backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

4

Tanya Dokter
Simpan

Panduan Pengobatan Pasien Demam Berdarah (DBD) di Rumah dan Rawat Inap

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 15/06/2022

    Panduan Pengobatan Pasien Demam Berdarah (DBD) di Rumah dan Rawat Inap

    Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akibat infeksi virus dengue yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini bisa berakibat fatal bila penanganannya tidak tepat. Ikuti ulasan lengkap seputar pengobatan demam berdarah (DBD) di bawah ini.

    Apakah pasien DBD harus diopname atau boleh dirawat di rumah?

    Infus untuk HHS

    Demam berdarah ringan hanya akan memicu demam dan gejala-gejala lain yang menyerupai flu. Akan tetapi, demam berdarah dengue atau dengue hemorrhagic fever (DHF) yang parah bisa menyebabkan perdarahan serius hingga kematian.

    Hingga saat ini, tidak ada satu jenis obat pasti untuk menyembuhkan penyakit akibat virus dengue ini. Pengobatan hanya diberikan untuk mengendalikan gejala hingga pasien pulih kembali.

    Oleh sebab itu, pasien DBD bisa diperbolehkan dirawat di rumah bila gejalanya ringan. Namun, dokter pasti meminta Anda untuk diopname bila mengalami demam berdarah serius.

    Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), opname alias rawat inap sangat diperlukan bagi pasien demam berdarah serius. Dalam kondisi ini, pasien akan melewati beberapa fase DBD, termasuk fase kritis selama 24 hingga 48 jam lamanya.

    Masa-masa tersebut akan menentukan peluang pasien untuk bertahan hidup. Apabila penanganan pasien DBD tidak tepat, akibatnya bisa fatal dan bahkan berujung pada kematian.

    Segera cari bantuan medis bila Anda mengalami gejala demam berdarah serius, meliputi:

    • sakit perut yang parah,
    • muntah terus-menerus,
    • napas memburu,
    • perdarahan pada gusi,
    • tubuh sangat lemas,
    • muntah darah, dan
    • suhu tubuh tidak stabil (demam naik-turun).

    Selama opname, pasien DBD bisa memperoleh cairan infus yang mengandung elektrolit untuk mencegah dehidrasi, pemantauan tekanan darah, hingga transfusi darah bila mengalami perdarahan.

    Dokter dan perawat juga selalu siap sedia di rumah sakit untuk memantau sekaligus membantu meningkatkan kondisi pasien demam berdarah.

    Pengobatan demam berdarah (DBD) agar tidak bertambah parah

    Minum obat antibiotik untuk radang tenggorokan

    Jika Anda atau orang terdekat mengalami demam berdarah, ada baiknya lakukan hal-hal berikut sebagai pengobatan awal agar kondisinya tidak bertambah parah.

    1. Mengonsumsi cairan dalam jumlah banyak

    Dehidrasi pada pasien DBD bisa disebabkan oleh tingginya suhu tubuh akibat demam dan muntah sehingga mengurangi cairan tubuh. Kondisi ini biasanya ditandai dengan mulut kering, kelelahan, kebingungan, dan menurunnya frekuensi buang air kecil.

    Jika tidak segera ditangani, dehidrasi bisa memengaruhi fungsi ginjal dan otak. Bahkan, dehidrasi yang parah juga bisa berdampak pada kematian.

    Cara mengobati dehidrasi pada pasien demam berdarah bisa dilakukan dengan memperbanyak asupan cairan, baik dari air putih atau jus buah-buahan.

    Namun, dalam kasus dehidrasi parah, pasien DBD perlu memperoleh cairan infus yang hanya dapat dilakukan di rumah sakit.

    2. Minum oralit

    minuman untuk diare

    Bukan hanya untuk diare, oralit juga bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan cairan pada pasien demam berdarah (DBD). 

    Oralit merupakan kombinasi antara glukosa dan sodium. Keduanya bisa membantu mengembalikan keseimbangan cairan tubuh pasien DBD yang mengalami dehidrasi ringan hingga menengah.

    Orang yang mengalami demam berdarah disertai gejala muntah bisa minum oralit untuk menggantikan cairan yang hilang, tentunya dilengkapi dengan minum banyak air putih.

    Selain oralit kemasan, Anda juga bisa membuat larutan oralit sendiri dengan mencampur dua sendok teh gula dan setengah sendok teh garam ke segelas air matang.

    3. Mengonsumsi obat pereda demam dan nyeri

    Jika pasien demam berdarah menjalani pengobatan di rumah, Anda bisa menggunakan obat pereda nyeri dan demam seperti paracetamol untuk mengurangi gejala-gejalanya.

    Akan tetapi, tidak semua jenis obat ini aman untuk pasien DBD. Ada baiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui obat mana yang bisa dikonsumsi.

    Beberapa jenis obat pereda nyeri lain, seperti aspirin dan ibuprofen, tidak boleh dikonsumsi pasien DBD. Obat-obatan tersebut justru bisa meningkatkan risiko perdarahan.

    4. Mengonsumsi jambu biji dan makanan sehat yang mudah dicerna

    minum jus jambu untuk DBD

    Jambu biji merupakan salah satu makanan untuk pasien DBD yang dianjurkan. Buah ini mengandung vitamin C dan trombinol yang membantu mempercepat pertumbuhan trombosit baru sehingga nilainya bisa pulih di atas ambang normal.

    Selain itu, jambu biji juga kaya quercetin yang berfungsi menghambat pertumbuhan virus yang menyerang tubuh, termasuk virus dengue penyebab demam berdarah.

    Anda bisa mengonsumsi jambu biji dalam bentuk segar maupun jus. Namun, selalu pastikan kandungan gulanya tidak terlalu tinggi.

    Tak hanya jambu biji, dokter biasanya juga menyarankan pasien untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna, seperti makanan rebus, sayuran hijau, dan buah-buahan tertentu.

    5. Minum suplemen dan vitamin

    Selain dari sayur dan buah, dokter juga menganjurkan Anda untuk memenuhi asupan vitamin dan mineral tambahan dengan mengonsumsi suplemen.

    Pilihlah suplemen vitamin C yang baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ada pula suplemen seng (zinc) yang tubuh butuhkan untuk melawan penyakit demam berdarah.

    Sebuah studi dalam International Journal of Preventive Medicine (2018) menemukan kasus kekurangan zinc cukup banyak ditemukan dalam tubuh pasien DBD.

    Oleh karena itu, asupan suplemen mineral sangatlah penting untuk membantu mengatasi penyakit akibat infeksi virus dengue ini.

    6. Melakukan istirahat secara total

    Beristirahat total atau bed rest dianjurkan untuk pasien demam berdarah. Pasalnya, kurangnya istirahat bisa mengakibatkan pengobatan demam berdarah tidak bekerja dengan maksimal.

    Tubuh pasien DBD biasanya memiliki kadar trombosit sangat rendah sehingga mudah mengalami perdarahan. Kurangnya istirahat yang dibarengi dengan aktivitas berat tentu akan memudahkan terjadinya perdarahan.

    Perawatan rumahan tidak dapat menggantikan penanganan DBD di rumah sakit sepenuhnya. Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh perawatan terbaik.

    7. Menggunakan obat-obatan alami

    Penggunaan obat alami DBD juga sangat dianjurkan untuk mengobati demam berdarah dengan cepat. Terdapat beberapa bahan tradisional yang sudah teruji secara klinis dapat membantu mempercepat pemulihan pasien DBD.

    Salah satunya yakni angkak, alias beras merah asal Tiongkok yang difermentasi. Obat herbal ini diberikan dalam bentuk kapsul, teh, atau makanan yang sudah dicampur dengan bubuknya.

    Sebuah penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 2012 menunjukkan bahwa angkak efektif dalam meningkatkan kadar trombosit yang rendah.

    8. Mendapatkan transfusi darah

    transfusi tukar

    Dokter akan berhati-hati sebelum memberikan transfusi darah pada pasien DBD. Pasalnya, hal ini mungkin bisa memicu reaksi alergi dan memperburuk kondisi pasien setelahnya.

    Transfusi darah pada pasien DBD biasanya berupa transfusi trombosit atau faktor pembekuan. Pasien hanya menerima komponen tertentu dari darah untuk mencegah perdarahan parah.

    Oleh sebab itu, pengobatan ini hanya dokter lakukan pada pasien DBD rawat inap yang mengalami perdarahan terus-menerus. 

    Trombosit yang ditransfusikan membantu tubuh supaya tidak kehabisan cadangan trombosit untuk menghentikan perdarahan yang terjadi.

    Selain berbagai hal di atas, pencegahan DBD menjadi langkah pengobatan demam berdarah yang paling efektif untuk Anda lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

    Tidak adanya vaksin untuk melindungi diri dari virus dengue membuat Anda perlu menghindari gigitan nyamuk semaksimal mungkin.

    Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan 3M (menguras, mengubur, dan mendaur ulang) dan menggunakan obat pengusir nyamuk.

    Gigitan nyamuk juga bisa dihindari dengan memakai pakaian tertutup, memasang kelambu pada tempat tidur, dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada sore dan malam hari.

    Catatan

    Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

    General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


    Ditulis oleh Satria Aji Purwoko · Tanggal diperbarui 15/06/2022

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan