Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Cacar (Smallpox)

Apa itu cacar?|Tanda-tanda dan gejala cacar|Penyebab cacar|Faktor-faktor risiko|Diagnosis dan pengobatan cacar|Pencegahan
Cacar (Smallpox)

 

Apa itu cacar?

Cacar (smallpox) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus variola. Karakteristik utama dari cacar adalah penyebaran lenting atau bintil lepuhan yang berisi nanah di tubuh.

Penyakit ini kerap disamakan dengan cacar air. Padahal kedua penyakit memiliki gejala dan penyebab infeksi virus yang berbeda. Dalam istilah asing, cacar air lebih umum dikenal dengan sebutan chickenpox. Penyakit cacar lebih dikenal dengan istilah smallpox.

Cacar sempat menjadi wabah berbahaya yang menelan banyak nyawa selama ratusan tahun. Tidak ada pengobatan khusus untuk penyakit cacar.

Namun berkat kemajuan teknologi medis, penyakit ini tak lagi mematikan karena telah ditemukan vaksinnya. Dengan dilakukannya vaksinasi cacar sejak akhir abad ke-17, penyakit ini berhasil dimusnahkan pada tahun 1980.

Seberapa umumkah penyakit ini?

Cacar merupakan penyakit infeksi virus yang telah beribu-ribu tahun mengancam kesehatan manusia. Tingkat fatalistik (penyebab kematian) penyakit ini terhitung tinggi, yakni mencapai 30 persen. Artinya, 3 dari 10 orang yang terinfeksi virus variola meninggal.

Pada tahun 1980, World Health Organization (WHO) menyatakan penyakit ini berhasil sepenuhnya dimusnahkan karena pengerahan vaksinasi global sejak tahun 1700.

Menurut studi bertajuk Smallpox in History, kasus penyakit cacar yang terakhir di dunia ditemukan di tahun 1977. Dari kasus terakhir yang ditemukan, total korban jiwa dari penyakit cacar mencapai lebih 300 juta orang.

Menurut data terakhir dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), sekarang ini belum ditemukan lagi kasus penularan penyakit cacar.

Kendati demikian, keberadaan penyakit ini masih perlu diwaspadai. Sebab, ada potensi penyalahgunaan virus variola yang hingga kini masih dimanfaatkan untuk penelitian sebagai senjata biologis.

Tanda-tanda dan gejala cacar

Gejala penyakit cacar biasanya baru muncul 12-14 hari setelah paparan pertama terhadap virus variola. Gejala awal cacar meliputi sejumlah gangguan kesehatan yang menyerupai gejala flu seperti:

  • Kelelahan
  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Nyeri pada tubuh
  • Muntah

Gejala cacar ini biasanya akan menghilang dalam 2-3 hari. Kemudian kondisi pasien akan membaik.Akan tetapi, 1-2 hari berikutnya gejala paling umum dari penyakit ini mulai muncul.

Gejala tersebut berupa ruam di permukaan kulit yang dalam waktu 1-2 hari akan berubah menjadi lepuhan kecil yang berisi nanah pada, atau disebut juga sebagai lenting.

Mulanya lenting akan muncul di lidah, wajah, dan lengan hingga menyebar ke badan bagian depan dan sekujur tubuh. Lenting yang muncul di lidah atau area mulut juga bisa menyebar ke dalam tenggorokan

Dalam waktu 8-9 hari lenting kemudian akan mengerak hingga pada akhirnya mengering dan berubah menjadi keropeng beberapa bisa meninggalkan bekas luka.

Seseorang yang terinfeksi cacar dapat menularkan virus ini mulai dari munculnya ruam sampai lenting di kulit mengering dan mengelupas sendiri dalam 2 minggu.

Gejala-gejala dari penyakit cacar secara umum meliputi:

  • Munculnya ruam kulit merah.
  • Ruam berubah menjadi lenting (lepuhan bernanah) beberapa hari kemudian.
  • Lenting berubah mengerak biasanya terjadi dalam 8-9 hari.
  • Keropeng (bagian kering pada luka) terbentuk pada lepuhan dan mengelupas, biasanya dalam minggu ketiga dari kemunculan gejala ruam.
  • Terbentuknya bekas luka permanen (bopeng).
  • Apabila lenting terbentuk di dekat mata, pasien dapat mengalami kebutaan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, konsultasikanlah dengan dokter Anda. Meskipun gejala bisa mereda dengan sendirinya, pengobatan medis dapat membantu mengendalikan gejala.

Selain itu, gejala seringkali menyebabkan Anda tidak merasa nyaman dan mengganggu penampilan sehingga dibutuhkan pengobatan dari dokter untuk bisa mengatasinya.

Begitupun ketika gejala di atas disertai dengan gangguan kesehatan yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah segera dengan dokter Anda.

Penyebab cacar

Penyebab cacar adalah infeksi virus variola yang memperbanyak diri di pembuluh darah di dalam lapisan kulit. Penularan penyakit ini dapat berlangsung dengan menghirup udara yang telah terkontaminasi virus atau kontak langsung dengan bagian kulit yang terdampak

Virus variola bisa dilepaskan ke udara ketika lenting pecah menyebabkan luka terbuka di kulit dan virus terkena angin. Berikut ini adalah beberapa cara penularan penyakit cacar dalam kondisi sehari-hari:

  • Penularan langsung antarmanusia: perpindahan langsung virus memerlukan kontak wajah ke wajah yang cukup panjang.
  • Tidak langsung dari orang yang terinfeksi: pada kasus langka, kemungkinan melalui sistem ventilasi di suatu gedung, menginfeksi orang di ruangan atau lantai lain.
  • Melalui benda yang terkontaminasi: virus variola juga dapat menyebar melalui kontak dengan pakaian dan seprai yang terkontaminasi.

Faktor-faktor risiko

Terdapat beberapa pemicu yang membuat Anda bisa berisiko terkena penyakit ini, yaitu:

  • Wanita yang sedang mengandung atau menyusui
  • Orang dengan gangguan kulit seperti eksim
  • Orang dengan sistem imun yang lemah akibat kondisi medis seperti leukemia atau HIV
  • Orang dengan perawatan medis, seperti untuk kanker, yang melemahkan sistem imun

Diagnosis dan pengobatan cacar

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apabila pasien mengalami cacar, dokter mungkin akan menyadarinya karena penyakit ini memiliki gejala dengan ruam yang khusus. Ruam muncul sebagai lepuhan (lenting) pada kulit yang berisi cairan dan berkerak.

Penyakit cacar mungkin menyerupai cacar air, namun lepuhan terlihat berbeda dari lepuhan cacar air. Jika memang diperlukan dokter akan melakukan prosedur pemeriksaan sampel kulit di bawah mikroskop untuk memastikan jenis virus yang menginfeksi.

Bagaimana cara mengobati cacar?

Penyakit cacar tidak memiliki pengobatan khusus. Menurut Bloomberg School of Public Health, sebelumnya tidak antiviral khusus yang digunakan sebagai obat untuk menghentikan infeksi virus. Para ahli masih mencari obat antivirus yang dapat mengatasi penyakit ini sejak pertama kali ditemukan.

Obat cidofovir bekerja dengan baik pada penelitian awal. Salah satu jenis obat bernama protase inhibitor SIGA-246 untuk penyakit cacar telah melalui tahap pengujian klinis oleh FDA hingga tahun 2014. Sampai pada tahun 2018, jenis obat sakit cacar yang resmi disetujui adalah tecovirimat (TPOXX).

Setelah kemusnahan penyakit, pengobatan secara umum yang dilakukan untuk penyembuhan lebih mengarah pada terapi suportif.

Caranya adalah melalui perawatan kondisi kesehatan yang memastikan penderita mendapatkan istirahat cukup serta memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan nutrisi guna meningkatkan kemampuan imunitas tubuh.

Apabila terjadi infeksi sekunder di kulit yang disebabkan oleh bakteri ataupun infeksi yang menyerang paru-paru, pemberian antibiotik dapat dilakukan.

Pencegahan

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan di rumah untuk mencegah atau bahkan mengobati cacar:

  • Orang dengan penyakit ini akan diisolasi untuk mencegah penyebaran virus.
  • Para ahli menggunakan virus sepupu dari variola (virus vaccinia) untuk membuat vaksin cacar, karena memiliki efek samping kesehatan yang lebih sedikit. Vaksin memicu sistem imun tubuh untuk menghasilkan antibodi yang sangat penting untuk melindungi diri dari virus variola dan membantu mencegah penyakit ini.
  • Siapa pun yang terkena kontak (bersentuhan) dengan seseorang yang terinfeksi perlu segera mendapatkan vaksin. Vaksin berguna untuk mencegah atau mengurangi keparahan penyakit apabila diberikan dalam 4 hari setelah paparan virus variola.
  • Apabila anak divaksin, tidak diketahui secara pasti seberapa lama imunitas bertahan. Kemungkinan vaksinasi sebelumnya memberikan imunitas sebagian yang dapat melindungi dari komplikasi serius penyakit.

Vaksin untuk pencegahan penyakit cacar

Vaksinasi menjadi satu-satunya solusi untuk mencegah kemunculan kembali penyakit ini, meskipun vaksin memiliki efek samping yang cukup berisiko. Mendapatkan vaksin dalam 3-4 hari setelah kontak dengan virus juga dapat mengurangi keparahan penyakit atau bahkan mencegahnya berkembang lebih lanjut.

Akan tetapi, belum ada yang bisa memastikan masa perlindungan yang diberikan oleh vaksin. Beberapa peneliti menyakini, antibodi dari vaksin dapat bertahan hingga waktu 5 tahun.

Namun yang pasti, perlindungan dari vaksin ini tidak bersifat seumur hidup. Orang yang memiliki imunitas terhadap infeksi virus variola secara jangka panjang hanyalah orang berhasil sembuh setelah terinfeksi.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

CDC. (2020). Vaccine Basics | Smallpox. Retrieved 4 December 2020, from https://www.cdc.gov/smallpox/vaccine-basics/index.html

Mayo Clinic. (2020). Smallpox – Symptoms and causes. Retrieved 4 December 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/smallpox/symptoms-causes/syc-20353027

Simonsen, K., & Snowden, J. (2020). Smallpox (Variola). Statpearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470418/

UPMC Center for Health Security. (2014).  Variola Virus (Smallpox). Retrieved 4 December 2020, from http://www.centerforhealthsecurity.org/our-work/publications/smallpox-fact-sheet.

Nemours KidsHealth. (2020). KidsHealth.org Search results : smallpox. Retrieved 4 December 2020, from https://kidshealth.org/en/kids/?search=y&q=smallpox&datasource=kidshealth&section=parents_teens_kids&lang=english&start=0&rows=10

History of Vaccines. (2014). Smallpox. Retrieved 4 December 2020, from https://www.historyofvaccines.org/content/articles/history-smallpox

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Fidhia Kemala Diperbarui 04/01/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Tania Savitri
x