Mengenal Priapismus, Gangguan Ereksi yang Berkepanjangan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Priapismus atau priapism adalah kondisi yang umum terjadi di kalangan laki-laki dan dapat terjadi pada semua usia. Hal ini paling umum terjadi pada anak laki-laki antara 5-10 tahun dan pada pria dari 20-50 tahun. Jika Anda menderita gangguan ini, maka Anda akan mengalami ereksi yang terus-menerus berlangsung selama 4 jam atau lebih, bahkan tanpa adanya rangsangan seksual. Untuk informasi lebih lanjut mengenai priapismus, mari kita lihat di bawah ini.

Apakah priapismus berkaitan dengan aktivitas seksual?

Sebagian besar orang mungkin memiliki kesalahpahaman bahwa priapismus terjadi akibat adanya aktivitas seksual. Namun, sebenarnya ereksi yang berkepanjangan ini tidak disebabkan oleh rangsangan seksual. Dalam fungsi seksual normal, ereksi terjadi ketika penis Anda penuh dengan darah dan kemudian mengendap hingga timbulnya orgasme, yaitu ketika kelebihan darah akhirnya meninggalkan penis.

Tetapi, dalam hal priapismus, darah tidak dapat mengalir melalui batang penis Anda, sehingga darah menjadi stagnan setelah beberapa saat, berubah menjadi asam, dan kehilangan oksigen. Akibatnya, sel-sel darah merah dalam darah menjadi kaku dan bahkan menjadi sulit untuk keluar dari penis Anda.

Berbagai penyebab priapismus

Penyebab utama dari priapismus tergantung pada gangguan fungsi pembuluh darah dan saraf pada tubuh Anda di mana darah terjebak, sehingga menyebabkan pengaliran darah yang tidak tepat dari jaringan poros penis Anda. Berikut ini adalah dua kategori priapismus, aliran rendah dan aliran tinggi.

1. Priapismus aliran rendah

Jenis priapismus ini adalah hasil dari darah yang terjebak dalam bilik ereksi. Hal ini sering terjadi tanpa sebab pada pria yang sehat, tetapi juga mempengaruhi pria dengan penyakit anemia sel sabit, leukemia (kanker darah), atau malaria.

2. Priapismus aliran tinggi

Priapism aliran tinggi lebih langka dibandingkan dengan aliran rendah dan biasanya tidak menyakitkan. Ini adalah hasil dari pecahnya arteri akibat cedera pada penis atau perineum (daerah antara skrotum dan anus), sehingga mencegah darah di penis mengalir seperti biasanya.

Sekitar 35% kasus priapismus adalah idiopatik (tidak diketahui penyebabnya) dan 21% berhubungan dengan terapi obat atau penyalahgunaan alkohol. Selain itu, 21% terjadi karena trauma, dan 8% akibat gangguan darah. Meskipun ada kontroversi mengenai cara bagaimana priapismus terjadi, namun pandangan yang diterima secara luas adalah bahwa priapismus terjadi akibat cedera atau kerusakan pada sistem yang berfungsi untuk penurunan penis setelah ejakulasi.  

Kerusakan ini dapat disebabkan oleh:

  • Kelainan darah, terutama penyakit anemia sel sabit, myeloma, thalassemia, dan leukemia.
  • Trauma, baik tidak sengaja atau pun setelah operasi.
  • Kerusakan pada sistem saraf, cedera tulang (terutama tulang belakang), namun jarang terjadi akibat multiple sclerosis atau diabetes (ini biasanya melibatkan unsur stimulasi berlebih, sehingga menyebabkan tingginya aliran darah menuju penis disertai dengan kerusakan penurunan penis setelah ejakulasi).  
  • Obat impotensi (terutama yang diberikan melalui suntikan ke dalam penis), seperti:
    • Papaverine.
    • Prostaglandin E1 (alprostadil), yang menyebabkan peningkatan aliran darah dengan melebarkan pembuluh darah di penis (sangat jarang jika diberikan ke dalam uretra atau tabung urin pada panis).
    • Phentolamine.
    • Sildenafil (Viagra), hampir tidak diketahui kecuali dikombinasikan dengan obat lain, misalnya suntikan seperti prostaglandin.
  • Obat lain, terutama jika overdosis:

Apa yang terjadi jika priapismus dibiarkan?

Priapismus iskemik dapat menyebabkan komplikasi yang signifikan. Karena kurangnya oksigen, maka biasanya akan terjadi komplikasi yang cukup fatal jika priapismus berlangsung lebih dari empat jam. Komplikasi yang terjadi termasuk disfungsi ereksi dan cacat pada penis.

Dapatkah priapismus dicegah?

Kondisi ini dapat dicegah dengan merawat penyebab medis yang mendasarinya, atau bisa juga dengan mengubah obat yang memiliki efek samping priapismus. Sebelum Anda menghentikan penggunaan obat atau mengubahnya, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter Anda.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: September 3, 2016 | Terakhir Diedit: Oktober 27, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca