home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Deretan Manfaat Bawang Putih untuk Kolesterol Tinggi

Deretan Manfaat Bawang Putih untuk Kolesterol Tinggi

Hampir seluruh jenis masakan Indonesia menggunakan bawang putih sebagai salah satu bumbu utamanya. Cita rasa bawang putih yang khas ternyata tak hanya bermanfaat untuk menyedapkan makanan, namun tanaman ini juga berpotensi untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Salah satu kondisi medis yang konon bisa ditangani dengan konsumsi bawang putih adalah kolesterol tinggi. Seperti apa pengaruh bawang putih untuk penderita kolesterol?

Apa saja potensi manfaat bawang putih untuk kolesterol?

Bawang putih atau Allium sativum adalah tanaman umbi-umbian yang terkenal dengan aromanya yang khas. Bawang putih umumnya digunakan sebagai penyedap rasa untuk berbagai jenis masakan.

Umbi-umbian berwarna putih ini termasuk dalam keluarga amarilis (Amaryllidaceae) dan masih berhubungan erat dengan bawang merah dan daun bawang.

Sejak dulu, bawang putih tak hanya dikenal sebagai bumbu masakan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pengobatan untuk beberapa kondisi medis, mulai dari mengurangi gejala bronkitis hingga sakit telinga.

Nah, beberapa studi juga menunjukkan bahwa bawang putih memiliki potensi untuk digunakan sebagai pengobatan kolesterol tinggi.

Kolesterol sendiri merupakan lemak yang bermanfaat bagi tubuh. Akan tetapi, jika jumlahnya di dalam tubuh terlalu banyak, hal ini bisa berakibat buruk pada kesehatan.

Oleh karena itu, dibutuhkan berbagai upaya seperti mengatur pola makan dan gaya hidup supaya kadar kolesterol tetap terjaga. Salah satunya adalah dengan mengonsumsi obat kolesterol alami seperti bawang putih.

Simak ulasan lengkap di bawah ini untuk mengetahui apa saja potensi manfaat salah satu bumbu dapur yang biasa kita gunakan ini.

1. Membantu menurunkan kolesterol

Berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa bawang putih memiliki potensi untuk menurunkan kolesterol. Salah satunya adalah studi yang dimuat dalam Journal of Postgraduate Medicine.

Hasil dari studi tersebut mengungkapkan bahwa konsumsi 10 gram bawang putih mentah (1-2 siung) setiap hari membantu menurunkan kolesterol dalam 2 bulan.

Tak hanya itu, studi lain dari International Journal of Medical Science and Public Health juga menunjukkan bahwa rutin makan 3 gram bawang putih mentah setiap hari selama 90 hari membantu mengurangi 10-13% kadar kolesterol.

Manfaat bawang putih satu ini diduga berasal dari kandungan allicin di dalamnya. Allicin adalah jenis asam amino yang membantu menghambat kinerja enzim pembentuk kolesterol.

2. Mengontrol tekanan darah

Salah satu gangguan kesehatan yang rentan menyerang penderita kolesterol adalah tekanan darah tinggi alias hipertensi.

Plak kolesterol yang menumpuk di pembuluh darah berisiko menyebabkan pembuluh mengeras dan menyempit. Akibatnya, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah dan tekanan darah meningkat.

Nah, kandungan allicin dari bawang putih ternyata diyakini bermanfaat untuk mengurangi tekanan darah, termasuk pada penderita kolesterol. Efeknya pun hampir mirip dengan atenolol, salah satu jenis obat hipertensi.

Tak hanya itu, bawang putih juga mengandung polisulfida, senyawa yang membantu melebarkan pembuluh darah. Hasilnya, tekanan darah pun dapat menurun.

3. Baik untuk kesehatan jantung

Penderita kolesterol juga rawan terkena penyakit jantung. Pasalnya, pengerasan arteri akibat kolesterol tinggi mengakibatkan jantung bekerja lebih keras sehingga lebih rentan terserang penyakit.

Untungnya, bawang putih juga dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung untuk pengidap kolesterol tinggi.

Sebuah studi dari Journal of Nutrition menunjukkan efek bawang putih yang dikeringkan terhadap endapan kalsium di dalam pembuluh arteri.

Adanya endapan kalsium di dalam pembuluh menandakan penumpukan plak kolesterol. Nah, bawang putih kering membantu mengurangi kadar endapan kalsium tersebut sehingga risiko serangan jantung pun menurun.

