Berapa Batas Gula, Garam, dan Lemak yang Boleh Dikonsumsi Per Hari?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/06/2020 . 4 mins read
Bagikan sekarang

Dewasa ini, Anda mungkin sudah sering menemukan orang di sekitar Anda mengalami kelebihan berat badan. Hal ini mungkin disebabkan karena kebiasaan makannya yang buruk. Kebanyakan orang tidak memerhatikan apa saja yang masuk ke dalam tubuhnya melalui makanan. Makan apa saja asal kenyang, banyak orang yang berpikiran seperti itu. Ini tentu bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

Salah satu hal yang banyak menyumbang dampak bagi kesehatan ini adalah konsumsi gula, garam, dan lemak per hari. Sehingga, perlu Anda ketahui berapa saja kebutuhan gula, garam, dan lemak per hari.

Berapa batas konsumsi gula per hari?

Gula merupakan sumber energi utama dalam tubuh, sehingga Anda perlu mengonsumsi gula setiap harinya. Namun, banyak orang yang kelebihan dalam mengonsumsi gula. Di samping itu, banyaknya makanan dan minuman yang mengandung gula tambahan juga turut mendukung kelebihan konsumsi gula per hari Anda.

Padahal menurut WHO, tubuh Anda hanya membutuhkan gula kurang dari 10% dari total asupan energi atau setara dengan 50 gram gula per hari (jika kebutuhan energi harian Anda 2000 kalori/hari). Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI, anjuran konsumsi gula per hari menurut kelompok umur adalah:

  • Umur 1-3 tahun: 2-5 sendok teh
  • Umur 4-6 tahun: 2,5-6 sendok teh
  • Umur 7-12 tahun: 4-8 sendok teh
  • Lebih dari 13 tahun dan dewasa: 5-9 sendok teh
  • Lansia: 4-8 sendok teh  

Berapa batas konsumsi garam per hari?

Setiap memasak pasti Anda menambahkan garam agar rasa masakan Anda menjadi lebih lezat. Tak hanya itu, di berbagai makanan kemasan juga mengandung garam tersembunyi (natrium). Sehingga, asupan garam Anda bisa saja melebihi kebutuhan per hari. Meskipun natrium dalam garam sebenarnya dibutuhkan tubuh untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh, namun kelebihan asupan natrium juga dapat berbahaya.

Oleh karena itu, Anda disarankan untuk membatasi konsumsi garam Anda sebanyak 5 gram per hari (2000 mg natrium) atau setara dengan 1 sendok teh per hari untuk orang dewasa. Untuk usia yang lebih muda atau anak-anak, kebutuhan garam per harinya lebih sedikit dari orang dewasa.

Berapa batas konsumsi lemak per hari?

Lemak juga sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Lemak juga sebagai sumber energi bagi tubuh, juga diperlukan untuk pengaturan hormon dan gen, fungsi otak, dan penyerapan vitamin larut lemak. Lemak dalam makanan Anda membuat rasa makanan menjadi lebih lezat. Hal ini membuat Anda suka makan makanan yang berlemak karena memang lebih lezat. Sehingga, tak disadari bahwa konsumsi lemak Anda sudah berlebihan.

WHO merekomendasikan asupan lemak tidak lebih dari 30% dari asupan total energi per hari. Ini setara dengan 67 gram lemak per hari, jika total kebutuhan energi Anda per hari 2000 kalori. Atau, setara dengan 5-6 sendok makan minyak per hari.

Sebenarnya, di Indonesia sendiri Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan rekomendasi batasan konsumsi gula, garam, dan lemak. Batasan konsumsi ini dinamakan dengan G4G1L5 agar mudah diingat oleh banyak orang. G4G1L5 merupakan batasan konsumsi  gula sebanyak 4 sendok makan/hari, garam sebanyak 1 sendok teh/hari, dan lemak sebanyak 5 sendok makan/hari. G4G1L5 ini diperuntukkan untuk dewasa guna mencegah risiko Penyakit Tidak Menular (PTM).

Bagaimana jika konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan?

Asupan gula, garam, dan lemak yang berlebihan dapat menyebabkan Anda mengalami kenaikan berat badan, yang dapat mengarah ke Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kanker.

Seperti yang telah Anda ketahui, asupan gula yang berlebihan dalam waktu lama dapat menyebabkan seseorang mengalami kenaikan berat badan atau kegemukan. Hal ini meningkatkan risikonya untuk mengalami diabetes. Diabetes yang tidak terkontrol kemudian dapat menyebabkan penyakit jantung dan penyakit ginjal.

Jika Anda kelebihan asupan garam, ini dapat meningkatkan risiko Anda mengalami tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan juga stroke. Begitu juga dengan kelebihan asupan lemak yang dapat menyebabkan penumpukan lemak dalam tubuh, yang kemudian dapat menyebabkan terbentuknya plak pada pembuluh darah. Sehingga, hal ini mengakibatkan pembuluh darah menyempit, dan pada akhirnya dapat menyebabkan penyakit jantung.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Aritmia merupakan jenis penyakit kardiovaskuler yang mempengaruhi denyut jantung. Lantas, apakah Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Aritmia 24/06/2020 . 5 mins read

Obat Herbal untuk Penyakit Jantung Koroner, Aman atau Tidak?

Obat herbal untuk jantung koroner harus dilakukan dengan hati-hati. Apa saja obat herbal untuk penderita jantung koroner dan cara aman mengonsumsinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . 5 mins read

5 Cara Memilih Makanan untuk Penderita Jantung Koroner

Menerapkan pola makan sehat merupakan cara untuk mengatasi penyakit jantung koroner. Apa saja makanan sehat untuk penderita jantung koroner?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari

Direkomendasikan untuk Anda

kelainan katup jantung bawaan pada bayi

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 mins read
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 10 mins read
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 5 mins read
endokarditis adalah

Endokarditis

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . 11 mins read