home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Mutasi COVID-19 Berpotensi Menghindari Antibodi, Apa Pengaruhnya pada Vaksin?

Mutasi COVID-19 Berpotensi Menghindari Antibodi, Apa Pengaruhnya pada Vaksin?

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Virus SARS-CoV-2 diketahui dapat bermutasi di dalam tubuh pasien untuk menghindari sistem antibodi atau kekebalan tubuh. Varian mutasi virus penyebab COVID-19 ini diduga membuatnya mampu menghindari sistem kekebalan dan menghambat aktivitas perlawanan dari antibodi.

Fakta ini membuat para ilmuwan memikirkan konsekuensi kemanjuran vaksin ataupun terapi antibodi semacam terapi plasma darah atau terapi antibodi monoklonal. Bagaimana virus bermutasi dan mengelak dari respons antibodi tubuh?

Mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menghindari antibodi

mutasi antibodi COVID-19

Sebuah studi yang baru-baru ini dipublikasi di BioRxiv menunjukkan varian mutasi virus SARS-CoV-2 yang tersebar luas berpotensi memiliki kemampuan menghindari respons kekebalan tubuh.

Sejak awal pandemi, para peneliti mengidentifikasi ribuan mutasi virus SARS-CoV-2 dalam genom virus (genetika) yang diambil dari sampel pasien COVID-19. Dalam studi terbaru ini, David Robertson dari Universitas Glasgow dan rekan-rekannya memeriksa mutasi yang disebut N439K.

Mutasi virus penyebab COVID-19 jenis ini terjadi di bagian protein virus yakni bagian terluar virus yang berfungsi membuka jalan masuk dan berfungsi untuk menyerang sel tubuh.

Dalam eksperimen laboratorium, para peneliti menemukan bahwa mutasi virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 dapat menghambat aktivitas antibodi dalam melawan virus. Padahal antibodi yang digunakan dalam eksperimen tersebut adalah antibodi yang terbilang sangat kuat.

Antibodi yang aktivitasnya dihalangi oleh mutasi jenis N439k adalah antibodi dari pasien COVID-19 pulih dan antibodi monoklonal. Antibodi monoklonal adalah antibodi sintetis yang dibuat di laboratorium, antibodi sintetis ini sedang dalam penelitian untuk pengobatan pasien COVID-19.

Mutasi virus SARS-CoV-2 ini dapat terjadi di dalam tubuh pasien

mutasi virus sars-cov-2 penyebab covid-19 antibodi

Studi mengenai kemampuan virus ini bermutasi di dalam tubuh manusia dilakukan oleh para ahli di Brigham and Women’s Hospital, salah satu rumah sakit pendidikan yang berasosiasi dengan Harvard Medical School.

Para spesialis ini mengamati seorang pasien COVID-19 laki-laki berusia 45 tahun. Pasien ini memiliki penyakit penyerta gangguan autoimun sejak lama dan menjalani pengobatan dengan imunosupresan. Kira-kira 40 hari setelah dinyatakan positif, pria ini menjalani tes lanjutan dengan hasil menunjukkan bahwa kadar virus dalam tubuhnya telah berkurang.

Tapi kemudian muncul kembali dan melonjak meskipun ia masih menjalani terapi pengobatan antivirus. Infeksi pasien ini kembali mereda lagi dan lagi-lagi muncul kembali. Hilang dan munculnya virus dalam tubuh pasien ini terjadi dua kali sebelum akhirnya pasien meninggal dunia setelah 5 bulan melawan COVID-19.

Analisis genom (genetika) pada tubuh pasien ini menunjukkan ia tidak terinfeksi ulang namun virus yang pertama kali menginfeksinya inilah yang bermutasi dengan cepat langsung di dalam tubuhnya. Hal ini menjadi catatan penting bagaimana proses mutasi virus SARS-CoV-2 terjadi hingga mampu mengelak dari sistem antibodi tubuh.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • COVID research updates: The coronavirus can mutate swiftly in one person’s body. (2020). Nature. doi: 10.1038/d41586-020-00502-w
  • Choi, B., Choudhary, M., Regan, J., Sparks, J., Padera, R., & Qiu, X. et al. (2020). Persistence and Evolution of SARS-CoV-2 in an Immunocompromised Host. New England Journal Of Medicine. doi: 10.1056/nejmc2031364
  • Thomson, E., Rosen, L., Shepherd, J., Spreafico, R., da Silva Filipe, A., & Wojcechowskyj, J. et al. (2020). The circulating SARS-CoV-2 spike variant N439K maintains fitness while evading antibody-mediated immunity. doi: 10.1101/2020.11.04.355842
Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh Ulfa Rahayu
Tanggal diperbarui 17/11/2020
x