnya akan meningkat selama masa kehamilan karena hormon ini juga diproduksi di plasenta.

    Kadar estrogen meningkat secara bertahap selama kehamilan dan memuncak pada trimester ketiga. Peningkatan estrogen pada trimester pertama akan memicu rasa mual hingga ketidakstabilan emosi.

    Berikut fungsi hormon estrogen untuk ibu hamil.

    • Memelihara, mengontrol, dan merangsang produksi hormon kehamilan lainnya.
    • Memastikan organ-organ penting pada janin seperti paru-paru, hati, dan ginjal berkembang dengan baik.
    • Merangsang pertumbuhan dan fungsi plasenta yang benar.
    • Menjaga pertumbuhan jaringan payudara ibu (bersama dengan progesteron) untuk persiapan menyusui.
    • Meningkatkan aliran darah di dalam rahim sehingga membuat ibu hamil tampak lebih glowing.

    4. Progesteron

    Progesteron

    Sama halnya dengan estrogen, hormon ini juga sudah ada sebelum masa kehamilan dan akan meningkat selama wanita hamil. Progesteron dihasilkan oleh ovarium dan plasenta.

    Pada awal kehamilan, progesteron adalah salah satu hormon yang berfungsi untuk kehamilan. Hormon ini bekerja dengan cara berikut.

    • Meningkatkan aliran darah ke rahim.
    • Membantu pembentukan plasenta.
    • Merangsang penebalan lapisan rahim yang terdalam (endometrium).

    Saat progesteron mulai diproduksi oleh plasenta, tepatnya pada minggu ke-6 sampai 9 usia kehamilan, fungsinya semakin berkembang seperti berikut.

    • Menjaga perkembangan janin.
    • Mencegah otot rahim kontraksi sampai waktu persalinan.
    • Memperkuat otot-otot dinding panggul untuk persiapan persalinan.
    • Menjaga pertumbuhan jaringan payudara ibu (bersama dengan estrogen) untuk persiapan menyusui.

    Peningkatan progesteron pada ibu hamil mungkin disertai dengan rasa pusing, mual, mulas, sembelit, hingga munculnya rambut halus di sekitar payudara.

    5. Corticotropin-releasing hormone (CRH)

    Hormon ini biasanya terbentuk saat janin dianggap sudah matang dan siap dilahirkan. Pasalnya, fungsi CRH yaitu mematangkan janin tepat sebelum persalinan.

    Corticotropin-releasing hormone juga dapat diproduksi lebih awal jika ibu hamil stres. Saat ibu hamil stres, kadar hormon kortisol akan meningkat dan mengira janin sudah siap dikeluarkan.

    6. Oksitosin

    Hormon oksitosin berperan penting saat memasuki waktu persalinan. Dengan produski oksitosin yang meningkat, otot-otot rahim dan perut akan memulai kontraksi secara teratur.

    Selain itu, oksitosin juga akan membuat leher rahim melunak sehingga proses persalinan akan lebih mudah.

    Hormon satu ini juga akan mendorong produksi ASI dengan merangsang kelenjar Montgomery. Dengan begitu, bayi bisa langsung minum ASI setelah dilahirkan.

    Kombinasi antara oksitosin dan estrogen akan membuat tubuh melepaskan hormon lainnya, seperti prostaglandin dan relaksin.

    Prostaglandin akan membantu melunakkan area leher rahim. Sementara itu, relaksin akan memperluas daerah panggul bawah ibu sebagai persiapan persalinan.

    7. Prolaktin (PRL)

    Hormon yang juga dikenal sebagai laktotropin ini bertanggungg jawab untuk persiapan laktasi.

    Bersama dengan hormon estrogen dan progestron, prolaktin akan merangsang perkembangan jaringan susu di dalam payudara untuk produksi ASI.

    Selain itu, prolaktin juga berperan dalam merangsang sel alveoli di payudara untuk memproduksi komponen ASI seperti laktosa, kasein, dan lipid.

    Setelah melahirkan, kadar prolaktin akan tetap meningkat selama periode stimulasi puting melalui isapan bayi. Namun, jika Anda tidak menyusi, kadarnya akan menurun dan produksi ASI berkurang.

    Kadar prolaktin akan kembali seperti sebelum kehamilan setelah 1–2 minggu Anda tidak menyusui.

    Mengenal hormon pada ibu hamil

    • Beberapa hormon kehamilan sudah terbentuk sebelum hamil, seperti estrogen dan progesteron.
    • Peningkatan hormon biasanya disertai dengan rasa mual, pusing, hingga muntah.
    • Berbagai hormon ini memiliki peran penting untuk menjaga kehamilan dan janin.

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 05/12/2022

    Iklan
    Iklan
    Iklan