Tips mengonsumsi bawang putih

Ketiga potensi di atas memang terlihat menjanjikan, namun masih diperlukan banyak penelitian untuk membuktikan kinerja kandungan bawang putih terhadap penderita kolesterol.

Sebagian besar studi yang meneliti efek salah satu bumbu masak ini terhadap kolesterol menggunakan sekitar 500 hingga 1.000 mg bawang putih.

Bawang putih sendiri hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari bubuk di dalam tablet hingga bawang putih mentah untuk diolah dalam masakan.

Nah, jumlah bawang putih yang direkomendasikan dalam bentuk suplemen atau tablet biasanya berkisar antara 1-2 siung, yaitu setara dengan 300 mg. Konsumsinya pun dianjurkan dalam dosis 1 hari sekali.

Supaya keamanannya terjamin, berikut adalah beberapa tips yang perlu Anda perhatikan.

  • Penting untuk diingat bahwa bawang putih tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya obat untuk menurunkan kolesterol. Anda masih harus mengonsumsi obat-obatan penurun kolesterol yang telah diresepkan dokter.
  • Pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen bawang putih untuk menurunkan kolesterol. Pasalnya, suplemen dapat berinteraksi dengan penyakit dan obat-obatan tertentu, salah satunya obat infeksi HIV saquinavir.
  • Pemakaian suplemen bawang putih juga sebaiknya dihindari ketika Anda sedang mengonsumsi obat pengencer darah atau akan menjalani tindakan operasi. Suplemen tersebut berpotensi memperlambat proses penggumpalan darah.
  • Salah satu efek samping utama bawang putih adalah bau mulut dan badan yang cukup kuat. Anda mungkin perlu mengetahui efek tersebut sebagai salah satu pertimbangan sebelum mulai mengonsumsinya. Untuk mengurangi efek bau mulut dan badan, Anda bisa mencoba mencuci bersih bawang putih sebelum diolah atau minum susu rendah lemak setelah makan.
  • Meski belum ada batas aman yang pasti mengenai konsumsi bawang putih dalam sehari, beberapa studi menunjukkan bahwa makan bawang putih berlebihan (di atas 0,25 g/kg berat badan) bisa berbahaya bagi kesehatan hati. Contohnya, jika berat badan Anda 68 kg, sebaiknya Anda tidak mengonsumsi lebih dari 70 gram bawang putih sehati.

Sejauh ini studi yang ada menunjukkan hasil yang beragam. Untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, pastikan Anda selalu menjaga pola makan dan gaya hidup sehat.

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Garlic – National Center for Complementary and Integrative Health. (2020). Retrieved October 5, 2021, from https://www.nccih.nih.gov/health/garlic 

Aslani, N., Entezari, M. H., Askari, G., Maghsoudi, Z., & Maracy, M. R. (2016). Effect of Garlic and Lemon Juice Mixture on Lipid Profile and Some Cardiovascular Risk Factors in People 30-60 Years Old with Moderate Hyperlipidaemia: A Randomized Clinical Trial. International journal of preventive medicine, 7, 95. https://doi.org/10.4103/2008-7802.187248

Varshney, R., & Budoff, M. (2016). Garlic and Heart Disease. The Journal Of Nutrition, 146(2), 416S-421S. https://doi.org/10.3945/jn.114.202333

Bayan, L., Koulivand, P. H., & Gorji, A. (2014). Garlic: a review of potential therapeutic effects. Avicenna journal of phytomedicine, 4(1), 1–14.

Lachhiramka, P., & Patil, S. (2016). Cholesterol lowering property of garlic (Allium sativum) on patients with hypercholesterolemia. International Journal Of Medical Science And Public Health, 5(11), 2249. https://doi.org/10.5455/ijmsph.2016.28032016449

Ashraf, R., Khan, R. A., Ashraf, I., & Qureshi, A. A. (2013). Effects of Allium sativum (garlic) on systolic and diastolic blood pressure in patients with essential hypertension. Pakistan journal of pharmaceutical sciences, 26(5), 859–863.

Bradley, J. M., Organ, C. L., & Lefer, D. J. (2016). Garlic-Derived Organic Polysulfides and Myocardial Protection. The Journal of nutrition, 146(2), 403S–409S. https://doi.org/10.3945/jn.114.208066

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Shylma Na'imah Diperbarui 29/10/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Tania Savitri