Ganja atau Alkohol, Mana yang Lebih Berbahaya?

Ganja atau Alkohol, Mana yang Lebih Berbahaya?

Perdebatan mengenai lebih bahaya mana antara ganja atau alkohol masih sering terjadi. Efek serius dari kedua zat ini pada umumnya baru akan terjadi setelah penggunaan dalam jangka panjang. Untuk mengetahui perbedaan bahayanya, simak pembahasan berikut ini.

Beragam zat yang lebih berbahaya dari ganja

efek ganja

Ganja (Cannabis sativa) atau disebut juga mariyuana adalah tanaman budidaya yang sering disalahgunakan untuk keperluan rekreasi alias hanya untuk kesenangan.

Daun ganja mengandung senyawa delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidiol (CBD) yang memiliki efek psikoaktif atau bisa memengaruhi saraf otak dan kondisi kejiwaan.

Efek yang paling khas saat mengisap daun ganja yakni euforia atau gembira hingga tertawa tanpa sebab, lalu diikuti dengan halusinasi atau melihat hal-hal yang tidak nyata.

Karena efeknya langsung memicu perubahan perilaku, ganja selalu dilihat sebagai sesuatu yang sangat membahayakan bagi penggunanya.

Meski begitu, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ada zat yang lebih mematikan dari ganja. Beberapa di antaranya termasuk zat yang legal, seperti alkohol dan nikotin yang terkandung dalam sebatang rokok.

pengaruh alkohol

Bahaya ganja atau alkohol hingga saat ini masih sering diperdebatkan. Penelitian dalam jurnal Scentific Report (2015) menjelaskan bahwa konsumsi alkohol dalam jumlah berlebih 100 kali lebih berbahaya dibandingkan menggunakan ganja.

Dalam studi tersebut, para peneliti menghitung risiko kesehatan masing-masing obat dengan melihat perbandingan margin of exposure (MOE) dari masing-masing zat.

MOE merupakan rasio perbandingan jumlah obat yang dibutuhkan untuk menyebabkan kematian pada seseorang. Cara menghitungnya sederhana, bila rasio MOE rendah maka obat tersebut mematikan.

Saat diuji, tetrahydrocannabinol (THC) dalam ganja memiliki MOE lebih dari 100. Ini artinya THC tidak memenuhi kriteria “mematikan” menurut MOE.

Sebaliknya, rasio MOE dari alkohol, heroin, kokain, dan nikotin berada pada angka 10, yang nilainya sangat rendah sehingga cukup untuk menyebabkan kematian.

Meski begitu, rasio MOE ini masih diperdebatkan. Alasannya, perhitungan ini didasarkan pada data hewan yang menjadikannya kurang etis bila disandingkan dengan manusia.

Studi lain dalam jurnal Addiction (2017) menguji dampak ganja dan alkohol pada otak manusia. Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.200 partisipan berusia antara 18–55 tahun.

Peneliti menemukan konsumsi alkohol jangka panjang berdampak pada struktur otak dengan mengurangi volume materi abu-abu dan materi putih di dalamnya.

Sementara itu, penggunaan ganja tidak menunjukkan adanya perubahan materi abu-abu dan putih di dalam otak, baik pada remaja maupun orang dewasa.

Penelitian ini pun pada akhirnya menyimpulkan bahwa efek minum alkohol terhadap otak manusia jauh lebih berbahaya daripada efek ganja.

Dampak penggunaan ganja dan alkohol berlebihan

minum alkohol dan ganja sambil menyetir

Konsumsi alkohol memang lebih banyak dipantau. Sebagai gambaran, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tiga juta kematian per tahun akibat penyalahgunaan alkohol.

Meski efek kematian pada penggunaan ganja tidak memiliki angka pasti, bukan berarti zat ini tidak berbahaya. Penelitian mengenai dampak buruk ganja bagi kesehatan masih berlangsung hingga kini.

Efek samping ganja dalam jangka panjang bisa memengaruhi sistem kardiovaskular. Ini dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah pada kemudian hari.

Ganja juga memengaruhi perkembangan otak, dapat mengurangi kecerdasan, serta meningkatkan risiko masalah kejiwaan, seperti depresi, psikosis, hingga skizofrenia.

Di sisi lain, efek samping alkohol biasanya terjadi akibat kebiasaan minum dalam jangka panjang atau minum berlebihan dalam satu waktu (binge drinking).

Risiko kesehatan akibat konsumsi alkohol termasuk penyakit liver, penyakit jantung, kerusakan orak dan saraf, disfungsi ereksi, hingga kematian.

Perdebatan mengenai bahaya ganja atau alkohol masih terus berlangsung. Tidak mudah menentukan manakah yang lebih aman, terlebih bila keduanya digunakan untuk kesenangan saja.

Kajian tentang manfaat ganja medis masih bergulir hingga saat ini. Akan tetapi, Anda harus ingat bahwa kepemilikan ganja masih ilegal menurut hukum yang berlaku di Indonesia.

Begitu pula konsumsi alkohol yang berpotensi membahayakan kesehatan. Maka dari itu, penggunaan alkohol diatur peredarannya di tengah masyarakat.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Understanding Alcohol Use Disorder. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. (2021). Retrieved 6 July 2022, from https://www.niaaa.nih.gov/publications/brochures-and-fact-sheets/understanding-alcohol-use-disorder

Marijuana use disorder is common and often untreated. National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism. (2016). Retrieved 6 July 2022, from https://www.niaaa.nih.gov/news-events/news-releases/marijuana-use-disorder-common-and-often-untreated

Alcohol. World Health Organization. (2022). Retrieved 6 July 2022, from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/alcohol

Cannabis. World Health Organization. (2022). Retrieved 6 July 2022, from https://www.who.int/teams/mental-health-and-substance-use/alcohol-drugs-and-addictive-behaviours/drugs-psychoactive/cannabis

Thayer, R., YorkWilliams, S., Karoly, H., Sabbineni, A., Ewing, S., Bryan, A., & Hutchison, K. (2017). Structural neuroimaging correlates of alcohol and cannabis use in adolescents and adults. Addiction, 112(12), 2144-2154. https://doi.org/10.1111/add.13923

Lachenmeier, D., & Rehm, J. (2015). Comparative risk assessment of alcohol, tobacco, cannabis and other illicit drugs using the margin of exposure approach. Scientific Reports, 5(1). https://doi.org/10.1038/srep08126

Volkow, N., Baler, R., Compton, W., & Weiss, S. (2014). Adverse Health Effects of Marijuana Use. New England Journal Of Medicine, 370(23), 2219-2227. https://doi.org/10.1056/nejmra1402309

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui Jul 29
Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa