Sarkoma Kaposi

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu sarkoma kaposi (SK)?

Sarkoma kaposi (SK) adalah jenis penyakit kanker yang berkembang di jaringan sekitar pembuluh darah dan pembuluh limfa. Biasanya, penyakit ini muncul sebagai tumor di kulit atau pada permukaan selaput lendir (mukosa) di dalam mulut.

Akan tetapi, tumor ini juga bisa muncul di bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, paru-paru, atau saluran cerna.

Penyakit kanker ini terbagi menjadi beberapa jenis. Lebih jelasnya, jenis sarkoma kaposi tersebut adalah:

Sarkoma kaposi epidemik terkait AIDS

Jenis ini paling umum menyerang masyarakat Amerika serikat, yakni pada orang yang terinfeksi HIV. Jadi, seseorang yang mengalami penyakit sarkoma kaposi tipe ini, secara otomatis dirinya juga telah mengidap AIDS.

HIV sendiri adalah human immunodeficiency virus, yakni virus yang menyebabkan penyakit AIDS. Seseorang yang terkena AIDS akan mengalami kerusakan sistem kekebalan tubuh parah, sehingga ia jadi sangat rentan terkena berbagai jenis infeksi.

Sarkoma kaposi klasik

Jenis kanker ini umumnya menyerang pria lansia, ketimbang wanita yang tinggal di Eropa Timur, Timur Tengah, dan pesisir Laut Tengah. Tumbuhnya lesi jaringan abnormal) cukup lambat dan lebih mungkin menyerang orang yang terinfeksi HPV (human papilloma virus).

Sarkoma kaposi endemik

Jenis kanker ini umumnya menyerang orang-orang Afrika yang terinfeksi virus herpes, atau penyakit lain yang menyebabkan sistem imun menjadi lemah. Kanker ini juga lebih rentan menyerang usia muda dan dapat menyebar dengan cepat.

Sarkoma kaposi iatrogenik (terkait transplantasi)

Jenis kanker ini terjadi setelah transplantasi organ dilakukan. Seorang pasien yang menerima transplantasi organ biasanya diminta untuk meminum obat penekan sistem imun.

Tujuannya agar sistem imun tidak menolak dan menyerang organ baru yang dipasangkan. Sayangnya, penggunaan obat inilah yang bisa memicu sel-sel di pembuluh menjadi abnormal.

Seberapa umumkah penyakit kanker ini?

Penyakit sarkoma kaposi adalah jenis kanker yang dapat menyerang siapa pun. Berdasarkan data Globocan 2018, kasus baru sarkoma kaposi mencapai 91 orang dengan angka kematian sebanyak 63 orang.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala sarkoma kaposi (SK)?

Gejala sarkoma kaposi sangat beragam, tetapi yang umumnya muncul adalah:

Muncul lesi di wajah dan kaki

Lesi adalah jaringan abnormal pada kulit. Awalnya, penyakit ini menimbulkan lesi yang berupa bintik-bintik berwarna ungu, merah, atau cokelat. Jika diperhatikan lesi bisa berupa bercak, yakni rata di kulit atau tidak menimbulkan benjolan.

Bisa juga sedikit menonjol ke atas dan ini disebut plak. Kadang juga berbentuk benjolan yang terlihat jelas dan ini disebut dengan nodul. Paling sering lesi ini muncul di area kaki atau wajah. Akan tetapi, bisa juga muncul di area lain seperti selangkangan.

Pembengkakan pada lesi

Munculnya lesi bisa menyebabkan aliran cairan di area tertentu menjadi terhambat. Akibatnya, pembengkakan akan terjadi disertai rasa nyeri yang parah. Umumnya, gejala sarkoma kaposi ini terjadi pada lesi kaki dan selangkangan.

Lesi di selaput lendir atau area tubuh lain

Lesi yang muncul tidak hanya pada kaki atau wajah saja. Lesi ini juga bisa muncul di area selaput lendir (mukosa), seperti di dalam mulut, tenggorokan, area luar mata dan bagian dalam kelopak mata. Meskipun begitu, lesi ini biasanya tidak menimbulkan rasa nyeri maupun gatal.

Lesi juga bisa muncul di paru-paru dan dapat menyumbat sebagian jalan pernapasan sehingga menimbulkan gejala sesak napas. Lesi yang terbentuk di lapisan perut atau usus, bisa menimbulkan gejala sakit perut dan diare.

Perdarahan pada lesi

Lesi yang muncul kadang bisa juga berdarah. Jika lesi ada di dalam paru-paru, maka akan menyebabkan batuk darah dan sesak napas. Sementara jika lesi ada di area sistem pencernaan, feses kan menjadi hitam, berlendir, atau terdapat bercak darah di sekitarnya.

Perdarahan internal ini jika tidak diatasi seiring waktu dapat menyebabkan anemia (jumlah sel darah merah yang rendah). Akibatnya, Anda akan merasakan tubuh mudah sekali lelah dan sering kali sesak napas.

Kapan harus periksa ke dokter?

Segera periksa ke dokter, jika Anda mengalami gejala kanker yang disebutkan di atas. Apalagi jika Anda tidak tahu penyebab pasti dan kondisi juga tidak membaik setelah diobati.

Setiap orang mungkin mengalami gejala berbeda, yang tidak tercantum pada penjelasan di atas. Konsultasikan lebih lanjut mengenai gejala yang mengkhawatirkan ini pada dokter.

Penyebab

Apa penyebab sarkoma kaposi (SK)?

Penyebab kaposi sarkoma adalah infeksi virus, seperti human herpesvirus 8 (HHV8). Virus ini masih satu keluarga dengan virus Epstein-Barr, yang menyebabkan mononukleosis menular dan terkait dengan beberapa jenis kanker, salah satunya kanker nasofaring.

Pada kanker ini, sel yang melapisi pembuluh darah dan pembuluh limfatik (sel endotel) terinfeksi oleh virus. Kemudian, virus masuk ke dalam gen dalam sel dan menyebabkan kerusakan sehingga membuat sel membelah terlalu banyak dan tidak mati. Sel yang abnormal inilah yang nantinya akan menyebabkan penyakit kanker.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko sarkoma kaposi (SK)?

Meskipun penyebab sarkoma kaposi tidak diketahui secara pasti, ilmuwan menemukan beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko penyakitnya, seperti:

  • Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah

Umumnya hal ini berkaitan erat dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS, menjalani transplantasi organ, atau usia lanjut.

  • Melakukan praktek seks tertentu

Infeksi human herpesvirus 8 (HHV8) lebih sering terjadi pada pria yang melakukan hubungan seks dengan pria. Bisa juga menular ketika melakukan hubungan seks oral atau vaginal tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi HHV8.

  • Ibu melahirkan

Wanita hamil yang terinfeksi HHV8 bisa menularkan virus tersebut ke janin dalam kandungannya saat dilahirkan lewat cairan vagina.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk sarkoma kaposi (SK)?

Adanya lesi pada kulit memang menjadi gejala dari sarkoma kaposi. Akan tetapi, menegakkan diagnosis penyakit kanker ini tidak hanya dilihat dari gejalanya saja. Pasalnya, ada masalah kesehatan lain yang juga menimbulkan gejala serupa.

Oleh karena itulah, dokter akan meminta Anda menjalani serangkaian tes kesehatan untuk memantapkan diagnosis kanker sarkoma kaposi, yaitu:

  • Tes fisik

Pada tes ini, dokter akan melihat kondisi lesi Anda. Dokter juga akan menanyakan gejala lain yang Anda rasakan sekaligus melihat riwayat kesehatan Anda dan keluarga.

  • Tes feses

Lesi pada lapisan perut dan usus menimbulkan BAB berdarah. Guna memastikan gejala tersebut kanker atau bukan, tes feses perlu dilakukan.

  • Rontgen dada

Tes pencitraan ini dapat membantu dokter untuk melihat kelainan pada sel-sel pembuluh darah di paru-paru.

  • Endoskopi

Tes ini menggunakan tabung tipis (endoskopi) yang dimasukkan melalui mulut Anda untuk memeriksa kerongkongan, lambung, dan bagian pertama usus kecil Anda. Jika dokter Anda mencurigai adanya kelainan, biopsi jaringan yang terkena akan dilakukan untuk memastikan penyakitnya.

  • Bronkoskopi

Dalam tes ini, tabung tipis (bronkoskop) dimasukkan melalui hidung atau mulut ke paru-paru Anda untuk melihat lapisannya dan mengambil sampel dari area abnormal.

  • Kolonoskopi

Dalam tes ini, tabung tipis (kolonoskop) dilewatkan melalui rektum dan dimasukkan ke dalam usus besar untuk memeriksa dinding organ-organ ini. Kelainan yang menunjukkan kanker pada usus juga dapat dibiopsi selama kolonoskopi.

Apa saja pilihan pengobatan sarkoma kaposi (SK)?

Pengobatan penyakit kanker ini disesuaikan dengan tipe kanker, jumlah lesi, dan kesehatan tubuh pasien secara menyeluruh. Namun secara umum, cara mengobati kanker pad pembuluh darah dan pembuluh limfa yang direkomendasikan dokter adalah:

Pengobatan SK terkait HIV

Pengobatan sarkoma kaposi terkait HIV adalah minum obat HIV yang dikenal sebagai terapi antiretroviral kombinasi (cART).

Tujuannya untuk mencegah HIV semakin memburuk dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga kadar HHV-8 dalam tubuh dapat berkurang. Pada beberapa kasus, orang yang menjalani perawatan ini juga perlu mengikuti kemoterapi atau minum interferon.

Pengobatan SK klasik

Kanker ini umumnya menimbulkan lesi di area kaki dan tungkai bawah dengan waktu penyebaran yang cukup lambat. Biasanya, orang dengan sarkoma kaposi klasik akan menjalani pengobatan berupa radioterapi.

Terapi radiasi dipancarkan langsung pada area yang terkena. Pada beberapa kasus, cryotherapy (pembekuan) atau operasi kecil juga dapat digunakan untuk menghilangkan lesi kulit.

Pengobatan SK endemik Afrika

Pengobatan untuk sarkoma kaposi jenis endemik Afrika yang paling utamanya adalah menjalani pengobatan HIV. Pada beberapa kasus, pasien mungkin direkomendasikan menjalani kemoterapi atau radioterapi.

Pengobatan SK terkait transplantasi organ

Ketika penyakit kanker sarkoma kaposi ini terdeteksi setelah transplantasi dilakukan, penggunaan obat imunosupresan dapat dikurangi atau diganti. Jika kanker masih saja berkembang, kemoterapi dan radioterapi perlu dilakukan.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi sarkoma kaposi (SK)?

Selain pengobatan dokter, perawatan rumahan juga perlu diterapkan pengidap sarkoma kaposi, yakni memperbaiki gaya hidup yang sesuai untuk pasien kanker.

Perubahan gaya hidup ini meliputi berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, menerapkan diet kanker, olahraga, dan tentunya menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim.

Di samping itu, Anda juga perlu menjaga kebersihan area kulit yang terdapat lesi agar tidak menimbulkan infeksi. Anda harus melakukan konsultasi lebih lanjut pada dokter jika ingin menjalani pengobatan alternatif atau menggunakan obat-obatan herbal.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit sarkoma kaposi?

Cara mencegah penyakit kanker jenis sarkoma kaposi adalah dengan menurunkan peluang Anda terinfeksi virus HHV8, maupun virus lain yang meningkatkan risikonya. Lebih jelasnya, tindakan pencegahan yang bisa Anda lakukan meliputi:

  • Menerapkan praktek seks yang sehat. Virus bisa menular melalui hubungan intim sehingga bisa dihindari dengan menggunakan kondom, baik itu penetrasi melalui vagina atau oral.
  • Minum obat antivirus. Orang yang berisiko mungkin direkomendasikan dokter untuk minum obat profilaksis pra-pajanan (PrEP) setiap hari.
  • Menghindari sembarangan pakai jarum suntik. Penggunaan jarum suntik bergantian memberikan peluang besar terinfeksi penyakit HIV yang juga meningkatkan risiko kanker ini.
  • Pertimbangkan pilihan obat penekan imun. Bagi orang yang menjalani transplantasi organ dan minum obat penekan imun, sebaiknya memilih sirolimus atau everolimus (penghambat mTOR) ini karena risiko kankernya cukup rendah ketimbang obat lain.
  • Minum obat anti HIV. Bagi ibu hamil yang terinfeksi HIV, pertimbangkan untuk minum obat anti HIV agar tidak menularkan virus ke bagi baik selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

manfaat puasa bagi pasien kanker

Aldesleukin

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 28 Juli 2017 . Waktu baca 11 menit