Apa Bedanya Vaksin mRNA dengan Vaksin Biasa?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Sejak vaksin pertama ditemukan untuk penyakit cacar (smallpox) pada tahun 1798, vaksinasi terus digunakan sebagai cara menangkal dan menanggulangi wabah penyakit menular. Vaksin pada umumnya dibuat dengan menggunakan organisme penyebab penyakit (virus, jamur, bakteri, dan lainnya) yang sudah dilemahkan. Namun, kini hadir jenis vaksin yang disebut vaksin mRNA. Dalam dunia kedokteran modern, vaksin ini diandalkan sebagai vaksin coronavirus (SARS-CoV-19) untuk menghentikan pandemi COVID-19.

Perbedaan vaksin mRNA dengan vaksin konvensional

Vaksin mRNA adalah

Setelah ilmuan asal Inggris Dokter Edward Jenner menemukan metode vaksinasi, ilmuan Perancis Louis Pasteur pada awal 1880-an mengembangkan metode tersebut dan berhasil menemukan vaksin pertama. Vaksin hasil temuan Pasteur terbuat dari bakteri penyebab antraks yang kemampuan infeksinya telah dilemahkan.

Penemuan Pasteur ini menjadi awal mula kemunculan vaksin konvensional. Selanjutnya, metode pembuatan vaksin dengan patogen diaplikasikan dalam pembuatan vaksin untuk imunisasi penyakit menular lainnya, seperti campak, polio, cacar air, dan influenza.

Alih-alih melemahkan patogen, pembuatan vaksin untuk penyakit yang disebabkan virus dilakukan dengan menonaktifkan virus dengan bahan kimia tertentu. Beberapa vaksin konvensional juga memanfaatkan bagian tertentu dari patogen, seperti selubung inti virus HBV yang digunakan untukvaksin hepatitis B.

Dalam vaksin molekul RNA (mRNA) tidak terdapat sama sekali bagian bakteri atau virus asli. Vaksin mRNA terbuat dari molekul buatan yang tersusun atas kode genetik protein yang khas dari suatu organisme penyebab penyakit, yaitu antigen.

Sebagai contoh, virus SARS-CoV-2 memiliki 3 susunan protein pada bagian selubung, membran, dan duri. Peneliti dari Vanderbilt University memaparkan molekul buatan yang  dikembangkan dalam vaksin mRNA untuk COVID-19 memiliki kode genetik (RNA) dari protein di ketiga bagian virus tersebut.

Keunggulan vaksin mRNA dari vaksin konvensional

RNA virus

Vaksin konvensional bekerja dengan cara menyerupai patogen yang menyebabkan infeksi penyakit. Komponen patogen dalam vaksin kemudian menstimulasi tubuh untuk membentuk antibodi. Dalam vaksin molekul RNA, kode genetik dari patogen telah terbentuk sehingga tubuh bisa membangun antibodinya sendiri tanpa rangsangan dari patogen.

Kelemahan utama vaksin konvensional adalah vaksin tidak memberikan perlindungan yang efektif pada orang dengan kondisi sistem imun yang lemah, termasuk lansia. Sekalipun bisa membentuk kekebalan, biasanya diperlukan dosis vaksin yang lebih tinggi.

Dalam proses produksi dan percobaan, pembuatan vaksin molekul RNA diklaim lebih aman karena tidak melibatkan partikel patogen yang berisiko menyebabkan infeksi. Maka itu, vaksin mRNA dinilai memiliki efektivitas yang lebih tinggi dengan risiko efek samping yang juga lebih rendah. Lamanya waktu pembuatan vaksin mRNA juga lebih cepat dan langsung bisa dilakukan dalam skala besar

Melansir ulasan ilmiah dari peneliti Cambridge University, proses manufaktur vaksin mRNA untuk virus ebola, H1N1 influenza, dan toksoplasma bisa diselesaikan rata-rata dalam satu minggu. Oleh karena itu, vaksin molekul RNA dapat menjadi solusi yang diandalkan dalam pengentasan epidemi penyakit baru.

Vaksin mRNA berpotensi mengobati kanker

Vaksin untuk kanker

Sebelumnya vaksin dikenal untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri dan virus. Namun vaksin molekul RNA berpotensi digunakan sebagai obat untuk penyakit kanker.

Metode yang digunakan dalam pembuatan vaksin mRNA, ternyata memberikan hasil meyakinkan dalam pembuatan imunoterapi yang berfungsi menstimulasi sistem imun untuk melemahkan sel kanker.

Masih dari peneliti Cambridge University, diketahui hingga saat ini telah dilakukan lebih dari 50 percobaan klinis terhadap penggunaan vaksin molekul RNA dalam pengobatan kanker. Penelitian yang menunjukkan hasil positif di antaranya pada kanker darah, melanoma, kanker otak, dan kanker prostat.

Akan tetapi, kegunaan vaksin molekul RNA untuk pengobatan kanker masih perlu melakukan uji klinis yang lebih masif untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Aturan Imunisasi untuk Bayi Prematur Ini Penting Diketahui

Bayi prematur cenderung terlahir lemah dengan berat badan rendah. Untuk itu, perhatikan hal ini saat melakukan imunisasi bayi prematur.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Bayi, Bayi Prematur, Parenting 13 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Rencana pemerintah Indonesia untuk mempercepat proses imunisasi vaksin COVID-19 diprotes banyak kolegium dokter. Adakah bahaya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Vaksin MMR: Manfaat, Jadwal, dan Efek Samping

MMR adalah singkatan dari tiga macam penyakit infeksi fatal yang paling rentan menyerang anak-anak di tahun pertama kehidupannya. Kapan harus vaksin MMR?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 9 menit

Hal yang Harus Dilakukan Orangtua saat Lupa Jadwal Imunisasi Anak

Terkadang orangtua lupa dengan jadwal imunisasi sehingga terlambat imunisasi. Apa yang harus dilakukan bila anak telat imunisasi?

Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ketahanan vaksin

Berapa Lama Ketahanan Vaksin Bekerja di Dalam Tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 6 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
penyakit difteri pada anak

Difteri

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
polio adalah

Polio, Penyakit yang Menyebabkan Kelumpuhan Otot

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit
vaksin untuk dewasa

Tak Hanya Anak, Imunisasi Juga Penting untuk Orang Dewasa

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 21 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit