Penyebab Preeklampsia, Kondisi Berbahaya Pada Ibu Hamil

Oleh

Preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada kehamilan yang memasuki usia minggu ke-20, ditandai dengan tingginya tekanan darah tinggi walaupun ibu hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklampsia biasanya disertai dengan gejala proteinuria (protein di dalam urin), dan bengkak pada kaki dan tangan. Setidaknya preeklampsia dialami oleh 5 hingga 8 persen ibu hamil. Selain itu, diketahui bahwa lebih dari 500 juta perempuan di seluruh dunia meninggal akibat komplikasi yang terjadi pada kehamilan. Sekitar 10 hingga 15 persen dari angka kematian tersebut, diakibatkan oleh preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil.

Tidak hanya kematian ibu yang tinggi, preeklampsia mengakibatkan 1000 bayi meninggal dunia setiap tahunnya. Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan preeklampsia pada ibu hamil, sehingga ini dapat menjadi momok yang menakutkan. Namun ibu hamil dapat menjaga kesehatannya dengan mengetahui faktor risiko, gejala, dan penanganannya, untuk menurunkan risiko ibu hamil mengalami komplikasi yang lebih parah.

Penyebab preeklampsia

Preeklampsia terjadi karena ada gangguan pada pertumbuhan serta perkembangan plesenta, sehingga hal ini mengganggu aliran darah ke bayi maupun ibu. Plasenta merupakan organ yang khusus dibentuk saat kehamilan dan berfungsi sebagai pemasok makanan maupun oksigen dari ibu ke janin. Makanan dan oksigen didistribusikan melalui aliran darah, oleh karena itu untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan janin, plasenta membutuhkan pasokan aliran darah yang besar dan konstan. Namun pada ibu yang mengalami preeklampsia, plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup. Hal ini terjadi diperkirakan akibat plasenta yang tidak bekerja dengan baik untuk menyalurkan aliran darah tersebut, kemudian mengganggu pembuluh darah dan tekanan darah pada ibu.

Mengapa plasenta tidak bekerja dengan baik? Tepat setelah telur dibuahi oleh sperma, calon janin tersebut akan menempel pada rahim sebagai tempat tumbuhnya hingga proses kelahiran nanti. Ketika proses itu terjadi, calon janin juga membentuk suatu ‘akar’ dari pembuluh darah ibu yang kemudian akan berkembang menjadi plasenta. Untuk membuat akar tersebut menjadi plasenta, maka harus ada nutrisi dan makanan yang cukup. Saat makanan yang dikonsumsi ibu tidak mengandung nutrisi yang dibutuhkan dalam perkembangan tersebut, plasenta akan terganggu dan hal ini yang menyebabkan preeklampsia terjadi.

Tidak hanya itu, tekanan darah yang meningkat dapat menyebabkan gangguan pada ginjal ibu, karena itu ibu yang mengalami preeklampsia juga mengalami proteinuria, yaitu kondisi di mana ginjal tidak bisa menyaring protein dengan baik sehingga menyebabkan protein ada di dalam urin.

Siapa saja yang berisiko mengalami preeklampsia?

Berbagai faktor risiko dapat menyebabkan preeklampsia terjadi pada ibu hamil, yaitu:

  • Ibu memiliki riwayat atau masalah kesehatan lain seperti, diabetes mellitus, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, lupus, atau sindrom antifosfolipid.
  • Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya. Sebanyak 16%  ibu yang pernah mengalami preeklampsia, pada kehamilan berikutnya mengalami preeklampsia kembali.
  • Hamil pada usia di atas 35 tahun atau bahkan kurang dari 18 tahun
  • Ibu yang hamil untuk pertama kalinya
  • Ibu hamil yang mengalami obesitas
  • Ibu hamil yang mengandung bayi kembar
  • Ibu yang memiliki jeda kehamilan 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

Selain itu, faktor risiko lain yang bisa menyebabkan preeklamsia adalah faktor genetik, diet, gangguan pada pembuluh darah, dan gangguan autoimun.

