Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Mengenali Bintik Merah Tanda Demam Berdarah (DBD)

Mengenali Bintik Merah Tanda Demam Berdarah (DBD)

Siapa yang tidak kenal demam berdarah dengue, atau yang biasa kita kenal dengan DBD? Penyakit menular ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Nah, salah satu gejala yang paling khas dari DBD adalah munculnya bintik merah atau ruam pada kulit. Namun, masih banyak orang yang salah mengartikan bintik merah tersebut dengan penyakit lain karena kemiripannya. Yuk, kenali lebih dalam bintik merah khas demam berdarah atau DBD dan seperti apa perbedaannya dengan penyakit lain.

Memahami bintik-bintik merah pada pasien DBD

Demam berdarah dengue atau DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue, yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Ketika seseorang terkena infeksi virus dengue, gejala-gejala DBD akan mulai muncul 4-7 hari setelah digigit nyamuk pertama kali.

Gejala-gejala tersebut dapat meliputi sebagai berikut.

  • Demam tinggi mendadak.
  • Sakit kepala dan nyeri di mata.
  • Sakit otot dan nyeri sendi.
  • Mual dan muntah.
  • Muncul bintik merah atau ruam.

Nah, salah satu gejala DBD yang masih sering dijumpai adalah munculnya bintik-bintik merah pada kulit.

Bintik atau ruam merah akan memenuhi area muka, leher, dada, dan kadang muncul pula di lengan serta kaki.

Meskipun kulit direnggangkan, bintik merah tersebut juga ternyata akan tetap terlihat.

Ruam merah pada awal-awal gejala DBD biasanya timbul 2-5 hari setelah Anda pertama kali mengalami demam.

Ruam yang muncul pada periode ini akan berbentuk seperti bercak kemerahan, yang terkadang disertai dengan beberapa bercak putih di tengah-tengahnya.

Ruam merah dan bintik-bintik kemudian biasanya akan berkurang saat memasuki hari ke-4 dan ke-5, hingga akhirnya menghilang setelah hari ke-6.

Setelah itu, bintik-bintik merah baru akan muncul 3-5 hari setelah gejala pertama muncul. Wujud bintik-bintik inilah yang cukup mengecoh karena mirip dengan penyakit lain, seperti campak.

Mengapa ruam dan bintik merah DBD bisa muncul?

Ruam dan bintik-bintik merah yang muncul saat mengalami demam berdarah muncul karena adanya beberapa kemungkinan.

Yang pertama adalah respons sistem imun tubuh pasien saat terserang virus.

Ketika virus dengue menginfeksi tubuh, maka sistem kekebalan tubuh akan bereaksi dalam upaya membasmi virus tersebut.

Salah satu bentuk reaksi yang muncul adalah timbulnya ruam serta bintik. Kemungkinan kedua adalah pelebaran pembuluh darah kapiler.

Pembuluh kapiler terletak cukup dekat dengan permukaan kulit, sehingga bercak-bercak kemerahan sangat mudah terlihat jika pembuluh tersebut melebar.

Namun, belum diketahui secara pasti apa penyebab melebarnya pembuluh kapiler. Fenomena ini kemungkinan berkaitan erat dengan turunnya kadar trombosit darah pada pasien DBD.

Apa perbedaan bintik merah DBD dengan penyakit lain?

Beberapa tahun belakangan ini telah disepakati bahwa gejala klinis DBD bervariasi, sehingga perkembangan penyakit ini sulit untuk diperkirakan.

Hal ini dikarenakan berbedanya hasil temuan kasus di lapangan dengan teori yang ada. Ini yang menyebabkan gejala awal DBD terkadang sulit dibedakan dengan beberapa penyakit lainnya.

Salah satu penyakit yang cukup sering disalahartikan dengan gejala DBD adalah campak.

Campak sendiri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh paramyxovirus, yang ditularkan melalui kontak udara (airborne).

Campak juga menimbulkan gejala berupa munculnya ruam kemerahan di kulit yang disertai dengan demam tinggi.

Lalu, bagaimana cara membedakannya dengan bintik merah atau ruam pada pasien DBD?

1. Waktu kemunculannya

Hal yang menjadi pembeda ruam atau bintik merah DBD dengan campak adalah waktu kemunculannya. Gejala DBD biasanya akan muncul 2-5 hari setelah pasien pertama kali terpapar virus.

Gejala yang pertama kali muncul biasanya berupa demam, dan ruam baru akan muncul 2 hari sejak pasien pertama kali mengalami demam.

Berbeda dengan DBD, campak membutuhkan waktu 10-12 hari hingga gejala demam muncul pertama kali setelah paparan pertama virus.

Ditambah lagi, ruam pada penyakit campak biasanya timbul pada hari ke-3 setelah pasien mengalami demam, lalu akan bertambah banyak pada hari ke-6 dan ke-7. Ruam bahkan bisa bertahan selama 3 minggu.

2. Bekas yang ditinggalkan

Ruam dan bintik merah DBD dan campak sama-sama menghilang setelah 5-6 hari. Namun, bekas yang ditinggalkan biasanya akan berbeda.

Pada pasien DBD, ruam dan bintik yang menghilang tidak akan meninggalkan bekas sama sekali.

Sementara itu, campak biasanya akan menyebabkan pengelupasan pada area ruam, sehingga meninggalkan bekas kecoklatan pada kulit.

3. Gejala yang menyertainya

Bintik merah dan ruam DBD bisa juga dibedakan dengan campak berdasarkan gejala lain yang menyertainya.

Meski keduanya sama-sama ditandai dengan demam tinggi, terdapat sedikit perbedaan yang bisa Anda kenali.

Demam tinggi dan ruam akibat campak biasanya diikuti dengan gejala batuk, sakit tenggorokan, hidung meler, serta mata merah (konjungtivitis).

Akan tetapi, ruam DBD tidak disertai dengan gejala-gejala tersebut.

Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi demam berdarah?

Jika ruam dan bintik merah yang muncul di kulit Anda sudah dipastikan sebagai gejala DBD, Anda sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan DBD yang tepat.

Pasalnya, penyakit demam berdarah berisiko berkembang menjadi semakin parah jika tidak ditangani dengan baik, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi DBD yang berbahaya.

Anda juga bisa melakukan langkah-langkah pencegahan DBD agar Anda dan orang-orang terdekat tidak terkena penyakit ini.

Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam mencegah DBD.

  • Melakukan langkah 3M (menguras penampungan air, menutup penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas).
  • Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan.
  • Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk.
  • Menggunakan kelambu saat tidur.
  • Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk.
  • Menanam tanaman pengusir nyamuk.
  • Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah.
  • Menghindari kebiasaan menggantung pakaian serta menyimpan barang bekas di dalam rumah yang bisa menjadi tempat nyamuk berkumpul.
Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Dengue and severe dengue – Fact sheets – WHO. (2020). Retrieved November 13, 2020, from https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/dengue-and-severe-dengue 

Measles – WHO. (2019). Retrieved November 13, 2020, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles 

About Dengue – CDC. (2019). Retrieved November 13, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/about/index.html 

Clinical Presentation – CDC. (2019). Retrieved November 13, 2020, from https://www.cdc.gov/dengue/healthcare-providers/clinical-presentation.html  

What does measles rash look like? – HealthDirect. (2018). Retrieved November 13, 2020, from https://www.healthdirect.gov.au/blog/what-does-measles-rash-look-like 

Dengue fever – Mayo Clinic. (2018). Retrieved November 13, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dengue-fever/symptoms-causes/syc-20353078 

Measles – Mayo Clinic. (2020). Retrieved November 13, 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/measles/symptoms-causes/syc-20374857 

Dengue fever – MedlinePlus. (2020). Retrieved November 13, 2020, from https://medlineplus.gov/ency/article/001374.htm 

Measles (Bahasa Indonesia version) – Centre for Health Protection. (2019). Retrieved November 13, 2020, from https://www.chp.gov.hk/files/pdf/measles_indonesian.pdf 

Buku Saku Pengendalian DBD – irjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes. (2013). Retrieved November 13, 2020, from http://kesmas-id.com/download/buku-saku-pengendalian-dbd/ 

Kendalikan DBD Dengan PSN 3M Plus – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Retrieved November 13, 2020, from https://www.kemkes.go.id/article/view/16020900002/kendalikan-dbd-dengan-psn-3m-plus.html#:~:text=Adapun%20yang%20dimaksud%20dengan%203M,nyamuk%3B%205)%20Menanam%20tanaman%20pengusir 

Kalayanarooj S. (2011). Clinical Manifestations and Management of Dengue/DHF/DSS. Tropical medicine and health, 39(4 Suppl), 83–87. https://doi.org/10.2149/tmh.2011-S10 

Huang, H., Tseng, H., Lee, C., Chuang, H., & Lin, S. (2016). Clinical significance of skin rash in dengue fever: A focus on discomfort, complications, and disease outcome. Asian Pacific Journal Of Tropical Medicine, 9(7), 713-718. https://doi.org/10.1016/j.apjtm.2016.05.013 

Thomas, E. A., John, M., & Kanish, B. (2010). Mucocutaneous manifestations of Dengue fever. Indian journal of dermatology, 55(1), 79–85. https://doi.org/10.4103/0019-5154.60359

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Theresia Evelyn Diperbarui 24/05/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.