Penyebab Preeklampsia, Komplikasi Kehamilan yang Bisa Sebabkan Kematian

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Preeklampsia adalah komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, walaupun ibu hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Preeklampsia adalah penyebab kematian utama para ibu di negara-negara berkembang. Apa penyebab preeklampsia?

Apa penyebab preeklampsia?

Dikutip dari WebMD, para ahli meyakini bahwa penyebab preeklampsia berasal dari plasenta yang tidak berkembang dengan baik akibat gangguan pada pembuluh darah. Penyebab preeklampisa pastinya belum dipahami sepenuhnya, tapi biasa terjadi di usia kehamilan 20 minggu.

Plasenta adalah organ yang mengantar suplai darah ibu ke bayi di dalam kandungan. Makanan dan oksigen melewati plasenta dari ibu ke bayi. Kotoran bayi pun dikembalikan lagi ke ibu.

Untuk mendukung pertumbuhan bayi, plasenta membutuhkan pasokan darah yang besar dan konstan dari ibu. Dalam kasus hal yang menjadi penyebab preeklampsia, plasenta yang tidak mendapatkan pasokan cukup darah bisa memicu preeklampsia.

Ini karena plasenta tidak berkembang dengan baik seperti yang sudah terbentuk selama paruh pertama kehamilan.

Masalah pada plasenta juga dapat menunjukkan bahwa suplai darah antara ibu dan bayi terganggu. Sinyal atau zat dari plasenta yang rusak akan memengaruhi pembuluh darah ibu, menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Pada saat yang sama, masalah pada ginjal dapat menyebabkan protein penting dalam darah ibu bocor ke urine, menghasilkan protein dalam urine (proteinuria). Kondisi inilah yang kemudian menjadi penyebab preeklampsia.

Mengapa plasenta yang bermasalah bisa jadi penyebab preeklampsia?

Plasenta yang bermasalah menjadi faktor utama penyebab preeklampsia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Pada tahap awal kehamilan, telur yang sudah dibuahi menempelkan diri ke dinding rahim (uterus).

Rahim adalah organ di mana bayi tumbuh di dalamnya selama kehamilan. Telur yang dibuahi menghasilkan sesuatu seperti akar disebut villi, yang akan membantu mengikatkan diri ke lapisan rahim.

Villi adalah pembuluh darah yang mengantarkan nutrisi dalam rahim dan akhirnya tumbuh menjadi plasenta. Selama tahap awal kehamilan, pembuluh darah ini berubah bentuk dan menjadi lebih lebar.

Jika pembuluh darah tidak sepenuhnya berubah, kemungkinan plasenta tidak akan berkembang dengan baik karena tidak mendapatkan cukup nutrisi. Hal ini dapat menjadi penyebab preeklampsia.

Masih belum jelas mengapa pembuluh darah tidak berubah sebagaimana mestinya hingga jadi penyebab preeklampsia. Kemungkinannya adalah, ini dipengaruhi perubahan gen Anda yang merupakan kondisi yang turun temurun dalam keluarga. Namun, tidak semua penyebab preeklampsia didasari oleh genetik.

Beberapa faktor penyebab preeklampsia lainnya

Beberapa faktor juga meningkatkan risiko Anda untuk mengalami preeklampsia, meski tidak terlalu signifikan.

Namun, jika Anda mengalami dua atau lebih hal berikut secara bersamaan, maka kemungkinan Anda terkena preeklampsia lebih tinggi:

  • Preeklampsia kemungkinan besar terjadi pada kehamilan pertama dibandingkan kehamilan berikutnya
  • Kehamilan terjadi sudah 10 tahun yang lalu, sejak kehamilan terakhir Anda
  • Anda memiliki riwayat keluarga yang mengalami preeklampsia, misalnya ibu atau saudara perempuan pernah mengalami preeklampsia
  • Anda berusia lebih dari 40
  • Anda mengalami obesitas pada awal kehamilan Anda (Anda memiliki indeks massa tubuh 35 atau lebih)
  • Anda mengandung bayi kembar atau kembar tiga

Jika Anda dianggap berada pada risiko tinggi terkena penyebab preeklampsia, Anda mungkin disarankan untuk mengonsumsi dosis 75 mg aspirin (aspirin bayi atau aspirin dosis rendah) setiap hari selama kehamilan Anda.

Biasanya anjuran ini dimulai dari saat Anda 12 minggu hamil sampai bayi lahir. Bukti menunjukkan bahwa obat ini dapat menurunkan kemungkinan terkena preeklampsia.

Siapa saja yang berisiko mengalami preeklampsia?

Berbagai faktor risiko dapat menjadi penyebab preeklampsia terjadi pada ibu hamil, yaitu:

  • Ibu memiliki riwayat atau masalah kesehatan lain seperti, diabetes melitus, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, lupus, atau sindrom antifosfolipid
  • Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. Sebanyak 16 persen ibu yang pernah mengalami preeklampsia, pada kehamilan berikutnya mengalami preeklampsia kembali
  • Hamil pada usia di atas 35 tahun atau bahkan kurang dari 18 tahun
  • Ibu yang hamil untuk pertama kalinya
  • Ibu hamil yang mengalami obesitas
  • Ibu hamil yang mengandung bayi kembar
  • Ibu yang memiliki jeda kehamilan 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

Selain itu, faktor risiko lain yang bisa menjadi penyebab preeklampsia adalah faktor genetik, diet, gangguan pada pembuluh darah, dan gangguan autoimun.

Gejala dan tanda preeklampsia

Ibu yang mengalami penyebab preeklampsia, biasanya akan mengalami gejala dan tanda sebagai berikut, mengutip dari NHS:

  • Tiba-tiba mengalami pembengkakan pada muka, kaki, tangan, dan mata
  • Tekanan darah menjadi sangat tinggi, yaitu lebih dari 140/90mmHg
  • Terjadi peningkatan berat badan dalam 1 atau 2 hari
  • Nyeri pada perut bagian atas
  • Nyeri kepala yang sangat parah
  • Timbul rasa mual dan muntah
  • Penglihatan kabur
  • Penurunan frekuensi dan jumlah urine
  • Terdapat protein pada urine (hal ini diketahui setelah melakukan pemeriksaan urine)

Namun terkadang ibu hamil yang mengalami preeklampsia juga tidak mengalami gejala yang begitu jelas. Oleh karena itu, penting untuk memeriksakan diri ke dokter saat hamil secara rutin.

Apa dampak dari preeklampsia?

Plasenta yang tidak mendapatkan aliran darah untuk didistribusikan ke janin adalah penyebab preeklampsia. Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai masalah pada pertumbuhan dan perkembangan janin karena janin tidak mendapatkan cukup makanan dari ibu.

Masalah yang sering muncul pada janin akibat preeklampsia adalah berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur.

Hal ini bahkan dapat mengakibatkan masalah pertumbuhan saat anak sudah lahir, seperti gangguan fungsi kognitif, masalah penglihatan dan pendengaran pada anak.

Penyebab preeklampsia juga bisa memicu berbagai masalah pada kesehatan ibu, yaitu:

  • Stroke
  • Paru-paru basah
  • Gagal jantung
  • Kebutaan
  • Perdarahan pada hati
  • Perdarahan yang serius ketika melahirkan
  • Preeklampsia juga mengakibatkan plasenta tiba-tiba terputus dari ibu dan janin, sehingga menyebabkan kelahiran mati

Apakah faktor penyebab preeklamsia bisa langsung diobati?

Satu-satunya pengobatan atau penanganan terbaik penyebab preeklampsia yang dapat dilakukan adalah dengan melahirkan bayi yang dikandung.

Oleh karena itu, sebaiknya diskusikan hal ini dengan dokter. Jika bayi telah cukup baik kondisinya untuk dilahirkan (biasanya usia lebih dari 37 minggu) dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan operasi caesar atau melakukan induksi.

Langkah ini dapat mencegah preeklampsia semakin memburuk. Namun jika bayi dinyatakan tidak siap untuk dilahirkan, maka dokter akan memberikan terapi untuk mengurangi risiko preeklampsia bertambah parah.

Jika penyebab preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil tidak terlalu parah, berikut rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mencegah preeklamsia semakin buruk:

  • Bed rest atau istirahat total, hal ini bisa dilakukan di rumah ataupun di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter.
  • Mengonsumsi lebih banyak air mineral.
  • Mengurangi konsumsi garam.

Untuk mendeteksi risiko dan penyebab preeklampsia sejak awal, jangan malas untuk memeriksakan kandungan Anda sejak awal kehamilan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Menghadapi 7 Kecemasan Ibu Hamil Menjelang Persalinan

Mendekati hari-H melahirkan, Anda mungkin jadi gugup dan takut. Hal ini wajar, tapi jangan sampai kecemasan ibu hamil menjelang persalinan bikin stres.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Melahirkan, Kehamilan 10 September 2020 . Waktu baca 5 menit

Hati-hati, Pelumas Seks Bisa Bikin Susah Hamil

Sedang mencoba hamil tapi belum berhasil juga? Hal ini kemungkinan disebabkan pelumas seks alias lubrikan yang membuat susah hamil.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesuburan, Kehamilan 9 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Bayi Bernapas Saat Masih dalam Kandungan?

Pernapasan pertama yang bayi lakukan adalah saat bayi menangis ketika dilahirkan. Lalu bagaimana caranya bayi bernafas dalam kandungan?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Perkembangan Janin, Kehamilan, Hidup Sehat, Fakta Unik 1 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Bolehkah Ibu Menjalani Diet Saat Hamil?

Sebagai perempuan, Anda memiliki rasa kekhawatiran akan penampilan Anda meski saat hamil. Namun, bolehkah ibu menjalani diet saat hamil?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19 Agustus 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

melahirkan normal tanpa rasa sakit

Melahirkan Normal Tanpa Rasa Sakit, Apakah Mungkin?

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 5 menit
minum antidepresan saat hamil

Minum Antidepresan Saat Hamil, Boleh Atau Tidak?

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 24 September 2020 . Waktu baca 4 menit
korset perut setelah melahirkan

Perlukah Memakai Korset Perut Setelah Melahirkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 23 September 2020 . Waktu baca 3 menit
perkembangan janin 14 minggu

Kapan Boleh Mencoba Hamil Lagi Setelah Keguguran?

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 16 September 2020 . Waktu baca 4 menit