Waspada Trombositopenia, Efek Samping Obat Heparin untuk Penyakit Jantung

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 5 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Heparin adalah obat penyakit jantung untuk mencegah kemungkinan komplikasi yang bisa berakibat fatal, seperti serangan jantung dan penggumpalan darah. Heparin juga umum digunakan untuk pencegahan pembekuan darah atau trombosis pasca operasi. Namun sama seperti obat-obatan lainnya, heparin dapat menimbulkan efek samping. Salah satu efek samping heparin yang perlu diwaspadai adalah trombositopenia.

Sebelum menelaah lebih dalam seputar efek samping obat penyakit jantung yang satu ini, ada baiknya kita mengetahui dulu cara kerja heparin.

Cara kerja heparin untuk obat penyakit jantung

Pembekuan darah dalam arteri yang menuju jantung dapat menyebabkan sindrom koroner akut, seperti angina yang tidak stabil (perasaan sesak di dada) atau serangan jantung. Untuk mencegah dan/atau mengatasi ini, diperlukan obat golongan pengencer darah (antikoagulan) seperti heparin.

Heparin bekerja mencegah pembekuan darah dengan mengaktifkan antithrombin III untuk menghalangi kerja thrombin dan fibrin, dua faktor yang diperlukan untuk membekukan darah. Melalui hambatan pada aktivasi thrombin dan fibrin ini, heparin menggagalkan proses pembekuan darah.

Apa saja efek samping heparin?

Obat penyakit jantung heparin memiliki beberapa efek samping yang perlu Anda ketahui. Beberapa di antaranya adalah:

  • Perdarahan: Heparin bekerja mengencerkan darah, akibatnya tubuh akan lebih rentan untuk mengalami perdarahan. Apabila terjadi terus menerus, dosis heparin harus segera dihentikan dan diberikan obat penawarnya yaitu protamin sulfat.
  • Dapat memicu reaksi alergi dan syok anafilaktik
  • Osteoporosis: terjadi pada 30% pasien yang didosiskan heparin jangka panjang. Heparin dapat mempercepat proses pengeroposan tulang.
  • Meningkatkan enzim transaminase hati
  • Trombositopenia (Heparin– induced thrombocytopenia/HIT)

Kenapa heparin dapat menyebabkan trombositopenia?

Trombositopenia adalah efek samping obat penyakit jantung heparin yang termasuk unik. Trombositopenia terjadi akibat kurangnya jumlah platelet atau trombosit, sel darah yang berperan penting pada proses pembekuan darah. Umumnya penurunan jumlah trombosit akan meningkatkan risiko perdarahan. Itu sebabnya gejala umum dari trombositopenia termasuk mudah mimisan dan memar, luka lama sembuh, dan perdarahan haid yang berat.

Namun ketika trombositopenia secara spesifik dipicu oleh penggunaan heparin, alias HIT, risiko terjadinya trombosis atau penyumbatan pembuluh darah justru lebih besar daripada perdarahan. Padahal, penurunan trombosit pada HIT jarang mencapai 20.000/ul. Hal ini dipengaruhi fakta bahwa HIT terjadi akibat adanya antibodi tubuh terhadap kompleks Heparin-PF4.

Di dalam tubuh, heparin akan berikatan dengan Platelet Specific Protein Factor 4 (PF4). Kompleks ini akan dikenali oleh antibodi. Kemudian setelah berikatan dengan kompleks Heparin-PF4, antibodi akan berikatan dengan reseptor pada trombosit, sehingga menyebabkan terjadinya aktivasi trombosit. Aktivasi trombosit ini akan mengakibatkan terbentuknya sumbatan pembuluh darah. Sederhananya, heparin yang seharusnya bekerja menghambat pembekuan darah, pada beberapa orang malah jadi sebaliknya: memicu aktivasi trombosit sehingga darah membeku dan menyumbat pembuluh darah.

Seberapa umum trombositopenia akibat heparin?

Pada orang-orang yang baru pertama kali mengonsumsi heparin, HIT dapat terjadi 5-14 hari setelah pendosisan dimulai. Pada pasien yang pernah menggunakan obat penyakit jantung ini sebelumnya, efek samping heparin dapat muncul lebih awal (kurang dari 5 hari setelah terapi dimulai). Gejala HIT dapat muncul terlambat pada beberapa orang, kurang lebih 3 minggu setelah dosis dihentikan.

Beberapa sumber mengatakan HIT lebih banyak terjadi pada pasien yang mengonsumsi heparin pasca operasi dan perempuan yang memiliki penyakit jantung yang diresepkan obat ini.

Apakah trombositopenia akibat efek samping heparin ini bahaya?

HIT merupakan kondisi medis yang berbahaya bila tidak terdeteksi. Menurut Medscape, 6-10% pasien HIT meninggal dunia. Untuk itu, ktia perlu mengenal “4T” pada pasien yang sedang mengkonsumsi heparin:

  • Trombositopenia (menurunnya jumlah trombosit tubuh)
  • Timing dari penurunan jumlah trombosit
  • Trombosis (penyumbatan)
  • Tidak ada penyebab trombositopenia lainnya.

Bagaimana dokter mendiagnosis HIT?

HIT dapat dideteksi dengan menemukan penurunan trombosit hingga <100.000/ul atau penurunan >50% dari nilai trombosit sebelum terapi. Sekitar 50% pasien HIT mengalami penyumbatan pembuluh darah (Heparin induced thrombocytopenia and thrombosis – HITT). Untuk mendiagnosis trombosis dapat dilakukan pemeriksaan doppler.

Apabila dokter mendeteksi adanya tanda-tanda HIT, maka dokter akan melakukan beberapa hal dibawah ini:

  1. Segera menghentikan dosis heparin
  2. Ganti heparin dengan antikoagulan lain. Di sini antikoagulan tetap harus diberikan mengingat risiko penyumbatan pada HIT yang tinggi, dan diberikan sampai + 1 bulan setelah kadar trombosit kembali normal. Pemberian warfarin hanya boleh diberikan setelah kadar trombosit kembali ke awal.
  3. Tidak boleh diberikan transfusi platelet atau trombosit.
  4. Evaluasi penyumbatan (trombosis) dengan doppler atau pemeriksaan lainnya.

Beberapa literatur merekomendasikan pemeriksaan tambahan untuk HIT yaitu dengan Enzyme Linked Assay (ELISA) guna mendeteksi antibodi terhadap kompleks heparin-PF4; dan serotonin release assay untuk melihat aktivasi platelet. Serotonin linked assay lebih akurat dalam mendeteksi HIT, namun masih sulit untuk menemukan pusat kesehatan yang memiliki pemeriksaan ini di Indonesia. Risiko terjadinya trombosis dapat dilihat dengan kadar antibodi yang bersirkulasi.

Tidak semua orang boleh diresepkan heparin untuk obat penyakit jantung

Melihat risiko efek samping heparin yang unik, obat penyakit jantung ini tidak boleh diberikan pada pasien-pasien dengan riwayat alergi obat heparin sebelumnya, kelainan/gangguan perdarahan, alkoholisme, atau pada pasien dengan riwayat operasi otak, mata, dan medulla spinalis.

Normal Kah Detak Jantung Anda?

Kalkulator detak jantung kami bisa memperkirakan berapa target detak jantung saat olahraga yang perlu Anda capai.

Coba Hitung!
active

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Trombositopenia

    Trombositopenia adalah kondisi saat jumlah trombosit dalam darah terlalu rendah. Pada kasus berat, turunnya jumlah trombosit bisa sebabkan perdarahan hebat.

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Widya Citra Andini
    Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 22 November 2020 . Waktu baca 8 menit

    Berbagai Jenis Penyakit yang Berhubungan dengan Kelainan Trombosit Darah

    Kelainan pada trombosit dalam darah bisa menyebabkan berbagai jenis penyakit, mulai dari yang ringan hingga fatal. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Shylma Na'imah
    Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 22 November 2020 . Waktu baca 8 menit

    Pilihan Obat dan Prosedur Medis untuk Mengobati Sakit Jantung

    Penyakit jantung dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani segera. Simak obat sakit jantuang dan pengobatan penyakit jantung berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Jantung 20 November 2020 . Waktu baca 16 menit

    Deep Vein Thrombosis (DVT)

    Trombosis vena dalam atau DVT adalah penyakit yang terjadi ketika terdapat gumpalan darah di pembuluh darah vena. Bagaimana mengatasi kondisi ini?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Risky Candra Swari
    Penyakit Kelainan Darah, Kelainan Trombosit 16 November 2020 . Waktu baca 7 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    danshen goji

    Benarkah Ramuan Herbal Danshen Goji Bisa Atasi Macam-macam Penyakit?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 16 Februari 2021 . Waktu baca 4 menit
    proses pembekuan darah koagulasi

    Benarkah Rokok Menyebabkan Penggumpalan Darah?

    Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
    Trombosis Sinus Cavernosus

    Trombosis Sinus Cavernosus (TSC)

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
    Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
    hematohidrosis keringat darah

    Hematohidrosis Adalah Keringat Berdarah, Apa Penyebabnya?

    Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina
    Dipublikasikan tanggal: 26 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit