home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Waspada, Stress Saat Hamil Mempengaruhi Kesehatan Kandungan

Waspada, Stress Saat Hamil Mempengaruhi Kesehatan Kandungan

Stress adalah hal yang lumrah terjadi pada setiap orang, termasuk ibu hamil. Namun bagaimana jika stress yang dialami oleh ibu hamil malah membahayakan janin yang dikandungnya?

Stress merupakan penyakit yang ‘diam-diam’. Disebut demikian karena tidak banyak yang tahu jika stress dapat menyebabkan berbagai hal buruk bagi tubuh, termasuk pada perkembangan janin. Stress pada ibu hamil, tidak hanya meningkatkan risiko kelahiran prematur, namun juga berpengaruh pada kesehatan anak setelah dilahirkan.

Ahli ginekologi mengatakan bahwa bayi yang dilahirkan merupakan ‘cetakan’ dari gen dan DNA orangtuanya. Oleh karena itu stress yang dialami ibu, dapat menyebabkan ‘sindrom stress’ juga pada janin yang dikandungnya. Ketika ibu hamil mengalami stress, maka berbagai fungsi fisiologis tubuhnya akan berubah, termasuk perubahan kadar hormon. Berbagai perubahan fisioligis inilah yang mempengaruhi kesehatan janin. Lalu apa saja dampak dari ibu hamil yang mengalami stress?

1. Kelahiran prematur

Ketika tubuh merasa tertekan dan stress, tubuh dengan otomatis akan mengeluarkan hormon stress, yaitu kortisol. Kortisol juga akan meningkat ketika ibu hamil mengalami stress. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, perubahan fungsi tubuh ibu akan mempengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang janin. Begitu pun ketika kortisol dalam tubuh ibu meningkat. Peningkatan kortisol akan memicu keluarnya hormon lain dalam tubuh, yaitu hormon corticotropin-releasing (CRH). Hormon tersebut mempunyai tanggung jawab untuk mengatur durasi kehamilan dan pematangan janin. Biasanya, hormon CRH dikeluarkan oleh tubuh ketika janin sudah ‘matang’ dan sudah siap untuk dilahirkan. Sedangkan pada ibu hamil yang stress, akibat kadar kortisol tinggi, hormon CRH pun dikeluarkan oleh tubuh sehingga tubuh mengartikan bahwa janin telah siap untuk dilahirkan dan hal inilah yang menyebabkan potensi kelahiran prematur pada ibu hamil yang stress.

2. Perkembangan dan pertumbuhan janin terhambat

Kecemasan dan stress yang dialami oleh ibu hamil memicu timbulnya hormon epinefrin dan norepineprine yang bertugas dalam mengatur mood. Pelepasan hormon tersebut berdampak buruk bagi janin karena dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah sehingga oksigen dan asupan tidak sampai dengan baik ke janin. Hal ini menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu dan tidak maksimal.

3. Infeksi pada janin

Tubuh yang stress akan merangsang munculnya hormon kortisol. Jika hormon ini meningkat dan tidak dapat dikontrol tubuh, maka akan mempengaruhi sistem imunitas ibu. Sebuah penelitian menyatakan bahwa ibu hamil yang mengalami stress dan kadar kortisolnya tidak normal dalam tubuh, mudah terkena bacterial vaginosis. Bakteri ini juga dapat menginfeksi janin. Kortisol juga memainkan peran untuk mengontrol sistem kekebalan tubuh, saat kortisol yang ada di dalam tubuh terlalu banyak atau sedikit, hal ini membuat tubuh sangat mudah terkena penyakit infeksi. Ibu hamil jadi rentan terkena berbagai penyakit infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya terganggu dan tentu saja akan mengganggu kesehatan janin yang sedang dikandungnya. Infeksi yang terjadi pada janin, menyebabkan risiko kelahiran prematur. Selain itu, diketahui bahwa kadar kortisol yang abnormal dapat mempengaruhi perkembangan otak dan paru-paru pada anak.

4. Berat badan lahir rendah

Stress sangat erat hubungannya dengan tekanan darah tinggi. Pada ibu hamil pun, jika mengalami stress bukan tidak mungkin ia mengalami hipertensi. Sebuah penelitian yang melibatkan sebanyak 10ribu ibu hamil yang dilakukan oleh Avon Longitudinal Study of Parents and Children menunjukkan bahwa ibu yang sedang mengandung dan mengalami depresi, sebagian besar melahirkan anak dengan berat badan lahir rendah. Anak yang berat badan lahirnya rendah berisiko memiliki fungsi kognitif kurang, perkembangan otak dan mental lambat, serta berisiko mengalami penyakit degeneratif seperti diabetes melitus dan penyakit jantung koroner ketika dewasa.

5. Mempengaruhi makanan untuk janin

Orang yang mengalami stress, cenderung memiliki pola makan dan pola hidup yang tidak sehat. Bisa saja ketika ia stress, ia jadi kurang makan atau malah kelebihan makan, namun kelebihan makan makanan yang tinggi gula, tinggi lemak dan tinggi protein. Tentu saja, makanan yang ibu makan ketika hamil akan mempengaruhi kesehatan janin. Selain itu, konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak saat hamil mengakibatkan ibu mengalami overweight. Ibu yang mengalami overweight saat hamil berisiko melahirkan bayi dengan ukuran besar. Hal ini akan membuat anak tersebut sangat berisiko mengalami overweight dan obesitas ketika remaja dan mengalami berbagai penyakit degeneratif saat dewasa.

health-tool-icon

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir-Hello Sehat

Gunakan kalkulator ini untuk menghitung hari perkiraan lahir (HPL) Anda. Ini hanyalah prediksi, bukan sebuah jaminan pasti. Pada umumnya, hari melahirkan sebenarnya akan maju atau mundur seminggu dari HPL.

Durasi siklus haid

28 hari

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Evans, Jonathan., et al. (2007). Depressive symptoms during pregnancy and low birth weight at term. British Journal of Psychiatry. Vol.191. pp.84-85

Vianna, P., Bauer, M., Dornfeld, D. and Chies, J. (2011). Distress conditions during pregnancy may lead to pre-eclampsia by increasing cortisol levels and altering lymphocyte sensitivity to glucocorticoids. Medical Hypotheses, 77(2), pp.188-191.

Wadhwa, P., Entringer, S., Buss, C. and Lu, M. (2011). The Contribution of Maternal Stress to Preterm Birth: Issues and Considerations. Clinics in Perinatology, 38(3), pp.351-384.

http://www.webmd.com/baby/features/stress-marks#1

http://www.webmd.com/baby/features/fetal-stress#1

 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M Diperbarui 23/06/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x