Dinilai Belum Aman, Uji Klinis Hydroxychloroquine untuk Obat COVID-19 Ditunda

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Pertengahan Mei lalu, sekelompok peneliti dari University of Oxford memulai uji klinis terhadap hydroxychloroquine untuk melihat potensinya sebagai obat COVID-19. Tidak sampai seminggu kemudian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa uji klinis ini dihentikan sementara terkait alasan keamanan.

Hydroxychloroquine merupakan kandidat obat COVID-19 terbaru setelah chloroquine, remdesivir, dan beberapa kombinasi obat-obatan lainnya. Obat ini mempunyai fungsi yang mirip dengan chloroquine sehingga menjadi kandidat obat yang cukup berpotensi. Lantas, apa yang membuatnya gagal?

Bagaimana uji klinis hydroxychloroquine untuk COVID-19 dilakukan?

LIPI Uji Obat Herbal COVID-19 dari Daun Ketepeng dan Benalu

Hydroxychloroquine adalah obat untuk mencegah dan mengatasi gejala akut malaria. Namun, obat ini belakangan juga digunakan untuk mengatasi peradangan kronis pada penyakit rematik, lupus, serta penyakit autoimun sejenisnya.

Belum jelas mengapa hydroxychloroquine ampuh mengatasi peradangan. Banyak ahli menduga bahwa obat ini bekerja dengan memengaruhi jalur komunikasi sel sistem imun. Jalur komunikasi inilah yang mungkin memicu reaksi radang pada tubuh.

Peradangan juga menjadi masalah utama pada COVID-19. Begitu paru-paru terinfeksi SARS-CoV-2, sistem imun akan merespons dengan reaksi peradangan. Akan tetapi, proses ini juga menimbulkan kerusakan organ yang berakibat fatal.

Mengingat keampuhannya dalam mengatasi peradangan, hydroxychloroquine mungkin bisa menjadi solusi atas peradangan akibat coronavirus. Para peneliti pun mengusulkan uji klinis dengan memberikan hydroxychloroquine dan antibiotik azithromycin kepada pasien COVID-19.

Para peneliti memberikan obat minum kepada pasien COVID-19 secara acak. Mereka diminta meminum 400 miligram hydroxychloroquine dua kali pada hari pertama. Lalu, dosisnya dikurangi menjadi 200 miligram sebanyak dua kali sehari selama enam hari berikutnya.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

Selain hydroxychloroquine, pasien juga mengonsumsi 500 miligram azithromycin pada hari. Dosisnya kemudian dikurangi menjadi 250 miligram selama empat hari berikutnya. Sementara itu, pasien dari kelompok kontrol diberikan pil plasebo (bukan obat).

Selama 20 hari masa penelitian, para pasien akan mencatat gejalanya, perawatan yang didapatkan, serta situasi apa pun yang berkaitan dengan penyakitnya. Staf penelitian memantau kondisi pasien lewat telepon atau kunjungan ke rumah sakit bila memungkinkan.

Seluruh uji klinis ini bertujuan untuk menilai apakah hydroxychloroquine dan antibiotik dapat mengurangi kemungkinan pasien COVID-19 dirawat di rumah sakit. Selain itu, para peneliti juga akan menguji keamanan dan risikonya pada pasien COVID-19.

Uji klinis hydroxychloroquine dihentikan sementara

Peneliti membuat obat batuk rejan

Sayangnya, uji klinis bertajuk COPCOV ini dihentikan sementara pada Rabu (27/5). Sebuah laporan terbaru dalam jurnal The Lancet menyebutkan bahwa hydroxychloroquine tidak memberikan manfaat yang diharapkan pada pasien COVID-19.

Laporan tersebut turut mengungkapkan bahwa pemberian hydroxychloroquine mungkin malah meningkatkan risiko kematian pasien dalam uji klinis. Pasien yang mengonsumsi obat tersebut juga lebih berisiko mengalami gangguan denyut jantung dibandingkan yang tidak.

Pasien uji klinis terbagi menjadi tiga kelompok, yakni pasien yang mengonsumsi hydroxychloroquine, chloroquine, dan yang tidak meminum obat apa pun. Dari 43,4% pasien yang meninggal, sekitar 18% adalah yang mengonsumsi hydroxychloroquine. 

Sebanyak 16,4% pasien meninggal lainnya berasal dari kelompok yang mengonsumsi chloroquine, sedangkan 9% sisanya adalah pasien yang tidak diberikan obat apa pun. Angka kematian pasien yang meminum kombinasi hydroxychloroquine bahkan lebih tinggi lagi.

Uji klinis ini tidak semata-mata membuktikan bahwa hydroxychloroquine menyebabkan kematian pada pasien COVID-19. Bahkan, hydroxychloroquine dan azithromycin sebenarnya adalah obat yang tergolong aman bagi kebanyakan orang.

ibuprofen covid-19

Meski begitu, keduanya memang diketahui bisa menimbulkan sejumlah efek samping. Efek samping ringannya yakni sakit kepala dan mual. Ada pula laporan efek samping berat berupa masalah denyut jantung, tapi kondisi ini terbilang langka.

WHO pun memutuskan untuk menghentikan sementara uji klinis hydroxychloroquine hingga ada bukti terbaru terkait keamanannya. Para peneliti juga tidak menyarankan penggunaan obat ini di luar uji klinis karena belum terjamin aman bagi pasien.

Para peneliti di seluruh dunia sejauh ini telah meneliti berbagai obat yang berpotensi mengatasi dan mencegah COVID-19. Namun, proses pengembangan obat COVID-19 sama halnya dengan pengembangan vaksin yang terdiri dari banyak tahapan.

Tidak jarang, para peneliti harus menghadapi banyak kegagalan sebelum menemukan obat yang betul-betul bekerja. Sambil menanti kabar terbaru, Anda bisa ikut berperang melawan COVID-19 dengan mencuci tangan pakai sabun, menggunakan masker, dan menerapkan physical distancing.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan berikut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Pemerintah Indonesia mulai melakukan vaksinasi COVID-19 tahap 2 pada kelompok lansia dan petugas layanan publik. Bagaimana pelaksanaannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Digital Fatigue, Kelelahan Karena Penggunaan Media Digital

Meningkatnya penggunaan media digital perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan masalah baru yang disebut sebagai digital fatigue. Apa itu?

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kesehatan Mental 16 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Reaksi Alergi Vaksin COVID-19 dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Sejumlah kecil penerima vaksin COVID-19 mengalami reaksi alergi, namun tidak semua berbahaya. Apa saja syarat kelayakan menerima vaksin?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 15 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kopi untuk diabetes

Potensi Manfaat Kopi pada Penderita Prediabetes dan Diabetes di Masa Pandemi COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 5 Maret 2021 . Waktu baca 3 menit
Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit