Diet Ketogenik, Cara Tepat Mencegah Gejala Epilepsi Kumat

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Diet ketogenik, alias diet keto sedang digandrungi banyak orang karena dianggap ampuh menggelontorkan lemak tubuh dalam waktu cepat. Padahal, diet keto secara khusus hanya ditujukan sebagai obat epilepsi alami bagi orang-orang yang punya gejala ayan. Mengapa orang dengan epilepsi membutuhkan diet keto? Bagaimana diet ketogenik dapat mencegah kambuhnya kejang?

Pola diet ketogenik bisa dijadikan obat epilepsi alami

Epilepsi atau yang dikenal masyarakat sebagai ayan, adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan tanpa adanya pemicu spesifik. Kejang epilepsi diakibatkan oleh adanya aktivitas listrik otak yang tak normal, sehingga menyebabkan gangguan sinyal di sistem saraf.

Sejak pertama kali dirancang tahun 1920-an, diet ketogenik sengaja diterapkan untuk orang-orang yang punya epilepsi. Diet yang rendah karbohidrat dan tinggi lemak ini dapat mengatasi bahkan menghentikan gejala kejang yang kambuh pada anak dengan epilepsi. Pola diet keto dirancang sedemikian rupa agar seseorang hanya mengandalkan asupan lemak sebagai sumber energi utama tubuh, bukannya karbohidrat.

Apabila konsumsi lemak normal adalah sekitar 20-30%, diet ketogenik menganjurkan asupan lemak mencapai 60-70% dengan tujuan membuat tubuh masuk ke kondisi ketosis. Dalam keadaan normal, ketosis terjadi saat seseorang tidak mengonsumsi karbo atau mengonsumsi sedikit sekali karbohidrat. Kekurangan karbohidrat membuat kadar glukosa turun sehingga tubuh mulai memecah lemak untuk dijadikan sebagai energi. Proses ini kemudian menghasilkan zat keton. Semakin banyak lemak yang digunakan, maka makin banyak pula zat keton yang dihasilkan.

Belum jelas sampai saat ini mengapa diet ketogenik dapat dijadikan ‘obat’ epilepsi alami untuk menghentikan kejang. Namun, para ahli menyatakan bahwa hasil zat keton yang dihasilkan dapat membantu menormalkan aktivitas listrik otak. Oleh karena itu, orang yang punya epilepsi dianjurkan untuk memperbanyak asupan lemak dan membatasi karbohidrat – agar karbohidrat tak menjadi sumber energi utama.

Seberapa efektif diet ketogenik untuk orang dengan epilepsi?

Di berbagai penelitian, diet ketogenik cukup efektif mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali gejala kejang pada anak dengan epilepsi. Salah satu penelitian diketahui bahwa kejadian kejang berkurang pada 50% anak-anak dengan epilepsi yang menjadi responden saat itu. Sementara, 10-15% lainnya telah bebas dari gejala kejang epilepsi yang tiba-tiba bisa muncul. Biasanya, diet ini baru diterapkan bila pemberian obat epilepsi dari dokter tidak dapat mengatasi atau mengurangi gejala kejang.

Namun sampai saat ini diet ketogenik hanya dianjurkan untuk diterapkan pada pasien anak-anak. Diet keto sebagai alternatif obat epilepsi jarang “diresepkan” untuk orang dewasa, mengingat diet ini harus dilakukan dengan disiplin dan ketat. Namun, sebuah studi menyatakan kalau diet ini juga sama efektifnya jika dilakukan pada pasien dewasa.

manfaat bahaya diet keto ketogenik sehat

Tips menjalani diet ketogenik untuk orang yang punya gejala kejang epilepsi

Diet ketogenik diterapkan pada pasien epilepsi dengan perbandingan antara lemak dengan karbohidrat sebesar 2:1 hingga 4:1, dan dilakukan secara bertahap. Angka ini harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak. Biasanya, perbandingan yang paling sering diterapkan adalah 3:1, yaitu 3 gram lemak dan 1 gram karbohidrat.

Pada keadaan yang normal, lemak hanya diperlukan sekitar 25-40% dari kebutuhan kalori per hari. Sementara, pada anak yang mengalami epilepsi, pemberian lemak dalam sehari bisa mencapai 80-90% dari kebutuhannya.

Bagaimana menerapkannya? Tentu, karena rendah karbohidrat, makanan pokok seperti nasi, jagung, atau kentang, sudah tidak ada lagi di dalam menu makanan. Sebagai penggantinya, anak dengan epilepsi akan diberikan lauk-pauk penuh lemak.

Penerapan diet ini sebaiknya dilakukan dibawah pengawasan ahli gizi, sebab perhitungan zat gizi pada diet ini harus dilakukan dengan tepat.

Efek samping diet ketogenik pada pasien dengan epilepsi

Karena tidak mengonsumsi makanan yang seimbang, maka efek samping sangat mungkin terjadi pada pasien epilepsi. Beberapa hal yang dapat terjadi seperti:

  • Sembelit
  • Berat badan tidak naik, atau justru berat badan turun
  • Memiliki kadar kolesterol darah yang tinggi
  • Berisiko mengalami batu ginjal
  • Berisiko memiliki tulang yang lebih rapuh

Untuk menghindari semua efek samping tersebut, sebaiknya Anda bicarakan dan diskusikan lebih lanjut pada dokter yang menangani anak Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Perbedaan Tekanan Darah di Pagi, Siang, dan Malam Hari?

Pengukuran tekanan darah banyak dianjurkan untuk dilakukan pada pagi hari. Apakah akan ada perbedaan tekanan darah, jika dilakukan di lain waktu?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Panduan Memilih Makanan yang Tepat Kalau Maag Anda Sering Kambuh

Selain mengonsumsi obat, Anda yang memiliki sakit maag juga perlu mengubah pola makan dengan memilah-milah jenis makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Gangguan Pencernaan, Gastritis, Health Centers 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Osteopenia

Osteopenia adalah kondisi pengeroposan tulang sebelum berlanjut menjadi osteoporosis. Yuk, pelajari lebih dalam gejala, penyebab, dan cara mengobatinya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 8 menit

Flat Foot (Telapak Kaki Datar)

Normalnya, bagian tengah telapak kaki akan berlekuk. Namun, orang-orang penderita flat feet memiliki telapak kaki datar. Apa efeknya pada kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Muskuloskeletal, Gangguan Muskuloskeletal 1 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

hamil di usia 20-an

Kelebihan dan Kekurangan Hamil di Usia 20-an

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
cepat turun berat badan pagi hari

7 Kebiasaan di Pagi Hari yang Bikin Cepat Turun Berat Badan

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
berapa banyak makan nasi saat sarapan

Seberapa Banyak Harusnya Porsi Makan Nasi Saat Sarapan?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit
krim perontok bulu

Menggunakan Krim untuk Menghilangkan Bulu, Amankah?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 1 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit