home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hiperemesis Gravidarum

Apa itu hiperemesis gravidarum?|Gejala hiperemesis gravidarum|Penyebab hiperemesis gravidarum|Faktor risiko hiperemesis gravidarum|Apa dampak hiperemesis gravidarum pada ibu dan janin?|Diagnosis hiperemesis gravidarum|Bagaimana cara mengobati hiperemesis gravidarum?|Pengobatan di rumah untuk hiperemesis gravidarum
Hiperemesis Gravidarum

Apa itu hiperemesis gravidarum?

Hiperemesis gravidarum (HG) adalah komplikasi di trimester pertama kehamilan yang menyebabkan mual dan muntah amat parah daripada morning sickness biasa.

Mual terjadi lebih sering sehingga membuat tidak nafsu makan, volume muntahannya sangat banyak, frekuensi muntahnya sering, dan sampai melemahkan.

Morning sickness biasa umumnya dimulai sekitar minggu ke-6 kehamilan dan berhenti pada minggu 14-16.

Namun, mual dan muntah parah yang mungkin pertanda hiperemesis gravidarum jika sampai berlanjut ke minggu 20 kehamilan. Beberapa ibu mungkin terus mengalaminya sepanjang kehamilan.

Kondisi ini dapat terjadi pada semua kehamilan, tapi kemungkinannya lebih besar jika sedang hamil bayi kembar atau jika Anda hamil anggur.

HG bisa menyebabkan dehidrasi, penurunan berat badan drastis, kekurangan gizi, ketidakseimbangan elektrolit, dan gangguan metabolisme.

Ibu hamil yang mengalami kondisi ini harus dirawat di rumah sakit. Komplikasi hiperemesis gravidarum adalah hal serius dan terkait dengan ginjal, sistem saraf, dan kerusakan hati.

Seberapa umumkah hiperemesis gravidarum?

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi yang jarang terjadi. Dari sekitar 70-85 persen ibu hamil yang mengalami morning sickness, hanya sekitar 1-2 persen yang akan mengalami hiperemesis gravidarum.

Sekitar 75-85 persen wanita yang mengalami pernah morning sickness pada kehamilan pertama akan mengalaminya kembali di kehamilan kedua.

Gejala hiperemesis gravidarum

Gejala kondisi ini dimulai antara minggu ke-4 sampai ke-8 dan terus berlangsung selama 16 minggu atau lebih.

Gejala hiperemesis gravidarum umumnya memuncak di minggu ke-20 kehamilan.

Dikutip dari American Pregnancy, gejala hiperemesis gravidarum adalah:

  • Mual parah
  • Penurunan berat badan
  • Buang air kecil sedikit
  • Sakit kepala
  • Kebingungan
  • Pingsan
  • Penyakit kuning (jaundice)

Sebagian besar wanita yang mengalami kondisi ini sering mengalami muntah sepanjang hari.

Saat tubuh mulai dehidrasi, urine biasanya mengandung keton. Keton adalah asam yang dibuat ketika tubuh Anda mulai menggunakan lemak untuk energi.

Tanda lainnya yaitu tubuh mengalami peningkatan denyut nadi dan tekanan darah rendah.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Anda harus menghubungi dokter kandungan segera ketika mengalami berbagai gejala yang telah disebutkan.

Tubuh masing-­masing orang berbeda. Untuk itu, selalu periksakan kandungan untuk memantau kondisi kesehatan Anda dan janin secara berkala.

Penyebab hiperemesis gravidarum

Penyebab kondisi mual parah ini tidak diketahui. Beberapa ahli percaya hal ini terkait dengan perubahan hormon tubuh yang terjadi selama kehamilan.

Adanya peningkatan level hCG terutama pada 8 minggu usia kehamilan disebut-sebut sebagai faktor yang dapat meningkatkan risiko mual muntah parah saat hamil (hiperemesis gravidarum)

Kadar hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dalam darah yang meningkat pesat ini dilepaskan oleh plasenta.

Selain itu, peningkatan estrogen dan progesteron (terutama saat trimester pertama kehamilan) dapat menyebabkan penurunan kerja otot lambung dan membuat Anda gampang memuntahkan isi perut.

Beberapa penyebab lainnya yang diduga dapat menyebabkan kondisi mual dan muntah parah saat hamil, yaitu:

  • Stres saat hamil
  • Infeksi Helicobacter pylori (H. pylori)
  • Korpus luteum (massa dari folikel yang matang) terletak di ovarium kanan karena konsentrasi hormon steroidnya lebih tinggi.
  • Genetika. Jika ibu Anda dulu mengalami hiperegemesis gravidarum, Anda juga berisiko mengalami hal yang sama
  • Hamil setelah berusia 30 tahun
  • Mengalami hamil anggur
  • Mengalami hipertiroidisme atau hipotiroidisme
  • Mengalami kondisi seperti tekanan darah tinggi, migrain aktif, dan diabetes gestasional
  • Ibu hamil yang kegemukan

Selain berbagai faktor di atas, hamil kembar dua atau lebih menjadi salah satu penyebab umum.

Jika Anda mengandung banyak janin, plasenta tumbuh lebih besar.

Hal ini membuat tubuh mengalami peningkatan kadar hormon estrogen, progesteron, dan hCG yang menyebabkan muntah atau mual berlebihan di pagi hari.

Faktor risiko hiperemesis gravidarum

Ada beberapa kondisi yang meningkatkan risiko mengalami muntah hebat saat hamil, yaitu:

  • Hamil di usia yang sangat muda
  • Kelebihan berat badan (obesitas)
  • Kehamilan pertama
  • Memiliki riwayat hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya
  • Faktor biologis, psikologis, dan sosial

Faktor-faktor risiko di atas hanya untuk referensi. Anda harus berkonsultasi dengan dokter kandungan untuk lebih jelasnya.

Apa saja bahaya dari hiperemesis gravidarum?

Kondisi muntah dan mual parah ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada ibu, seperti ketidakseimbangan elektrolit, dehidrasi, defisiensi vitamin B6 dan B12 yang dapat menimbulkan gangguan saraf tepi (saraf kejepit).

Berita baiknya, hiperemesis gravidarum sekalipun kemungkinan besar tidak akan membahayakan bayi Anda jika cepat ditangani.

Namun, jika sampai menyebabkan Anda dehidrasi dan atau kehilangan berat badan, ada peningkatan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah) bahkan kematian bayi dalam kandungan.

Tumbuh kembang bayi terhambat adalah salah satu akibat dari hipermesis gravidarum yang tidak ditangani dengan tepat.

Itulah mengapa kondisi ini sangat memerlukan pengawasan dokter karena bisa menyebabkan dehidrasi pada ibu hamil yang menghambat tumbuh kembang janin.

Apa dampak hiperemesis gravidarum pada ibu dan janin?

Kondisi mual dan muntah parah ini dapat menyebabkan masalah bagi ibu dan bayi, seperti:

  • Berat badan ibu hamil turun drastis.
  • Ginjal ibu tidak berfungsi dengan baik, di mana ini menyebabkan ibu buang air kecil lebih sedikit dari seharusnya.
  • Kadar mineral dalam tubuh tidak seimbang sehingga dapat menyebabkan pusing, lemah, dan perubahan tekanan darah.
  • Otot-otot jadi lemah karena kekurangan nutrisi.
  • Tubuh akan mengeluarkan air liur lebih banyak saat hamil, jika ditelan bisa membuat kondisi mual lebih buruk.

Wanita dengan hiperemesis gravidarum pada masa awal kehamilan tidak berisiko lebih tinggi mengalami keguguran.

Namun, ibu hamil dapat berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi, yaitu:

  • Dehidrasi
  • Takikardia (denyut jantung cepat yang tidak normal)
  • Cairan ketuban sedikit
  • Bayi lahir prematur

Dalam kasus ibu tidak menerima perawatan medis, dehidrasi berpotensi mematikan.

Wanita hamil yang tidak bisa makan atau menerima nutrisi untuk jangka waktu yang lama, berisiko kehilangan kekuatan otot tulang ketika mengalami hiperemesis gravidarum.

Apa dampak kondisi ini pada janin?

Hiperemesis gravidarum adalah kondisi muntah parah yang memiliki dampak pada janin, seperti:

1. Lahir prematur

Menurut penelitian yang dipresentasikan dalam Society for Maternal-Fetal Medicine di Dallas tahun 2012, hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan bayi lahir prematur.

Penelitian ini menemukan fakta yaitu, dari 81 ribu ibu hamil yang mengalami mual dan muntah parah, sekitar 23 persennya melahirkan sebelum usia kehamilan mencapai 34 minggu.

Tidak ditemukan penyebab pastinya. Namun, asupan gizi ibu hamil yang buruk dan berat badan yang tidak bertambah akibat kondisi ini dapat menjadi penyebab bayi lahir prematur.

2. Masalah psikologis

Anak-anak yang lahir dari ibu dengan hiperemesis gravidarum diduga 3,5 kali lebih mungkin memiliki gangguan emosional atau perilaku.

Adapun berbagai masalah ini antara lain seperti kecemasan, depresi, atau gangguan bipolar ketika mereka tumbuh dewasa.

Ini berlaku jika dibandingkan dengan anak yang ibunya sewaktu hamil tidak memiliki masalah kesehatan apa pun, termasuk hiperemesis gravidarum.

Para ibu dalam penelitian ini dilaporkan telah kehilangan sekitar 5 persen berat badan saat mengalami kondisi mual parah.

Masalah mental selama kehamilan serta kekurangan gizi, dapat memengaruhi otak janin saat ia berkembang.

Alhasil, beberapa anak-anak dengan kondisi ibu hiperemesis gravidarum yang mual dan muntah parah bisa mengalami gangguan kecemasan nantinya.

Diagnosis hiperemesis gravidarum

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti saran medis. SELALU berkonsultasi dengan dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Untuk menentukan apakah ibu hamil mengidap hiperemesis gravidarum atau tidak, dokter umumnya akan memeriksa gejala dan kondisi fisik.

Dokter akan membuat diagnosis ketika mual dan muntah menyebabkan penurunan berat badan, dehidrasi, atau gangguan dalam tubuh.

Untuk memastikan bahwa tidak ada lagi yang menyebabkan gejala-gejala hiperemesis gravidarum, dokter mungkin melakukan tes darah dan tes urine. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) juga dapat dilakukan.

Bagaimana cara mengobati hiperemesis gravidarum?

Jenis obat untuk kondisi ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum umumnya tergantung pada seberapa parah kondisinya.

Berikut beberapa perawatannya:

  • Memasukkan kebutuhan nutrisi dan lewat infus
  • Minum obat dengan resep dokter (Promethazine, Meclizine, dan Droperidol)
  • Menggunakan nutrisi parenteral total (makanan diberikan lewat infus)
  • Minum obat antihistamin
  • Obat untuk mengendalikan muntah, seperti metoclopramide (Reglan)

Pemberian makanan untuk ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum berfungsi untuk memenuhi gizi ibu hamil.

Hal ini sekaligus mengganti cairan dan memperbaiki kadar elektrolit yang tidak seimbang dalam tubuh.

Pengobatan di rumah untuk hiperemesis gravidarum

Untuk mengatasi mual dan muntah karena hiperemesis gravidarum, ada beberapa perawatan yang bisa dilakukan, seperti:

Hindari membiarkan perut kosong terlalu lama

Untuk mengatasi mual dan muntah hebat, ada beberapa ide yang bisa dicoba, seperti:

  • Makan makanan kecil atau camilan setiap 2 jam daripada 3 kali makan besar setiap hari.
  • Makanlah kudapan kecil sebelum waktu tidur di malam hari.
  • Coba kunyah dan telan makanan Anda dengan sangat lambat.
  • Minum air di sela-sela waktu makan. Cobalah minum 8 gelas setiap hari.
  • Jus buah seperti lemon atau jeruk murni dapat membantu mencegah mual ibu hamil

Dengan mengonsumsi camilan setiap dua jam, Anda dapat mencegah mual karena tidak akan pernah lapar.

Akupunktur

Akupuntur dapat membantu meningkatkan keseimbangan yang ada dalam tubuh karena hiperemesis gravidarum.

Jarum akupuntur yang ditusukkan ke beberapa titik saraf dapat memicu pelepasan beberapa senyawa kimia otak, seperti endorfin.

Hal ini kemudian dapat membantu meringankan gejala-gejala yang membuat ibu hamil tidak nyaman.

Akupunktur yang dilakukan selama 30 menit untuk 3 kali dalam sehari dilaporkan dapat menurunkan frekuensi mual muntah saat hamil akibat hiperemesis gravidarum.

Akupuntur saat hamil aman dilakukan. Namun ingat, hanya dengan ahli akupuntur yang sudah bersertifikat dan sudah biasa menangani ibu hamil.

Perhatikan makanan yang dikonsumsi

Ada beberapa makanan yang perlu dihindari saat mual dan muntah, seperti:

  • Makanan apapun yang digoreng
  • Krim keju
  • Mentega dan margarin
  • Mayones
  • Keripik kentang dan keripik jagung
  • Sosis atau daging olahan lainnya
  • Kacang-kacangan
  • Susu cokelat
  • Es krim

Makanan di atas bisa memicu mual dan bisa membuat muntah hebat.

Konsumsi makanan yang tinggi karbohidrat

Menurut Journal Obstetric & Gynecology, ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum harus mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat dan kaya protein dibandingkan mengonsumsi lemak atau asam lemak.

Makanan tinggi karbohidrat yang bisa jadi pilihan seperti:

  • Pasta
  • Roti
  • Beras
  • Biskuit
  • Sereal

Makan dengan porsi sedikit tapi sering, misalnya satu atau dua jam sekali.

Penuhi kebutuhan vitamin B6

Untuk mengatasi mual parah saat hamil, bisa diatasi dengan memenuhi kebutuhan vitamin B6.

Ketika dicerna, vitamin B6 mampu mengubah makanan jadi energi, membawa oksigen ke seluruh tubuh, dan membentuk hemoglobin.

Makanan tinggi vitamin B6 yaitu seperti:

  • Beras merah
  • Gandum
  • Ikan
  • Daging ayam atau bebek
  • Sayuran yang berwarna hijau

Jika Anda ingin mengonsumsi vitamin B6 dari suplemen atau multivitamin, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Ferri, Fred. Ferri’s Netter Patient Advisor. Philadelphia, PA: Saunders / Elsevier, 2012. Download version.
Porter, R. S., Kaplan, J. L., Homeier, B. P., & Albert, R. K. (2009). The Merck manual home health handbook. Whitehouse Station, NJ, Merck Research Laboratories. Print edition. Page 1645

Hyperemesis Gravidarum: Signs, Symptoms and Treatment. (2012). Retrieved 13 August 2020, from https://americanpregnancy.org/pregnancy-complications/hyperemesis-gravidarum/

Hyperemesis Gravidarum (Severe Nausea & Vomiting During Pregnancy) Prevention | Cleveland Clinic. (2020). Retrieved 13 August 2020, from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12232-hyperemesis-gravidarum-severe-nausea–vomiting-during-pregnancy/prevention

gravidarum, H. (2020). Hyperemesis gravidarum: MedlinePlus Medical Encyclopedia. Retrieved 13 August 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/001499.htm

Sivalingam, Loh K. Y. Understanding Hyperemesis Gravidarum. Med J Malaysia. 2005(60); 394-399

Wegrzyniak, Repke J, Ural S. Treatment of Hyperemesis Gravidarum. Reviews in Obstetrics & Gynecology. 2012 (5); 78-83

Shehmar, et al. The Management of Nausea and Vomiting of Pregnancy and Hyperemesis Gravidarum. 2016 (69); 2-27

Lindsey J Wegrzyniak, S. (2012). Treatment of Hyperemesis Gravidarum. Reviews In Obstetrics And Gynecology5(2), 78. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3410506/

MacGibbon, R.N., K. (2020). Hyperemesis Gravidarum Survival Guide. Retrieved 13 August 2020, from https://helpher.org/downloads/survival-guide.pdf

Hyperemesis Gravidarum (HG). (2020). Retrieved 13 August 2020, from https://www.healthwise.net/osumychart/Content/StdDocument.aspx?DOCHWID=custom.22_668

The Differences Between Morning Sickness and Hyperemesis Gravidarum | HER Foundation. (2013). Retrieved 13 August 2020, from https://www.hyperemesis.org/hg-awareness/the-differences-between-morning-sickness-and-hyperemesis-gravidarum/


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Tanggal diperbarui 03/01/2021
x