Tips Merawat Hubungan Selama Physical dan Social Distancing dengan Pasangan

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 18 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Sejak diterapkan selama beberapa hari terakhir, social distancing ternyata cukup efektif menghambat penyebaran COVID-19. Namun, hal ini juga menjadi mimpi buruk bagi pasangan yang terpaksa menjalin hubungan jarak jauh sementara. Dengan banyaknya hal yang dibatasi, social distancing dengan pasangan ternyata tak semudah yang dikira.

Dalam hubungan jarak jauh, memang ada saja kendala yang dapat memicu datangnya konflik. Terlebih lagi bila Anda dan pasangan terpautkan jarak dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Walau demikian, ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan dengan pasangan agar physical dan social distancing tidak mengundang pertengkaran.

Tips menjaga asmara selama physical dan social distancing dengan pasangan

tips pasangan ldr

Jarangnya bertemu, kesibukan yang berbeda, hingga kendala berkomunikasi hanyalah segelintir faktor yang menjadi penyebab pasangan bertengkar ketika terpisahkan jarak. Rasa cemas dan stres akibat berita COVID-19 yang simpang siur pun bisa memperkeruh situasi ini.

Supaya hubungan Anda tidak ikut terkena dampaknya, berikut sejumlah tips menjaga hangatnya hubungan selama menjalani social distancing dengan pasangan.

1. Jangan mengkritik pasangan

Jika ini adalah kali pertama Anda berjauhan dengan pasangan, tentu sulit menentukan ritme berkomunikasi yang nyaman. Pasangan Anda mungkin menelepon ketika Anda bekerja. Atau, ia membalas pesan singkat Anda dalam waktu yang lumayan lama.

Pada situasi seperti ini, cobalah untuk tidak langsung mengkritik pasangan. Hindari mengatakan hal-hal seperti, “Kamu tidak mau berusaha,” “Kamu selalu saja lupa,” dan sejenisnya. Coba dinginkan kepala terlebih dulu, lalu sampaikan keinginan Anda.

Fokuslah pada satu perilakunya yang perlu diperbaiki, bukan pada sesuatu yang tidak ia lakukan tadi. Saat mengatakan ini, sampaikan perasaan Anda dan apa yang Anda harapkan. Ingat, hal yang sama pun berlaku bila Anda melakukan kesalahan serupa.

2. Menanamkan pada diri bahwa semua ini hanya sementara

Menurut sebuah penelitian dalam jurnal Communication Quarterly, pasangan jarak jauh merasa lebih puas dan tidak begitu stres ketika tahu kapan mereka bisa saling bertemu kembali. Hal serupa juga diterapkan selama social distancing dengan pasangan.

Tanamkan pada diri Anda dan pasangan bahwa masa karantina ini hanya berlangsung sementara. Setelah semuanya kembali normal, Anda berdua akan saling bertemu lagi dan menjalani hari-hari seperti dahulu.

Lantas, bagaimana jika pasangan Anda tidak bisa menanamkan hal yang sama? Coba ajak pasangan Anda bicara dari hati ke hati. Tanyakan apa yang membuatnya cemas dan ajaklah ia mencari solusi untuk mengatasi rasa cemasnya tersebut.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

1,347,026

Confirmed

1,160,863

Recovered

36,518

Death
Distribution Map

3. Membuat prioritas

Anda mungkin memiliki jadwal kerja, tidur, atau kegiatan lainnya yang berbeda dengan pasangan selama menjalani social distancing. Sebelum memutuskan siapa yang harus menghubungi pada pukul berapa, coba susun prioritas Anda berdua terlebih dulu.

Sebagai contoh, jika Anda berdua bekerja di rumah sejak pagi hingga sore hari, waktu terbaik untuk berkomunikasi mungkin adalah malam hari. Pilihlah momen ketika Anda berdua sama-sama sedang bersantai sehingga komunikasi menjadi lebih nyaman.

Sampaikan pula pendapat masing-masing tentang telepon yang mendadak, jadwal siapa yang lebih fleksibel, siapa yang sebaiknya menghubungi duluan, dan sebagainya. Ada banyak cara membuat komunikasi semasa karantina menjadi lebih berwarna.

4. Saling memberi ruang antara satu sama lain

Sebesar apa pun keinginan suatu pasangan untuk saling bercengkerama, akan ada momen ketika Anda ingin menikmati ‘me time atau dengan teman terdekat. Ini adalah hal yang wajar, dan pasangan Anda pun berhak memiliki keinginan yang sama.

Ketika menjalani social distancing, sesekali doronglah pasangan Anda untuk mengobrol dengan teman-temannya. Gunakan aplikasi video call yang bisa memuat banyak orang sekaligus agar suasananya tidak kalah ramai dengan berkumpul secara langsung.

Anda dapat melakukan kegiatan yang sama, mencoba hobi baru, atau mengisi waktu dengan kegiatan yang Anda sukai. Setelah cukup dengan diri sendiri, obrolan dengan pasangan tentu jadi lebih bermakna karena Anda berdua saling dilanda rindu kembali.

Begini Gejala Coronavirus COVID-19 yang Perlu Anda Waspadai

5. Fokus menjadikan komunikasi lebih berkualitas

Menurut sebuah studi dalam jurnal Family Process, banyak pasangan jarak jauh justru merasa lebih puas dengan komunikasinya dibanding pasangan yang sering bertemu. Pasalnya, mereka menyadari betapa berharganya kesempatan untuk saling mengobrol.

Coba gunakan ini untuk memperkuat hubungan Anda berdua. Meski social distancing bersifat sementara, tidak ada salahnya untuk fokus membuat komunikasi menjadi lebih berkualitas.

Anda dan pasangan bisa mencoba mengobrol sebelum tidur, berdiskusi tentang hal-hal yang menarik, atau saling bercerita tentang apa Anda lakukan selama sehari di rumah. Terkadang, sesuatu yang tampaknya sepele bahkan bisa menjadi menarik.

Menjalani social distancing dengan pasangan memang tidak mudah, sebab Anda perlu membiasakan diri dengan rutinitas yang berubah. Namun, semua hal yang terasa berat selama masa karantina mungkin akan membuat Anda dan pasangan semakin dekat.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

WHO Investigasi Asal Muasal COVID-19, Bagaimana Perkembangannya?

Setahun sejak kemunculannya, belum diketahui benar bagaimana asal muasal virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini. Berikut temuan terbarunya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 16 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah berjalan, berikut tahapan cara registrasi hingga kondisi kesehatan yang perlu diperhatikan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

China Gunakan Tes Swab Anal untuk COVID-19, Apa Bedanya dengan Swab Nasofaring?

Swab anal untuk COVID-19 dilakukan dengan memasukan kapas berukuran 3-5 cm ke dalam anus dan memutarnya untuk mengambil sampel feses.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 5 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

Virus Nipah Berpotensi Menjadi Wabah Besar Berikutnya

Virus Nipah, yang mewabah hampir setiap tahun di beberapa negara di Asia, berpotensi menjadi wabah besar berikutnya seperti pandemi COVID-19.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Penyakit Infeksi, Infeksi Virus 4 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Vaksin covid-19

Antisipasi dan Data Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi COVID-19 di Indonesia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Alergi vaksin covid-19

Setelah Vaksinasi COVID-19 Berjalan, Kapan Indonesia Mencapai Herd Immunity?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 23 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Harimau dan Kasus Hewan Peliharaan yang Tertular COVID-19

Bayi Harimau Mati Diduga COVID-19, Bisakah Hewan Peliharaan Tertular Virus Corona?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Vaksin covid-19

Vaksinasi COVID-19 Tahap 2 Dimulai, Siapa Saja Targetnya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 17 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit