home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Apa yang Terjadi Pada Janin Saat Ibu Hamil Menangis?

Apa yang Terjadi Pada Janin Saat Ibu Hamil Menangis?

Setiap orang tentu mendambakan kehamilan yang lancar dan penuh kebahagiaan. Akan tetapi, akibat perubahan hormon dan berbagai tekanan psikologis yang dihadapi, pada satu titik ibu hamil bisa bersedih juga. Lalu apa yang akan terjadi kalau ibu hamil menangis? Benarkah janin dalam kandungan bisa merasakan kesedihan ibunya? Cari tahu jawaban ilmiahnya di bawah ini.

Dampak ibu hamil menangis pada bayi dalam kandungan

Makanan yang ibu makan ketika hamil bisa langsung berpengaruh terhadap janin. Mengapa begitu? Zat gizi yang ibu dapatkan ketika makan akan disalurkan kepada janin melalui tali pusar.

Lantas apakah emosi ibu juga berpengaruh pada keadaan janin? Sebuah penelitian dari Association for Psychological Science menemukan bahwa janin yang berumur enam bulan bisa merasakan dampak dari emosi yang dirasakan ibu saat hamil.

Menangis adalah bentuk luapan emosi. Aktivitas ini dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Misalnya terharu saat bahagia hingga sedih saat stres datang. Dengan kata lain, menangis adalah hal yang biasa terjadi pada siapa pun dan bisa saja terjadi pada ibu hamil.

Para ahli berpendapat bahwa stres yang terjadi sekali dua kali adalah normal terjadi dan tidak akan memiliki efek pada janin yang dikandungnya. Namun, emosi yang terjadi berkali-kali, terus menerus, dan berkepanjangan ternyata bisa berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Pasalnya, bila ibu hamil menangis terus-menerus, Anda bisa saja mengalami stres berat, gejala kecemasan, hingga depresi.

Ketika ibu hamil stres, tubuh akan menghasilkan hormon stres. Hormon inilah yang akan ikut mengalir pula pada janin dalam kandungan melalui plasenta. Semakin sering stres, semakin banyak pula hormon stres yang dihasilkan dan semakin banyak pula hormon yang akan dialirkan kepada janin.

Janin yang terus menerus mendapatkan hormon stres bisa lantas mengalami stres kronis. Padahal, perkembangan di dalam rahim adalah masa yang sangat penting karena perkembangan sistem saraf terjadi. Hormon yang tidak seimbang bisa mengggangu proses perkembangan ini.

Selain berdampak secara langsung karena hormon stres yang dialirkan pada bayi melalui tali pusar, ibu hamil yang mengalami depresi juga dapat memengaruhi janin secara tidak langsung. Dalam Baby Center, dikatakan bahwa ibu yang mengalami depresi akan mengalami berbagai macam gejala yang cukup berisiko bagi kesehatan bayi dan kandungan. Misalnya ibu sulit tidur, nafsu makan menurun, susah konsentrasi, dan merasa lemas seperti kehabisan energi.

hepatitis saat hamil

Apakah gejolak emosi ibu hamil berdampak besar pada bayi sampai ia lahir dan tumbuh besar?

Sebuah penelitian dari University of California-Irvine dan Association for Psychological Science menjelaskan kemungkinan dampaknya bila ibu menangis saat hamil. Dalam jangka panjang, bayi yang dilahirkan oleh ibu yang ketika hamil sering menangis akibat depresi bisa mengalami masalah pada sarafnya, hingga kelainan psikis.

Selain itu, anak-anak yang lahir dari ibu yang sering merasa cemas ketika hamil juga akan memiliki perbedaan struktur pada otaknya. Namun, penelitian ini masih harus dilanjutkan untuk melihat efek jangka panjang dari perbedaan struktur otak tersebut.

Riset lain dalam Clinical Obstetrics Gynecology menunjukkan bahwa stres yang berkepanjangan saat hamil juga dapat meningkatkan risiko autisme, depresi, dan gangguan kognitif anak.

Jadi bolehkah ibu hamil menangis?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, luapan emosional seperti menangis saat hamil jika cuma satu atau dua kali adalah hal yang wajar terjadi.

Yang perlu diperhatikan adalah emosi negatif seperti stres dan depresi yang berkepanjangan. Jika Anda atau istri Anda mengalami ini, segera konsultasikan ke dokter. Cara lain untuk melampiaskan emosi selain menangis adalah dengan melakukan berbagai aktivitas positif, misalnya berolahraga. Anda bisa coba ikut senam hamil, berenang, atau yoga ketika sedang galau.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Kinsella, MT dan Monk, C. 2013. Impact of maternal stress, depression and anxiety on fetal neurobehavioral development. Dilihat di https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3710585/. Diakses pada 6 Oktober 2017.

Association for Psychological Science. Tanpa tahun. Change in mother’s mental state can influence her baby’s development before and after birth. Psychological Science. Dilihat di http://www.psychologicalscience.org/news/releases/a-fetus-can-sense-moms-psychological-state.html#.WCOfLeErJAY. Diakses pada 6 Oktober 2017.

Lovel, A. Tanpa tahun. This is what your baby really feels when you cry during pregnancy. Family Share. Dilihat di https://familyshare.com/26437/this-is-what-your-baby-really-feels-when-you-cry-during-pregnancy. Diakses pada 6 Oktober 2017.

Muzik, M. Can my depression harm the baby while I’m pregnant? Baby Center. Dilihat di https://www.babycenter.com/404_can-my-depression-harm-the-baby-while-im-pregnant_1246872.bc. Diakses pada 6 Oktober 2017.


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Fauzan Budi Prasetya
Tanggal diperbarui 10/10/2017
x