Gejala dan tanda preeklampsia

Ibu yang mengalami preeklampsia, biasanya akan mengalami gejala dan tanda sebagai berikut:

  • Tiba-tiba mengalami pembengkakan pada muka, kaki, tangan, dan mata
  • Tekanan darah menjadi sangat tinggi, yaitu lebih dari 140/90mmHg
  • Terjadi peningkatan berat badan dalam 1 atau 2 hari
  • Nyeri pada perut bagian atas
  • Nyeri kepala yang sangat parah
  • Timbul rasa mual dan muntah
  • Penglihatan kabur
  • Penurunan frekuensi dan jumlah urin
  • Terdapat protein pada urin (hal ini diketahui setelah melakukan pemeriksaan urin)

Namun terkadang ibu hamil yang tidak mengalami preeklampsia juga mengalami tanda serta gejala tersebut, oleh karena itu penting untuk memeriksakan diri ke dokter saat hamil

Apa dampak preeklampsia?

Preeklampsia dapat menyebabkan plasenta tidak mendapatkan aliran darah yang cukup yang seharusnya didistribusikan ke janin. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah pada pertumbuhan dan perkembangan janin, karena janin tidak mendapatkan cukup makanan dari ibu. Masalah yang sering muncul pada janin akibat ibu mengalami preeklampsia adalah berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. Hal ini bahkan dapat mengakibatkan masalah pertumbuhan saat anak sudah lahir, seperti gangguan fungsi kognitif, masalah penglihatan dan pendengaran pada anak.

Kondisi preeklampsia juga menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan ibu, yaitu:

  • Stroke
  • Paru-paru basah
  • Gagal jantung
  • Kebutaan
  • Perdarahan pada hati
  • Perdarahan yang serius ketika melahirkan
  • Preeklampsia juga mengakibatkan plasenta tiba-tiba terputus dari ibu dan janin, sehingga menyebabkan kelahiran mati.

Lalu apakah preeklamsia dapat diobati?

Satu-satunya pengobatan atau penanganan terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan melahirkan bayi yang dikandung. Oleh karena itu, sebaiknya diskusikan hal ini dengan dokter. Jika bayi telah cukup baik kondisinya untuk dilahirkan (biasanya usia lebih dari 37 minggu) maka mungkin dokter akan menyarankan untuk melakukan operasi sesar atau melakukan induksi. Hal ini dapat mencegah preeklamsia semakin memburuk. Namun jika bayi dinyatakan tidak siap untuk dilahirkan, maka dokter akan memberikan terapi untuk mengurangi risiko preeklampsia bertambah parah.

Jika preeklampsia yang dialami oleh ibu hamil tidak terlalu parah, maka berikut rekomendasi yang dapat dilakukan untuk mencegah preeklamsia semakin buruk:

  • Bed rest atau istirahat total, hal ini bisa dilakukan di rumah ataupun di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter
  • Mengonsumsi lebih banyak air mineral
  • Mengurangi konsumsi garam

BACA JUGA

Sumber
Pantau Perkembangan Janin Anda Dapatkan update mingguan di email Anda
untuk memantau perkembangan janin dalam kandungan.
Error message goes here
Pantau Bayi Saya
Tak tahu kapan akan melahirkan? Hitung di sini! *Dengan mendaftar, saya setuju dengan Syarat & Ketentuan Hello Sehat.
Anda hamil [num] minggu! Kami siap memandu Anda dalam perjalanan sebagai orangtua. Email pertama untuk Anda akan segera dikirim. Silakan klik tautan yang sudah kami kirim ke email Anda sebagai konfirmasi bahwa alamat email Anda sudah benar.
Sebelum mulai, silakan baca ini dulu:
Kapan hari pertama menstruasi terakhir Anda?
Hitung!
Error message goes here
Anda hamil [num] minggu! Perkiraan Melahirkan: [num] Dapatkan info setiap hari, sesuai dengan kebutuhan pribadi Anda dan bayi.
Error message goes here
Pantau sekarang!
Hitung ulang!
Yang juga perlu Anda baca