home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Mutasi Bikin Coronavirus Lebih Mudah Menular? Ini Faktanya

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Belum juga pencarian vaksin COVID-19 menghasilkan titik terang, para ilmuwan kini menemukan mutasi baru pada virus SARS-CoV-2. Mutasi tersebut mengubah susunan genetik, struktur, dan kemampuan coronavirus dalam menginfeksi. Ada dugaan bahwa mutasi yang terjadi dapat membuat virus ini semakin berbahaya.

Mutasi sering dianggap sebagai hal yang menakutkan. Padahal, mutasi adalah bagian dari siklus hidup virus. Perubahan yang terjadi memang dapat membuat virus menjadi lebih berbahaya. Namun, ada pula mutasi yang justru menguntungkan manusia.

Lantas, mutasi apa yang terjadi pada coronavirus penyebab COVID-19?

Mutasi terbaru pada SARS-CoV-2

tes asam nukleat covid-19

Berdasarkan bahan genetik penyusunnya, virus terbagi menjadi virus DNA dan RNA. SARS-CoV-2 adalah virus RNA, sama seperti virus influenza, hepatitis, dan HIV. Virus RNA jauh lebih mudah bermutasi dibandingkan virus DNA seperti herpes dan HPV.

Mutasi merupakan hal yang sangat wajar dalam siklus hidup virus RNA. Bahkan, mutasi dapat terjadi setiap waktu. Ini sebabnya tidak mengejutkan bila para ahli mengatakan bahwa mutasi pada SARS-CoV-2 terjadi dari waktu ke waktu.

SARS-CoV-2 bahkan sudah banyak bermutasi selama beberapa bulan terakhir. Hanya saja, mutasi tersebut terjadi sedikit demi sedikit. Coronavirus dari hasil mutasi juga tidak jauh berbeda dengan coronavirus yang ditemukan pertama kali.

Meski demikian, sebuah penelitian dari Scripps Research Institute di Amerika Serikat menarik perhatian banyak ahli. Mereka menemukan bahwa SARS-CoV-2 telah bermutasi menjadi tipe virus dengan kemampuan infeksi yang lebih tinggi.

Tim penelitian tersebut menyebutnya sebagai mutasi D614G. Mutasi ini terjadi pada protein khusus yang membentuk ‘paku-paku’ pada permukaan coronavirus. Paku-paku inilah yang memberikan ciri khas berupa ‘mahkota’ pada virus tersebut.

Mahkota tersebut berfungsi membantu coronavirus menempel pada sel inang. Jumlah paku yang semakin banyak tentu membuat virus bisa menginfeksi dengan lebih mudah. Rata-rata, virus yang bermutasi memiliki 4-5 lipat lebih banyak paku di permukaannya.

Mutasi juga membuat mahkota coronavirus menjadi lebih lentur. Hal ini menguntungkan virus, sebab partikel-partikel virus yang baru dibentuk di dalam satu sel dapat bergerak ke sel lain tanpa harus hancur terlebih dahulu.

Peneliti senior dalam studi tersebut, Hyeryun Choe, Ph.D., menyatakan bahwa SARS-CoV-2 menjadi virus yang lebih stabil setelah bermutasi. Semakin stabil kondisinya, kemungkinan semakin lama pula daya tahan coronavirus dalam tubuh manusia.

Bermutasi tidak berarti jadi lebih berbahaya

gejala lyme disease dan covid-19
Sumber: Lyme DIsease Clinic

Temuan peneliti Scripps bukan yang pertama. Maret lalu, tim peneliti dari Meksiko juga menemukan sesuatu yang mirip dengan mutasi D614G pada coronavirus. Tampaknya mutasi inilah yang berperan dalam penyebaran wabah COVID-19 di Amerika Serikat dan Eropa.

Mutasi tersebut memang membuat SARS-CoV-2 lebih mudah menginfeksi. Akan tetapi, belum jelas apakah mutasi menyebabkan penyakit yang lebih parah atau meningkatkan risiko kematian pada pasien COVID-19.

Mereka juga belum dapat memastikan apakah virus yang bermutasi ini menginfeksi orang-orang dengan cara yang berbeda. Satu hal yang diyakini oleh para peneliti adalah mutasi tidak membuat virus jadi lebih mematikan.

Pada kasus yang sangat langka, virus memang dapat bermutasi menjadi tipe yang lebih berbahaya. Namun, virus RNA seperti SARS-CoV-2 biasanya bermutasi menjadi virus yang lebih lemah.

Walaupun beberapa bagian virus menjadi lebih kuat, mutasi juga membuat bagian virus lainnya tidak bekerja sebaik sebelumnya. Inilah alasan mengapa mutasi virus umumnya muncul tiba-tiba, kemudian hilang kembali dengan cepat.

Coronavirus Penyebab COVID-19 Bermutasi Menjadi Tipe Virus Baru

Pengaruhnya pada pengembangan vaksin

vaksin covid-19 indonesia

Perubahan pada susunan genetik virus tentu berpengaruh terhadap vaksin. Jika virus terus berubah, vaksin yang telah ditemukan tidak akan bisa digunakan untuk mencegah infeksinya. Hal ini terjadi pada kasus infeksi HIV dan influenza.

Untungnya, antibodi dari pasien COVID-19 tetap bekerja pada coronavirus, baik yang memiliki mutasi D614G maupun tidak. Artinya, vaksin tetap dapat mencegah penularan COVID-19 sekalipun virusnya telah bermutasi.

Mutasi SARS-CoV-2 belum cukup jauh untuk bisa menembus perlindungan yang diberikan vaksin. Jadi, ketika nanti vaksin COVID-19 ditemukan, vaksinasi kemungkinan besar akan melindungi semua orang yang berisiko terkena virus.

Mutasi merupakan hal yang lazim dalam daur hidup virus, termasuk coronavirus yang saat ini menyebabkan pandemi. Walau terkesan menakutkan, mutasi sebenarnya tidak selalu menghasilkan sesuatu yang berbahaya.

Kandidat vaksin COVID-19 yang kini tengah dikembangkan adalah strategi paling jitu dalam memerangi pandemi. Selama menanti adanya vaksin, Anda dapat mencegah penularan dengan mencuci tangan, mengenakan masker, dan menerapkan physical distancing.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Mutated coronavirus shows significant boost in infectivity. (2020). Retrieved 18 June 2020, from https://www.scripps.edu/news-and-events/press-room/2020/20200612-choe-farzan-coronavirus-spike-mutation.html

Grubaugh, N., Petrone, M., & Holmes, E. (2020). We shouldn’t worry when a virus mutates during disease outbreaks. Nature Microbiology, 5(4), 529-530. doi: 10.1038/s41564-020-0690-4.

Viruses and Evolution | History of Vaccines. (2010). Retrieved 18 June 2020, from https://www.historyofvaccines.org/content/articles/viruses-and-evolution

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 31/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x