15 Mitos Penyakit Kanker yang Perlu Diketahui Faktanya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 September 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Penyakit tumor ganas atau penyakit kanker dapat membahayakan jiwa sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi Anda dan keluarga. Ada beragam informasi yang beredar seputar penyakit ini, mulai dari media cetak, elektronik, internet, hingga orang di sekitar Anda. Sayangnya, informasi yang tersebar tentang penyakit kanker tidak semuanya adalah fakta, ada pula yang berupa mitos. Yuk, ulik lebih dalam ulasannya berikut ini.

Ketahui fakta dibalik mitos mengenai penyakit kanker

Mengetahui fakta maupun mitos seputar penyakit tumor ganas sangatlah penting. Bukan sekadar menambah wawasan, tapi juga menjadi salah satu cara untuk mencegah maupun mendeteksi penyakit lebih dini.

Berikut ini beberapa mitos seputar penyakit tumor ganas yang beredar dan perlu Anda ketahui kebenarannya.

1. Mitos: Biopsi membuat sel kanker menyebar

Biopsi adalah salah satu tes kesehatan yang digunakan untuk mendeteksi penyakit kanker. Saat tes ini berlangsung, kadang dokter bedah juga melakukan operasi sekaligus dan ini disebut dengan operasi biopsi. Banyak yang mengira saat operasi dilakukan, sel kanker dapat menyebar ke jaringan atau organ sehat lainnya.

Fakta dari mitos ini adalah kemungkinan penyebaran sel kanker ke jaringan atau organ sehat lain sangat kecil. National Cancer Institute memaparkan bahwa ahli bedah melakukan biopsi menggunakan metode dan langkah yang sesuai dengan standar medis.

Contohnya, saat sel kanker atau tumor ganas diangkat, ahli bedah menggunakan alat bedah yang berbeda untuk setiap area. Itulah sebabnya, risiko penyebaran sel kanker sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi.

2. Mitos: Minum susu bisa menyebabkan kanker

Mengetahui penyebab kanker memungkinkan seseorang untuk mencegah dan menurunkan risikonya. Hal inilah yang sekarang ini dilakukan oleh periset, yakni mengamati berbagai hal di kehidupan sehari-hari yang mungkin meningkatkan risiko atau menjadi penyebab penyakit kanker.

Minum susu dalam jumlah banyak sempat diduga meningkatkan risiko penyakit kanker prostat. Alasannya, karena dugaan kandungan kasein (protein susu) dan hormon bovine somatotrophin (BST) dalam susu yang dapat memicu sel-sel jadi abnormal dan menjadi kanker.

Namun, Cancer Research UK mengungkapkan fakta dari mitos kanker tersebut bahwa tidak ada bukti kuat jika susu dapat menyebabkan kanker pada manusia. Terlebih karena susu mengandung kalsium dan protein hewani yang baik untuk tubuh. Bahkan, penderita kanker tetap boleh minum susu agar asupan protein, kalisum, dan vitamin D-nya tercukupi.

3. Mitos: Penyakit kanker itu menular

Kekhawatiran penyakit kanker, mungkin membuat mitos yang menyebar dalam masyarakat bahwa kanker bisa menular. Padahal, fakta dari informasi kanker ini tidak sepenuhnya benar.

Penyakit kanker bukan penyakit yang menular dengan mudah dari orang ke orang. Satu-satunya cara sel kanker dapat menyebar dari penderita ke orang yang sehat adalah melalui transplantasi organ atau jaringan.

Berdasarkan laporan American Cancer Society, penyebaran kanker dengan cara ini sangat rendah, yakni 2 kasus dari 10.000 transplantasi organ.

4. Mitos: Radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker

Banyak mitos yang beredar mengenai penyebab penyakit tumor, salah satunya adalah radiasi ponsel. Alasannya karena ponsel memancarkan energi radiofrekuensi yang merupakan bentuk radiasi non-pengion, dan jaringan tubuh terdekat bisa menyerap energi ini.

Namun, fakta dari informasi kanker ini belum bisa dibuktikan secara akurat oleh penelitian. Energi radiofrekuensi dari ponsel tidak menyebabkan kerusakan DNA yang bisa berakibat pada kanker.

National Institute of Environmental Health Sciences (NIEHS) menjalankan penelitian berskala besar pada hewan pengerat yang terpapar energi radiofrekuensi (jenis yang digunakan di ponsel). Penyelidikan ini dijalankan di laboratorium yang sangat khusus yang dapat menentukan dan mengendalikan sumber radiasi dan menilai pengaruhnya.

Hal yang dipelajari oleh para peneliti mengenai ponsel dan kanker:

  • Mengikuti lebih dari 420.000 pengguna ponsel, para peneliti tidak menemukan bukti kaitan antara ponsel dengan tumor otak.
  • Sebuah penelitian menemukan kaitan antara ponsel dengan kanker kelenjar ludah, tetapi hanya sejumlah kecil partisipan yang mengalaminya.

Setelah menilai beberapa penelitian dengan fokus kemungkinan kaitan antara ponsel dengan glioma dan tumor otak non-kanker yang disebut neuroma, para anggota International Agency for Research on Cancer (bagian dari Organisasi Kesehatan Dunia WHO) setuju bahwa hanya ada bukti terbatas yang menunjukkan bahwa radiasi ponsel merupakan agen penyebab kanker (karsinogenik).

5. Mitos: Pemanis buatan dapat menyebabkan kanker

Makan manis yang Anda konsumsi bisa mengandung gula alami atau pemanis tambahan. Makanan yang ditambahkan pemanis ini memang jika dikonsumsi dalam jumlah banyak dapat menyebabkan masalah kesehatan. Namun, jenis makanan menjadi penyebab penyakit kanker termasuk mitos yang tidak tepat.

Ahli kesehatan telah melakukan penelitian mengenai keamanan pemanis buatan, seperti sakarin, siklamat, aspartam. Dari studi yang dilakukan tidak ditemukan bukti bahwa makanan manis dapat menyebabkan sel-sel dalam tubuh berubah menjadi abnormal.

Walaupun begitu, konsumsi makanan bergula harus dibatasi, terutama pada pasien kanker. Asupan gula berlebihan dapat menyebabkan berat badan naik tidak terkendali (obesitas). Kondisi ini ternyata bisa mengurangi efektivitas pengobatan kanker yang dijalani.

6. Mitos: Penyakit kanker tidak bisa diobati

Seseorang yang mendapat diagnosis penyakit kanker, tentu akan merasa sedih, stres, dan takut. Ini adalah hal yang normal mengingat penyakit kanker merupakan penyakit yang progresif (dapat memburuk seiring waktu tanpa pengobatan).

Namun, rasa takut dan sedih tersebut bisa muncul karena informasi kurang tepat mengenai penyakit kanker yang tidak bisa disembuhkan. Fakta sebenarnya adalah penyakit kanker dapat disembuhkan.

Pada kanker stadium 1 dan 2, sel kanker belum menyerang ke kelenjar getah bening terdekat sehingga tingkat kesembuhan penyakit cukup besar.

Sementara pada kanker stadium 3, sebagian pasien bisa sembuh dengan operasi pengangkatan sel atau jaringan kanker dan terapi. Sebagian lagi yang menjalani pengobatan mungkin bisa mengurangi keparahan dan gejalanya.

Pada kanker stadium 4 atau akhir, barulah dinyatakan tidak bisa disembuhkan karena sel kanker telah menyebar ke area lain yang letaknya berjauhan. Pada tahap ini, pengobatan bisa membantu mengendalikan gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

7. Mitos: Penyakit kanker bisa diobati secara alami

Penyakit kanker dapat sembuh jika diobati dengan tepat. Pilihan pengobatannya pun beragam, mulai dari operasi, kemoterapi, radioterapi, dan terapi lainnya. Tak hanya itu, peneliti terus mengembangkan pengobatan kanker hingga ke pengobatan herbal.

Namun, hingga kini tidak ada produk herbal yang terbukti efektif untuk mematikan sel-sel kanker dalam tubuh. Bahkan, beberapa obat herbal mungkin saja bisa mengurangi efektivitas perawatan dokter yang dilakukan, bahkan menimbulkan efek samping. Oleh karena itu, obat herbal tidak bisa dijadikan pengobatan utama untuk mengatasi penyakit kanker.

8. Mitos: Jika ada keluarga terkena kanker, Anda juga akan mengalaminya

Penyebab utama dari kanker adalah mutasi DNA dalam sel. DNA berisi serangkaian perintah untuk sel berfungsi secara normal. Ketika DNA mengalami mutasi, sistem perintah di dalamnya menjadi rusak sehingga sel berfungsi tidak semestinya.

Mayo Clinic menyebutkan bahwa penyakit kanker memiliki faktor risiko salah satunya keturunan. Hal ini membuat anggapan atau mitos jika salah satu anggota keluarga terkena kanker, maka keluarga lainnya pasti terkena penyakit serupa.

Faktanya, keturunan memang faktor risiko kanker. Akan tetapi, sangat kecil pengaruhnya. Hanya 5 hingga 10 persen kasusnya kanker difaktori oleh keturunan keluarga. Perlu diingat juga masih ada faktor-faktor lain yang berkontribusi dalam terbentuknya kanker, seperti gaya hidup yang tidak sehat.

9. Mitos: Keluarga bebas kanker, Anda juga bebas kanker

Keturunan memang memainkan peran kecil dalam perkembangan kanker pada seseorang. Namun, pengaruhnya sangat kecil. Kebanyakan kasus kanker, disebabkan oleh mutasi gen yang dipicu oleh penuaan dan paparan lingkungan karsinogenik, seperti merokok, minum alkohol, bekerja di pabrik bahan kimia, dan lain-lain.

Jadi, mitos atau anggapan bahwa terbebas kanker karena keluarga tidak punya riwayat penyakit tersebut adalah informasi yang salah. Terlepas dari faktor keturunan, seseorang tetap bisa terkena penyakit ini.

10. Mitos: Setiap orang punya sel kanker dalam tubuhnya

Apakah setiap orang punya sel kanker dalam tubuhnya? Jawabannya adalah tidak. Tak semua orang punya sel kanker dalam tubuhnya. Anda harus memahami dari mana kanker berasal.

Kanker adalah sel, bukan organisme seperti virus atau bakteri yang berasal dari luar tubuh manusia. Kanker memang bisa berkembang di dalam tubuh manusia tapi tubuh orang yang sehat, tidak ada sel kanker di dalam tubuhnya. Hanya orang yang mengidap penyakit kanker yang memiliki sel kanker dalam tubuhnya.

11. Mitos: Pengobatan kanker lebih menyakitkan ketimbang penyakitnya

Pengobatan kanker, salah satunya kemoterapi memang menimbulkan efek samping yang beragam. Mulai dari rambut rontok, nafsu makan berkurang, muntah, diare, hingga kelelahan dirasakan hampir semua pasien kanker.

Efek sampingnya ini memang cukup membuat pasien yang belum menjalani kemoterapi menjadi takut dan cemas. Hal ini kemudian menimbulkan anggapan atau mitos terbesit pikiran bahwa kemoterapi lebih menyakitkan ketimbang penyakit kanker itu sendiri.

Faktanya, tidak mengikuti pengobatan, seperti kemoterapi, sama sekali bisa membuat penyakit semakin memburuk. Alhasil, gejala kanker yang dirasakan jadi lebih parah. Walaupun efek sampingnya sangat mengganggu, ada berbagai perawatan tambahan yang ditujukan untuk mengurangi efek samping tersebut, contohnya terapi paliatif.

12. Mitos: Setiap tumor adalah kanker

Penyakit kanker terjadi akibat sel tertentu dalam tubuh yang abnormal. Sel tersebut terus membelah tanpa kendali, sehingga menimbulkan penumpukan, dan kadang membentuk tumor. Namun jangan salah, tidak semua tumor adalah kanker. Itu artinya, tumor berbeda dengan kanker.

Tumor yang mengarah pada kanker dikenal dengan istilah tumor ganas. Sementara, tumor non-kanker (tumor jinak) bisa terjadi akibat adanya kondisi media lain.

13. Mitos: Pakai botol atau wadah plastik bisa menyebabkan kanker

Selain memakan waktu lama untuk hancur, botol plastik dan wadah plastik juga membuat khawatir karena dikabarkan dapat menyebabkan kanker.

Studi akhirnya mengamati adakah hubungan antara plastik dengan kanker. Meski zat kimia pada plastik bisa berpindah ke makanan atau minuman, kadarnya sangat rendah. Selain itu, studi juga tidak menemukan bukti yang akurat jika penggunaan wadah plastik dapat menyebabkan kanker.

14. Mitos: Pakai deodoran menyebabkan kanker

Deodoran termasuk mitos kanker yang banyak beredar di masyarakat. Deodoran dianggap dapat menjadi penyebab kanker payudara karena mengandung aluminum yang dioleskan di area ketiak dekat payudara. Zat kimia tersebut dipercaya dapat menyerap ke kulit, memengaruhi hormon, dan mengubah jaringan di sekitar payudara. Sayangnya, anggapan di atas tidak terbukti secara akurat sehingga masih dianggap mitos.

15. Mitos: Memasak di penggorengan teflon dapat menyebabkan kanker

FOA atau asam perfluorooctanoic merupakan bahan kimia yang digunakan pada proses pembuatan wajan teflon. PFOA sempat menjadi topik perdebatan hangat di dunia kesehatan. Bahan kimia ini bersifat kanker (karsinogenik) dan diyakini lama kelamaan bisa mengendap dalam tubuh bila Anda terpapar secara terus-menerus.

Meski begitu, residu bahan kimia ini tidak banyak tersisa pada produk akhir wajan teflon yang sudah jadi. Sebagian besar porsi PFOA telah menguap selama proses pembakaran pabrik.

Tidak ada bukti medis yang mampu mendukung bahwa menyentuh permukaan teflon yang tergores atau memakan makanan yang diolah di atas wajah teflon yang tergores dapat menyebabkan kanker.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 12 menit

11 Prinsip Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Sehari-hari

Banyak kebiasaan sehari-hari yang tanpa Anda sadari dapat berdampak negatif pada kesehatan mulut dan gigi. Begini cara mengakalinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit

Pilihan Obat Sakit Gigi Antibiotik dan Apotek yang Ampuh untuk Anda

Obat apa yang Anda andalkan ketika sakit gigi menyerang? Berikut adalah obat sakit gigi paling ampuh yang bisa dijadikan pilihan!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Gigi dan Mulut, Hidup Sehat 16 Oktober 2020 . Waktu baca 13 menit

Direkomendasikan untuk Anda

bikin kopi yang sehat

6 Cara Praktis Membuat Kopi Anda Lebih Sehat dan Nikmat

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 3 menit
daging ayam belum matang

4 Penyakit Akibat Makan Daging Ayam Belum Matang (Plus Ciri-cirinya)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
perlukah lansia minum susu

Apakah Lansia Masih Perlu Minum Susu? Berapa Banyak yang Dibutuhkan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 20 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
bahaya makanan asin

Kenapa Kita Tak Boleh Terlalu Banyak Makan Makanan Asin?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit