Vitamin dan Mineral yang Membantu Turunkan Tekanan Darah

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/06/2020 . 12 menit baca
Bagikan sekarang

Bila Anda didiagnosis memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi, bukan berarti Anda harus mengonsumsi obat antihipertensi seumur hidup. Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan memenuhi nutrisi yang tepat, Anda masih bisa mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi hipertensi pada masa depan. Selain dari makanan yang Anda konsumsi, memenuhi nutrisi untuk tubuh bisa melalui suplemen vitamin dan mineral penurun darah tinggi.

Meski bukan hal utama, suplemen vitamin dan mineral ini bisa menjadi pilihan bagi Anda untuk membantu menurunkan tekanan darah. Lalu, benarkah suplemen vitamin dan mineral tertentu bisa membantu menurunkan hipertensi Anda? Apa saja vitamin dan mineral yang bisa digunakan untuk mengontrol hipertensi?

Beragam mineral dan vitamin penurun darah tinggi

Vitamin dan mineral merupakan komponen nutrisi yang penting dalam metabolisme tubuh Anda. Ketika mineral, seperti natrium dan kalium, tidak tersedia dalam kadar yang cukup atau bahkan berlebih di tubuh, kondisi ini bisa menjadi faktor risiko dan penyebab hipertensi.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral, Anda perlu menerapkan pola makan yang sehat. Bagi penderita hipertensi, kebutuhan nutrisi ini bisa dipenuhi melalui panduan diet DASH. Namun, bila masih kekurangan vitamin dan mineral tertentu meski sudah menerapkan diet sehat, suplemen mungkin dibutuhkan.

Lalu, apa saja suplemen vitamin dan mineral yang bisa dikonsumsi untuk menurunkan tekanan darah tinggi? Berikut pilihannya untuk Anda.

1. Kalium

Kalium atau potassium merupakan komponen mineral penting yang dibutuhkan untuk mengontrol tekanan darah. Mineral ini membantu mengurangi ketegangan pada pembuluh darah serta menyeimbangkan jumlah natrium (dari garam) dalam tubuh sehingga jantung dan tekanan darah tetap terkendali.

Dilansir dari Blood Pressure UK, ginjal berperan dalam mengendalikan tekanan darah dengan cara menyaring darah dan mengeluarkan cairan berlebih melalui urin. Proses ini memanfaatkan keseimbangan antara natrium dan kalium di dalam tubuh.

Bila konsumsi garam berlebih dan kalium di dalam tubuh Anda kurang, fungsi ginjal dalam membuang cairan akan terganggu. Adapun kelebihan cairan di dalam tubuh dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah.

Untuk itu, Anda perlu mengonsumsi makanan dengan kalium tinggi jika memiliki riwayat hipertensi. Bila diperlukan, suplemen vitamin dan mineral yang mengandung kalium bisa menjadi pilihan sebagai penurun tekanan darah tinggi Anda. Konsultasikan dengan dokter apakah Anda perlu mengonsumsi suplemen kalium atau cukup dari makanan berkalium saja.

Namun, umumnya, suplemen kalium ini dibutuhkan oleh penderita hipertensi yang mengonsumsi obat diuretik. Sebab, obat diuretik, seperti hydrochlorothiazie, menyebabkan kalium dalam tubuh ikut keluar bersama dengan urin.

Selain itu, beberapa kondisi lain juga bisa menyebabkan seseorang kekurangan kalium, seperti muntah, diare, atau mengonsumsi alkohol berlebihan. Adapun alkohol merupakan salah satu penyebab hipertensi, terutama pada jenis hipertensi esensial atau primer.

Meski demikian, Anda pun perlu berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen kalium, terutama bila Anda memiliki gangguan ginjal atau mengonsumsi obat ACE inhibitor. Pada pasien gangguan ginjal, terlalu banyak kalium dapat menyebabkan penumpukan kalium di dalam darah atau hyperkalemia. Bila tidak segera diatasi, hyperkalemia dapat menyebabkan aritmia atau gangguan pada irama jantung,

Konsumsilah kalium secukupnya sesuai saran dari dokter Anda. Sebagai gambaran, pria dewasa direkomendasikan untuk mengonsumsi 3,400 mg kalium dalam sehari, sedangkan untuk wanita dewasa sebanyak 2.600 mg per hari. Namun, untuk yang berusia di atas 50 tahun, konsumsi kalium yang disarankan, yaitu 4.700 mg per hari.

Selain dari suplemen, Anda bisa memenuhi kebutuhan kalium dari buah-buahan dan sayuran, seperti pisang, alpukat, kentang, bayam, dan makanan penurun darah tinggi lainnya.

2. Magnesium

Jenis vitamin dan mineral lain yang dapat Anda konsumsi sebagai penurun darah tinggi adalah magnesium. Magnesium dibutuhkan tubuh untuk memproduksi energi, kesehatan tulang, serta mengurangi ketegangan pada pembuluh darah sehingga dapat mencegah tekanan darah tinggi.

Bahkan, sebuah studi yang dipublikasikan journal Hypertension pada 2016 menemukan fakta bahwa suplemen magnesium dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian tersebut menunjukkan, seseorang yang mengonsumsi suplemen magnesium dengan dosis 368 mg selama tiga bulan mengalami penurunan tekanan darah sistolik sekitar 2 mmHg dan diastolik sekitar 1,8 mmHg.

Meski demikian, peneliti menekankan bahwa efek suplemen magnesium ini mungkin hanya terasa pada seseorang yang memang kekurangan magnesium dari asupan makanannya. Oleh karena itu, bila Anda memiliki hipertensi, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter apakah Anda perlu mengonsumsi suplemen magnesium.

Namun, sama seperti kalium, suplemen magnesium ini bisa saja diberikan pada penderita hipertensi yang mengonsumsi obat diuretik. Pasalnya, efek diuresis yang muncul karena konsumsi obat diuretik dapat mengakibatkan terbuangnya magnesium dari tubuh Anda.

Selain itu, kekurangan magnesium juga lebih sering ditemukan pada orang lanjut usia. Oleh karena itu, orang lanjut usia disarankan untuk mengonsumsi magnesium lebih banyak dibandingkan orang yang lebih muda.

Dilansir dari Oregon State University, pria dewasa berusia 19-30 tahun direkomendasikan untuk mengonsumsi magnesium sekitar 400 mg per hari, sedangkan untuk wanita sebanyak 310 mg. Adapun bagi pria yang berusia di atas 31 tahun disarankan untuk mengonsumsi magnesium sebanyak 420 mg per hari, sedangkan untuk wanita sebanyak 320 mg per hari.

Sementara itu, toleransi konsumsi suplemen magnesium per hari, yaitu sebesar 350 mg per hari. Namun, sebaiknya tanyakan pada dokter mengenai batas konsumsi suplemen ini sesuai dengan kondisi Anda. Pasalnya, seseorang dengan kondisi medis tertentu, seperti gangguan ginjal, justru berisiko bila mengonsumsi suplemen magnesium.

Selain dari suplemen, Anda bisa memperoleh magnesium dari makanan yang Anda konsumsi, seperti sayuran hijau, biji-bijian, serta kacang-kacangan. 

3. Kalsium

Jenis vitamin dan mineral penurun darah tinggi lain yang membantu meredakan gejala hipertensi adalah kalsium. Selain untuk kesehatan tulang dan gigi, kalsium juga dapat membuat pembuluh darah lebih rileks sehingga aliran darah lancar dan tekanan darah pun terjaga.

Pada penderita hipertensi, kalsium dapat memengaruhi pembuluh darah yang menyempit sehingga tekanan darah yang sudah tinggi bisa menurun.

Namun, penting untuk Anda ketahui bahwa konsumsi kalsium yang berlebihan justru dapat meningkatkan risiko terkena penyakit jantung. Oleh karena itu, Dr. Randall Zusman dari Massachusetts General Hospital Heart Center menyarankan, sebaiknya Anda mendapatkan kalsium dari makanan daripada suplemen.

Anda direkomendasikan untuk mengonsumsi kalsium harian sebanyak 1.000 mg per hari. Untuk yang lanjut usia, yaitu di atas 51 tahun untuk wanita dan di atas 71 tahun untuk pria, direkomendasikan untuk mengonsumsi kalsium sebanyak 1.200 mg per hari.

Konsumsi kalsium untuk penderita hipertensi dapat diperoleh dari susu dan produk susu, ikan, serta sayuran hijau. Namun, Anda perlu ingat untuk mengonsumsi susu dan produk susu yang rendah lemak atau tanpa lemak, karena kandungan lemak yang tinggi juga bisa menyebabkan hipertensi Anda semakin parah.

Apabila memang asupan kalsium dari makanan dirasa kurang, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter apakah Anda boleh mengonsumsi suplemen kalsium atau vitamin penurun darah tinggi lainnya.

4. Coenzyme Q10 (CoQ10)

manfaat Koenzim Q10 coQ10

Coenzyme Q10 (C0Q10) adalah senyawa yang diproduksi tubuh Anda secara alami. Senyawa ini membantu tubuh mengubah makanan menjadi energi dan berfungsi sebagai antioksidan dalam tubuh.

Terkait dengan tekanan darah, sifat antioksidan pada CoQ10 dapat membantu mengurangi stres oksidatif dengan meningkatkan ketersedian oksida nitrat dalam tubuh. Adapun oksida nitrat berperan dalam merelaksasi dinding pembuluh darah arteri Anda. Bila oksida nitrat berkurang, Anda berisiko mengalami penyempitan pembuluh darah, yang mana dapat meningkatkan tekanan darah.

Hal ini pun telah dibuktikan melalui penelitian yang dipublikasikan di Journal of Human Hypertension. Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa mengonsumsi CoQ10 berpotensi menurunkan tekanan darah sistolik hingga 17 mmHg dan diastolik hingga 10 mmHg pada pasien hipertensi, tanpa efek samping yang signifikan.

Oleh karena itu, CoQ10 direkomendasikan sebagai salah satu vitamin dan mineral penurun tekanan darah tinggi, terutama bagi yang memiliki tingkat CoQ10 rendah pada tubuhnya. Adapun tingkat CoQ10 yang rendah umumnya ditemukan pada orang yang memiliki riwayat penyakit jantung atau yang berusia lanjut.

Pasalnya, CoQ10 cenderung menurun seiring bertambahnya usia dan kondisi ini pun meningkatkan risiko terjadinya hipertensi.

Untuk memperoleh CoQ10, Anda bisa mengonsumsi beberapa makanan, seperti daging, ikan, dan biji-bijian utuh. Namun, mengonsumsi makanan saja mungkin belum cukup untuk meningkatkan level CoQ10 secara signifikan. Bila ini terjadi pada Anda, dokter mungkin akan menyarankan untuk mengonsumsi suplemen CoQ10.

5. Asam lemak omega-3

Berbeda dengan CoQ10, asam lemak omega-3 tidak dapat diproduksi oleh tubuh. Asam lemak ini bisa Anda dapat dari ikan dan minyak ikan, seperti salmon, makarel, trout, dan kerang-kerangan, yang mengandung jenis omega-3 DHA dan EPA.

Selain itu, beberapa biji-bijian dan minyak nabati juga mengandung jenis omega-3 lain, yaitu asam alfa linolenat atau ALA. Suplemen minyak ikan dengan kandungan omega-3 pun sudah banyak ditemukan di pasaran.

Banyak penelitian yang menemukan bahwa suplemen asam lemak omega-3 dapat menurunkan tekanan darah, terutama pada pasien hipertensi sedang hingga berat. Oleh karena itu, suplemen ini juga sering digunakan sebagai vitamin dan mineral penurun tekanan darah tinggi.

Pasalnya, asam lemak ini dipercaya dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol dalam tubuh serta mencegah penumpukan lemak di dalam pembuluh darah arteri, yang merupakan salah satu penyebab hipertensi. 

Meski terbukti berkhasiat, Anda pun perlu berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen omega-3. Sebab, suplemen ini berinteraksi dengan beberapa obat darah tinggi dan obat antikoagulan. Konsultasikan dengan dokter apakah Anda perlu mengonsumsinya.

6. Asam folat

Asam folat termasuk vitamin dan mineral yang dibutuhkan sebagai penurun darah tinggi, terutama untuk ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan.

Selain untuk penurun darah tinggi, asam folat juga merupakan vitamin dan mineral yang penting untuk tumbuh kembang janin di dalam kandungan. Sebuah penelitian dari Journal of the Australian College of Midwives menunjukkan bahwa asupan asam folat yang cukup selama masa kehamilan dapat mengurangi risiko hipertensi gestasional dan preeklampsia.

7. Serat 

suplemen serat, lebih baik dari sayur dan buah?

Serat merupakan komponen nutrisi lain yang dibutuhkan penderita hipertensi untuk membantu menurunkan tekanan darah. Serat bisa Anda dapatkan dari berbagai jenis sayuran, termasuk sayuran hijau, dan buah-buahan segar.

Namun, suplemen serat juga bisa Anda jadikan pilihan sebagai vitamin dan mineral penurun darah tinggi lain. Dalam studi yang dipublikasikan di Arch Intern Med menunjukkan bahwa, mengonsumsi suplemen serat sebanyak 11 gram per hari terbukti dapat menurunkan tekanan darah, baik sistolik maupun diastolik.

Penurunannya bahkan lebih besar pada orang dewasa yang lebih tua (di atas 40 tahun) dibandingkan yang muda. Selain itu, pada orang yang tidak memiliki riwayat hipertensi pun, konsumsi serat terbukti dapat mencegah kenaikan tekanan darah.

Meski demikian, belum ada alasan yang pasti mengapa serat bisa berpengaruh pada tekanan darah. Namun, makanan yang mengandung serat, seperti sayuran dan buah-buahan, umumnya juga mengandung kalium, magnesium, dan asam lemak tak jenuh yang tinggi, yang sudah terbukti berpengaruh pada tekanan darah.

Selain yang disebutkan di atas, beberapa vitamin dan mineral lain pun disebut dapat memberi pengaruh pada tekanan darah tinggi. Namun, sebaiknya Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai kefektifannya pada hipertensi yang Anda derita. Berikut beberapa vitamin dan mineral penurun darah tinggi lainnya:

  • Vitamin D
  • Vitamin C
  • Vitamin B2 atau riboflavin
  • Vitamin E
  • Zat besi
  • L-Arginine

Perhatikan hal ini sebelum mengonsumsi suplemen vitamin penurun darah tinggi

Mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral tertentu adalah salah satu metode yang dapat Anda pilih sebagai penurun darah tinggi. Namun, Anda perlu berhati-hati karena beberapa jenis vitamin penurun darah tinggi mungkin dapat memengaruhi obat hipertensi yang sedang Anda konsumsi, seperti obat ACE inhibitor dan beta blocker.

Bahkan, beberapa suplemen pun mungkin bisa menaikkan tekanan darah Anda. Oleh karena itu, apabila Anda sedang menjalani terapi dengan obat-obatan antihipertensi, Anda harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter bila ingin mengonsumsi salah satu vitamin atau mineral penurun darah tinggi.

Selain itu, penting untuk Anda ketahui bahwa minum vitamin dan mineral saja tidak cukup untuk menurunkan tekanan darah tinggi dalam jangka panjang. Penurun tekanan darah tinggi yang paling utama, terutama pada penderita hipertensi, tentunya adalah obat-obatan dari dokter dan menerapkan gaya hidup sehat.

Kemudian, Anda pun perlu mengonsumsi suplemen vitamin dan mineral sesuai dosis yang ditentukan. Bila berlebihan, risiko kesehatan lain bisa mengganggu Anda.

Anda pun perlu ingat bahwa efek setiap suplemen berbeda pada tiap orang. Orang lain mungkin merasakan pengaruh setelah minum suplemen tertentu, tetapi bisa saja hal itu tidak terjadi pada Anda.

Bila ini terjadi pada Anda, janganlah kecewa. Lebih baik tanyakan pada dokter mengenai cara yang tepat untuk menurunkan tekanan darah sesuai dengan kondisi Anda atau bisa mencoba cara lain, seperti pengobatan alami untuk menurunkan hipertensi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . 5 menit baca

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Stres dan depresi tidak sama, keduanya memiliki perbedaan mendasar. Maka jika penanganannya keliru, depresi bisa berakibat fatal. Cari tahu, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 26/05/2020 . 6 menit baca

Manfaat dan Jenis-jenis Senam untuk Penderita Hipertensi

Senam termasuk olahraga yang disarankan untuk penderita hipertensi. Yuk, ketahui apa saja manfaat dan jenis senam untuk hipertensi.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Hipertensi, Health Centers 17/05/2020 . 7 menit baca

11 Pantangan Darah Tinggi yang Harus Anda Hindari

Apa saja makanan, minuman, dan kebiasaan buruk yang harus menjadi pantangan bagi penderita darah tinggi? Simak penjelasan lengkapnya di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Shylma Na'imah
Hipertensi, Health Centers 14/05/2020 . 11 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

kacang almond

Khasiat Mujarab Kacang Almond untuk Penderita Hipertensi

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . 5 menit baca
arti kedutan

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 15/06/2020 . 5 menit baca
minyak esensial

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . 4 menit baca
sindrom pura-pura sakit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 13/06/2020 . 5 menit baca