Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Panduan Pengobatan Pasien Demam Berdarah (DBD) di Rumah atau Dirawat Inap

Panduan Pengobatan Pasien Demam Berdarah (DBD) di Rumah atau Dirawat Inap

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan utamanya melalui nyamuk Aedes aegypti. Tanpa penanganan yang tepat, demam berdarah bisa berkembang menjadi kondisi yang fatal. Ikuti ulasan lengkap seputar pengobatan demam berdarah atau DBD di bawah ini.

Apa pasien DBD harus diopname atau boleh dirawat di rumah?

Infus untuk HHS

Demam berdarah ringan umumnya ditandai oleh demam tinggi yang mendadak, sakit kepala hebat, rasa sakit di belakang mata, otot, serta sendi, hilangnya nafsu makan, mual, dan ruam pada permukaan kulit. Sedangkan pada demam berdarah yang parah, atau juga dikenal sebagai dengue hemorrhagic fever, dapat menyebabkan perdarahan serius, penurunan tekanan darah yang tiba-tiba (shock), bahkan kematian.

Pada dasarnya, tidak ada satu jenis obat tertentu untuk menyembuhkan DBD. Pasalnya, penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang hingga saat ini belum ditemukan penawarnya. Perawatan dan pengobatan yang diberikan pada pasien demam berdarah hanya untuk mengendalikan gejala dan kondisi pasien sampai pulih kembali.

Karena itu, dokter mungkin saja mengizinkan Anda untuk rawat jalan di rumah. Akan tetapi, kalau Anda mengalami demam berdarah serius, dokter pasti meminta Anda untuk rawat inap di rumah sakit. Ingat, hanya dokter yang bisa menentukan pilihan ini setelah mengevaluasi kondisi dan hasil tes darah Anda.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), rawat inap sangat diperlukan bagi orang yang terkena demam berdarah serius. Masalahnya, pasien akan melewati beberapa fase DBD, termasuk fase kritis selama 24 hingga 48 jam lamanya. Masa-masa ini yang akan menentukan peluang pasien untuk bertahan hidup. Bila pada saat ini pasien tidak ditangani dengan tepat, akibatnya bisa fatal.

Sedangkan kalau pasien demam berdarah serius dirawat di rumah, ia tidak akan mendapatkan bantuan medis yang memadai. Bantuan yang hanya tersedia di rumah sakit antara lain cairan infus yang mengandung elektrolit, pemantauan tekanan darah, hingga transfusi darah kalau pasien mengalami perdarahan. Selain itu, dokter dan perawat juga selalu siap sedia di rumah sakit untuk memantau serta membantu meningkatkan kondisi Anda.

Tanda-tanda demam berdarah yang harus dirawat di rumah sakit

Jangan menyepelekan berbagai ciri-ciri demam berdarah serius. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian bila terlambat ditangani atau tidak ditangani dengan benar. Karena itu, pasien DBD harus rawat inap kalau penyakitnya sudah parah.

Segera cari bantuan medis darurat kalau pasien mengalami berbagai tanda demam berdarah serius berikut ini.

  • Sakit perut yang parah
  • Muntah terus-menerus
  • Napas memburu
  • Perdarahan di gusi
  • Tubuh sangat lemas
  • Muntah darah
  • Suhu tubuh tidak stabil (demam naik-turun)

Pengobatan demam berdarah (DBD) agar tidak bertambah parah

Pengobatan pasien demam berdarah disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Jika pasien tidak mengalami kebocoran plasma, dehidrasi, atau gejala yang mengkhawatirkan, ia boleh melakukan rawat jalan. Sementara bila kondisi pasien sudah kritis atau berisiko mengalami kondisi yang membahayakan, maka akan dianjurkan untuk rawat inap.

Baik dirawat di rumah atau diopname, diperlukan pengobatan yang mampu membantu proses pemulihan serta mengurangi gejala DBD. Hal ini dikarenakan tidak ada penanganan spesifik untuk DBD, kebanyakan pasien biasanya pulih dalam 2 minggu.

Jika Anda atau keluarga mengalami gejala demam berdarah ringan, ada baiknya lakukan hal-hal berikut sebagai pengobatan awal untuk mencegahnya agar tidak semakin parah:

1. Mengonsumsi cairan dalam jumlah banyak

Minum obat antibiotik untuk radang tenggorokan

Pasien demam berdarah sebisa mungkin mencukupi asupan cairan selama menjalani pengobatan. Semakin tinggi suhu tubuh, semakin rentan individu mengalami dehidrasi. Selain itu, muntah juga dapat mengurangi cairan yang ada di dalam tubuh. Jika gejala DBD ini tidak mendapatkan penanganan dengan segera, Anda bisa mengalami dehidrasi.

Dehidrasi biasanya ditandai dengan mulut atau bibir kering, kelelahan dan kebingungan, menggigil, serta frekuensi buang air kecil yang jarang. Dehidrasi bisa berbahaya jika tidak ditangani segera, karena bisa berpengaruh pada organ ginjal dan otak. Bahkan, bisa berdampak pada kematian.

Dari mulai air putih hingga jus buah sebaiknya dikonsumsi oleh pasien. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah dehidrasi karena demam, serta membantu menurunkan demam.

Selain itu, mengonsumsi banyak air juga cara yang ampuh untuk mengatasi gejala demam berdarah lainnya, seperti kram otot dan sakit kepala akibat dehidrasi. Air juga akan membantu menghilangkan racun berlebih dalam tubuh untuk dikeluarkan melalui urine.

Pemenuhan kebutuhan cairan saat DBD dapat dibantu melalui cairan infus. Namun, cara ini tidak dapat dilakukan secara mandiri, melainkan tindakan dari tim medis. Pemberian cairan infus diberikan kepada pasien yang mengalami dehidrasi menengah hingga berat.

2. Minum oralit

Bukan hanya untuk diare saja, oralit juga memenuhi kebutuhan cairan pada orang DBD. Oralit merupakan kombinasi antara glukosa dan sodium. Keduanya dapat membantu mengembalikan keseimbangan cairan dalam tubuh pasien DBD yang dehidrasi ringan hingga menengah.

Orang yang mengalami DBD dan disertai gejala muntah bisa mengonsumsi oralit untuk menggantikan cairan yang hilang, selain dengan konsumsi banyak air putih.

3. Mengonsumsi obat pereda demam dan nyeri

obat penyubur kandungan cepat hamil

Apabila pasien demam berdarah menjalani pengobatan di rumah, Anda bisa menggunakan obat pereda demam dan nyeri untuk mengurangi gejala-gejala DBD. Obat-obatan ini bisa Anda dapatkan di apotek terdekat tanpa harus memakai resep dokter.

Paracetamol dapat menjadi pilihan untuk meringankan nyeri dan menurunkan demam. Namun, ada baiknya juga Anda berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui obat mana yang sebaiknya dikonsumsi.

Pasalnya, terdapat beberapa obat yang tidak boleh dikonsumsi ketika seseorang menderita demam berdarah, seperti aspirin atau ibuprofen. Obat-obatan tersebut justru dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.

4. Mengonsumsi jambu biji dan makanan sehat yang mudah dicerna

minum jus jambu untuk DBD

Untuk makanan khusus penderita DBD, dokter biasanya mengajurkan yang mudah dicerna seperti makanan yang direbus, sayuran hijau, serta buah-buahan. Salah satu buah yang sudah dikenal manfaatnya untuk mengobati demam berdarah ialah jambu biji. Jambu biji mengandung vitamin C yang dapat membantu mempercepat pembentukan trombosit baru.

Pada pasien demam berdarah, trombosit dalam tubuhnya biasanya berada dalam di bawah ambang normal. Jambu biji mengandung trombinol yang mampu merangsang trombopoietin lebih aktif, sehingga dapat membantu tubuh menghasilkan trombosit yang lebih banyak. Untuk itu mengonsumsi jambu biji bisa menjadi cara efektif untuk membantu meningkatkannya kembali.

Selain itu, jambu biji kaya akan quercetin, yaitu senyawa kimia alami yang bisa ditemukan dalam berbagai jenis buah dan sayur. Senyawa tersebut berguna untuk menghambat pertumbuhan virus yang menyerang tubuh, termasuk virus dengue.

Bolehkah pasien minum jus jambu dalam kemasan untuk pengobatan demam berdarah? Tentu boleh, selama Anda memperhatikan kandungan nutrisi dalam kemasan jus tersebut. Pastikan jus tersebut tidak mengandung terlalu banyak gula atau justru mengandung sedikit sekali sari buah jambu asli di dalamnya.

5. Minum suplemen dan vitamin

mencegah infeksi virus

Suplemen dan vitamin juga diperlukan dalam pengobatan demam berdarah. Selain dari sayur dan buah-buahan, asupan tambahan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh bisa Anda dapatkan dengan mengonsumsi suplemen.

Anda bisa memilih suplemen vitamin C yang baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Selain vitamin C, seng (zinc) juga merupakan mineral penting yang dibutuhkan tubuh untuk melawan penyakit demam berdarah.

Menurut sebuah artikel dari International Journal of Preventive Medicine, kasus kekurangan seng dalam tubuh cukup banyak ditemukan pada penderita DBD. Oleh karena itu, asupan seng yang cukup sangat penting untuk membantu mengatasi infeksi virus dengue ini.

6. Melakukan istirahat secara total

Cara paling mudah untuk mengobati demam berdarah adalah beristirahat total. Beristirahat secara total atau bed rest sangat dianjurkan untuk pasien demam berdarah jenis apapun. Hal ini dilakukan sebagai cara untuk mempercepat pemulihan. Kurang istirahat akan mengakibatkan pengobatan demam berdarah tidak bekerja dengan maksimal.

Pada orang dengan DBD, kadar trombosit sangat rendah dan perdarahan sangat mudah terjadi. Ini sebabnya orang dengan demam berdarah biasanya akan diminta untuk istirahat total. Aktivitas berat mudah menyebabkan pendarahan pada orang dengan kadar trombosit yang rendah.

Perawatan rumahan untuk pasien demam berdarah hanyalah perawatan yang bersifat tambahan sebagai pengganti opname di rumah sakit. Hal ini juga tidak bisa dilakukan sembarangan dan bergantung pada kondisi pasien. Anda tetap perlu berkonsultasi pada dokter untuk mendapatkan perawatan terbaik.

7. Menggunakan obat-obatan alami

Penggunaan bahan-bahan alami untuk DBD juga sangat dianjurkan dalam cara mengobati DBD dengan cepat. Terdapat beberapa obat tradisional yang sudah teruji secara klinis dapat membantu mempercepat pemulihan pasien DBD.

Salah satunya adalah angkak alias beras merah dari Tiongkok yang difermentasi. Sebuah penelitian dari Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa ekstrak angkak berpotensi meningkatkan kadar trombosit yang rendah.

8. Mendapatkan transfusi darah

Transfusi darah cara penularan hepatitis

Apakah pasien demam berdarah atau DBD perlu mendapatkan perawatan transfusi darah? Hal ini tergantung dari kondisi pasien.

Dokter biasanya sangat berhati-hati sebelum memberikan transfusi pada pasien DBD, dan tidak semua orang dengan DBD dapat langsung ditransfusi. Belum lagi transfusi ini dapat menyebabkan reaksi alergi. Ini akan menjadi masalah lain yang dapat memperburuk keadaan pasien.

Darah yang digunakan pun tidak boleh sembarangan. Biasanya, transfusi yang diberikan adalah berupa transfusi trombosit atau faktor pembekuan. Bedanya dengan transfusi darah biasa adalah, pasien hanya akan menerima konsentrasi atau komponen-komponen tertentu dari darah, yang mencegah terjadinya perdarahan parah.

Oleh karena itu, biasanya cara mengobati DBD dengan transfusi hanya dilakukan pada pasien rawat inap yang mengalami perdarahan terus menerus. Saat perdarahan hebat terjadi, trombosit akan terus digunakan oleh tubuh untuk mencoba menghentikan pendarahan. Guna transfusi trombosit pada kasus ini adalah membantu tubuh agar tidak kehabisan cadangan trombosit untuk menghentikan pendarahan yang terjadi.

Biasanya transfusi akan dihentikan saat pendarahan sudah berhenti. Setelah ini terjadi, pasien tetap harus istirahat terlebih dahulu dan meneruskan metode-metode pengobatan demam berdarah lainnya.

Cegah demam berdarah dengan cara-cara berikut

Pencegahan merupakan jenis pengobatan demam berdarah yang paling efektif. Hal ini disebabkan karena tidak ada vaksin yang bisa melindungi virus demam berdarah. Menghindari gigitan nyamuk menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegahnya.

Berikut beberapa cara yang dapat dilalui untuk mencegah DBD, yaitu:

  • Lakukan langkah 3M, yaitu menguras penampungan air, mengubur barang bekas, serta mendaur ulang barang bekas.
  • Gunakan pakaian yang menutupi seluruh bagian tubuh, seperti celana panjang, kemeja lengan panjang, serta kaus kaki. Terutama jika Anda melakukan perjalanan ke daerah tropis.
  • Gunakan obat pengusir nyamuk dengan konsentrasi paling sedikit 10 persen diethyltoluamide (DEET), atau konsentrasi yang lebih tinggi untuk pemaparan yang lebih lama. Hindari penggunaan DEET pada anak-anak.
  • Tutup pintu dan jendela rumah jika sudah menjelang sore karena nyamuk Aedes biasanya banyak berkeliaran di waktu senja.
  • Hindari berada di luar rumah pada dini hari, sore, dan malam hari dimana nyamuk banyak berkeliaran.
Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dengue and severe dengue – WHO. (2020). Retrieved November 23, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue 

Dengue/Severe dengue frequently asked questions – WHO. (2017). Retrieved November 23, 2020, from https://www.who.int/denguecontrol/faq/en/index3.html   

Comprehensive Guidelines for Prevention and Control of Dengue and Dengue Haemorrhagic Fever. (2011). Retrieved November 23, 2020, from https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/204894/B4751.pdf?sequence=1&isAllowed=y 

Dengue fever – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2018). Retrieved November 23, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/diagnosis-treatment/drc-20353084 

Dehydration – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center. (n.d.). Retrieved November 23, 2020, from https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=85&contentid=P00828 

Dehydration – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic. (2018). Retrieved November 23, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dehydration/diagnosis-treatment/drc-20354092 

Vitamin C – MedlinePlus. (2019). Retrieved November 23, 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/002404.htm  

Demam Berdarah – Centre for Health Protection. (n.d.). Retrieved November 23, 2020, from https://www.chp.gov.hk/files/pdf/ol_dengue_fever_indonesian_version.pdf 

Abd Kadir, S. L., Yaakob, H., & Mohamed Zulkifli, R. (2013). Potential anti-dengue medicinal plants: a review. Journal of natural medicines, 67(4), 677–689. https://doi.org/10.1007/s11418-013-0767-y 

Azeredo, E., Monteiro, R., Pinto, LM. (2015). Thrombocytopenia in Dengue: Interrelationship between Virus and the Imbalance between Coagulation and Fibrinolysis and Inflammatory Mediators. Mediators of Inflammation, https://doi.org/10.1155/2015/313842 

Mishra, S., Agrahari, K., Shah, DK. (2017). Prevention and control of dengue by diet therapy. International Journal of Mosquito Research.

Atik, N. and Munawir, M., 2017. Effect of Guava Extract Administration on Megakaryocytes Amount in Mice Femur. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 6(2), pp.116-122.

Rerksuppaphol, S., & Rerksuppaphol, L. (2018). A Randomized Controlled Trial of Zinc Supplementation as Adjuvant Therapy for Dengue Viral Infection in Thai Children. International journal of preventive medicine, 9, 88. https://doi.org/10.4103/ijpvm.IJPVM_367_17 

Vuong, N. L., Manh, D. H., Mai, N. T., Phuc, l., Luong, V. T., Quan, V. D., Thuong, N. V., Lan, N. T., Nhon, C. T., Mizukami, S., Doan, N. N., Huong, V. T., Huy, N. T., & Hirayama, K. (2016). Criteria of “persistent vomiting” in the WHO 2009 warning signs for dengue case classification. Tropical medicine and health, 44, 14. https://doi.org/10.1186/s41182-016-0014-9 

Kaur, P., & Kaur, G. (2014). Transfusion support in patients with dengue fever. International journal of applied & basic medical research, 4(Suppl 1), S8–S12. https://doi.org/10.4103/2229-516X.140708 

Hasim, DA., Satyaningtijas, AS., Rosary, F. (2015). Combination of Angkak (Red Yeast Rice), Red Guava (Psidium guajava Linn) Leaf Extract and Red Guava Fruit Juice Increase Thrombocyte in Quinine-Exposed Rats. IOSR Journal of Pharmacy, 01-06

Iswantini, D., Hertati, A., Ekawati, N. (2012). Peningkatan Kadar Trombosit oleh Kapsul Monascus Powder (MP) pada Hewan Uji Tikus Putih Sprague dawley. UT – Chemistry. 

Saptawati, L., Febrinasari, RP., Yudhani, ED., Hudyono, Faza, AG., et al. In vitro study of eight Indonesian plants extracts as anti Dengue virus. Health Science Journal of Indonesia.

Berlian, G., Tandrasasmita, O., & Tjandrawinata, R. (2017). Trombinol, a bioactive fraction of Psidium guajava , stimulates thrombopoietin expression in HepG2 cells. Asian Pacific Journal Of Tropical Biomedicine, 7(5), 437-442. https://doi.org/10.1016/j.apjtb.2016.09.010 

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Widya Citra Andini Diperbarui 23/02/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.