Pria Ternyata Juga Bisa Stres Setelah Berhubungan Intim, Ini Sebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Pria sering kali dianggap memiliki gairah seksual yang besar, selalu ingin berhubungan intim, dan lebih menikmati kegiatan seksual dibandingkan wanita. Padahal, pria juga bisa mengalami stres setelah berhubungan intim atau post-coital dysphoria. Alih-alih merasa bahagia, hubungan intim justru menimbulkan emosi negatif yang membekas.

Mengenal fenomena stres setelah berhubungan intim pada pria

dampak stres pada hubungan asmara

Post-coital dysphoria (PCD) ditandai dengan timbulnya perasaan sedih, stres, frustrasi, atau bahkan depresi usai berhubungan intim. Kondisi ini dapat terjadi sekalipun Anda melakukan hubungan intim bersama pasangan dengan persetujuan (consent).

Hubungan intim memang bisa membuat seseorang menjadi emosional, tapi banyak orang menganggap hal ini hanya terjadi pada wanita. Pria dianggap selalu menikmati seks sehingga tak banyak yang menyadari bahwa mereka pun bisa mengalami PCD.

Sejumlah peneliti di Queensland University of Technology, Australia, melakukan survei yang melibatkan lebih dari 1.200 pria dari sejumlah negara. Survei ini bertujuan untuk mengetahui persentase pria yang mengalami PCD dengan menilai gejalanya, seperti munculnya rasa sedih, tidak puas, terganggu, dan stres setelah berhubungan intim.

Hasilnya, sebanyak 41 persen responden mengaku mengalami PCD. Sebanyak 20 persen di antaranya mengalami PCD dalam sebulan terakhir, dan sekitar 4 persen dari total responden mengaku hampir selalu mengalami PCD setiap kali berhubungan intim.

Para responden mengalami emosi negatif yang berbeda-beda. Beberapa pria merasa tidak suka disentuh, ingin menyendiri, serta ingin segera pergi usai berhubungan intim. Ada pula yang merasa hampa atau menganggap ada yang salah dengan dirinya.

Hubungan intim yang penuh kasih sayang sebenarnya bermanfaat bagi kesehatan fisik dan emosional. Namun, pada pria yang mengalami PCD, stres dan perasaan negatif setelah berhubungan intim justru membuat kegiatan ini tidak lagi terasa menyenangkan.

Penyebab stres usai berhubungan intim pada pria

efek trauma

Penyebab post-coital dysphoria belum diketahui secara pasti, mengingat belum banyak penelitian yang membahas tentang fenomena ini. Kendati demikian, para ahli menduga PCD berkaitan dengan perubahan hormon, kondisi emosional, dan stigma tentang seks.

1. Perubahan hormon

Beberapa ahli menduga bahwa PCD mungkin berkaitan dengan meningkatnya hormon dopamin, oksitosin, dan endorfin saat melakukan kegiatan seksual. Ketiganya adalah hormon yang memberikan rasa rileks dan mengurangi stres setelah berhubungan intim.

Untuk mengimbangi dopamin, oksitosin, dan endorfin yang tinggi, tubuh memproduksi hormon prolaktin. Meningkatnya prolaktin membuat ketiga hormon tersebut menurun secara drastis. Akibatnya, Anda merasakan emosi negatif yang menjadi awal dari PCD.

2. Kondisi emosional dan trauma

Jika Anda pernah mengalami trauma terkait hubungan seks, kegiatan ini mungkin dapat menimbulkan emosi negatif di kemudian hari. Hubungan seks yang seharusnya menimbulkan perasaan baik, justru akan mengingatkan Anda pada trauma.

Selain trauma, pengalaman buruk atau memalukan terkait seks juga bisa menyebabkan stres setelah berhubungan intim. Terapi dengan psikolog akan membantu Anda dalam menggali akar masalahnya sehingga kegiatan seksual tidak lagi tampak mengerikan.

3. Stigma negatif tentang seks

Seks adalah bagian yang normal dalam hubungan asmara. Namun, tidak sedikit orang yang menilai seks tabu karena lingkungannya mengajarkan demikian. Mereka akhirnya menganggap hubungan intim sebagai sesuatu yang kotor dan memalukan.

Stigma seperti ini sangat sulit dihilangkan, bahkan ketika seorang pria sudah dewasa dan berusaha tidak memercayainya. Dampaknya, hubungan intim malah menimbulkan emosi negatif dan perasaan bersalah.

Stres setelah berhubungan intim tidak hanya terjadi pada wanita, tapi juga pria. Kondisi ini bahkan cukup umum terjadi pada pria, hanya saja tidak banyak terungkap karena pria lebih jarang mengutarakan perasaannya dibandingkan wanita.

Emosi yang Anda alami sebetulnya tidak perlu ditangani secara serius selama tidak menurunkan kualitas hubungan seksual secara keseluruhan. Namun, jika Anda mulai terganggu, cobalah berkonsultasi dengan psikolog untuk menentukan solusinya.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 8, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 7, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca