Tidak ada yang salah memang memiliki suami yang sangat dekat dengan ibunya. Namun terkadang, hal ini bisa menimbulkan masalah dalam rumah tangga. Lantas, bagaimana cara menghadapi suami yang cenderung anak mami? Simak ulasannya berikut ini.

Tantangan memiliki suami anak mami

cepat punya anak

Memiliki suami yang anak mami memang menimbulkan tantangan tersendiri. Dilansir dari Psychology Today, pasangan yang anak nami biasanya ditandai dengan berbagai sikap, seperti:

  • Tidak bisa menerima jika sang ibu dikomentari negatif
  • Sang ibu dianggap selalu benar dan tidak pernah salah
  • Tidak bisa mengatakan “tidak” pada sang ibu
  • Menghindari untuk beradu argumen dengan sang ibu
  • Jika ada masalah antara Anda dan ibunya, ibunya yang akan dibela bukan Anda

Dari berbagai sikap tersebut bisa disimpulkan bahwa pasangan Anda akan selalu membela dan memprioritaskan ibunya.

Sikap tersebut bisa menimbulkan masalah jika terus dibawa dalam pernikahan. Pasalnya, ada kemungkinan bahwa ibunya akan turut campur dalam pernikahan Anda.

Padahal, pernikahan merupakan hubungan antara Anda dan pasangan. Untuk itu, masalah dan keputusan apa pun yang terjadi dalam pernikahan sebaiknya diselesaikan berdua.

Ketika ada pihak ketiga yang turut campur, dikhawatirkan hal ini justru bisa merugikan salah satu pihak. Dalam hal ini tentu saja Anda yang dirugikan. Ini karena pasangan tetap memprioritaskan ibunya ketimbang Anda sebagai istrinya.

Cara menghadapi suami anak mami

menghadapi mertua

Memang tak salah apabila suami sangat dekat dengan ibunya. Namun, salah-salah hal ini bisa memicu pertengkaran dalam rumah tangga.

Berikut ini berbagai cara yang bisa Anda lakukan untuk menghadapi suami yang anak mami agar pernikahan Anda minim konflik.

1. Tidak berkomentar buruk tentang ibunya

Semua orang pasti memiliki kekurangan, termasuk ibu mertua Anda. Namun, ketika suami Anda cenderung memiliki sifat anak mami, Anda perlu menjaga ucapan tentang orangtuanya.

Ketika mengeluhkan atau berkomentar buruk tentang ibunya, ia justru bisa bersikap defensif. Bahkan, meski pasangan tahu bahwa Anda mengatakan hal yang benar, ia bisa saja tetap tidak mau mengakuinya.

Untuk itu, jangan terlalu lugas membicarakan keburukan sang ibu di depannya. Cari cara untuk menyampaikannya secara halus. Jika sekiranya masalah ini membuat Anda stres, konsultasikan ke psikolog untuk mendapatkan solusi.

2. Bersikap sopan tapi tegas

Sebagai orangtua kedua, ibu mertua terkadang meminta Anda untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak Anda kehendaki. Misalnya, meminta Anda mengganti warna cat rumah hanya karena menurutnya kurang indah.

Jangan langsung emosi. Ingat, Anda tetap harus bersikap sopan karena ia juga orangtua Anda. Selain itu, bersikap buruk pada ibu mertua bisa membuat suami Anda yang “anak mami” justru marah pada Anda.

Akan lebih baik jika Anda mengatakan alasan di balik penolakan Anda. Jangan lupa untuk selipkan ucapkan terima kasih kepada ibu mertua atas saran yang diberikan.

3. Tetap tenang meski dikritik

Terkadang ibu mertua kerap melontarkan sindiran yang kurang mengenakkan pada menantunya. Jika Anda ada di posisi ini, tahan diri Anda dan usahakan untuk tetap tenang.

Idealnya, Anda memang bisa menceritakan hal ini pada suami. Namun, ketika memiliki suami yang anak mami, mungkin yang terjadi bukannya membela Anda, justru ia akan membela ibunya.

Untuk itu, jangan tanggapi komentar ibu mertua apalagi mengadukannya pada suami. Cukup berikan senyuman dan jawab seperlunya. Memang tak mudah, tetapi jangan sampai terpancing emosi.

Abaikan saja komentar-komentar negatifnya terhadap Anda dan jangan dipikirkan berlebihan. Justru dengan mengabaikannya, lama-lama mertua Anda akan berhenti berkomentar dengan sendirinya.

Jika kondisinya sudah mulai tenang, ajak pasangan untuk membicarakan hal ini. Ingat, gunakan intonasi dan pilihan kata yang baik sehingga pasangan bisa mengerti perasaan Anda.

4. Menurunkan ego dengan sedikit berkorban

Setelah menikah bukan berarti Anda dan pasangan tak lagi boleh meluangkan waktu untuk orangtua masing-masing.

Justru Anda harus tetap menjaga hubungan sama seperti sebelum menikah. Namun, bicarakan dengan pasangan mengenai porsinya.

Memiliki suami anak mami memang penuh tantangan. Pasalnya, ia pasti terbiasa menghabiskan banyak waktu bersama ibunya. Untuk itu, Anda perlu memaklumi jika suami tidak bisa serta-merta lepas dari ibunya.

Luangkan waktu sedikit lebih banyak untuk menemaninya ke rumah orangtuanya dan jangan mengeluh. Nikmati waktu-waktu tersebut karena hal ini juga bisa menguatkan koneksi antara Anda dan mertua.

5. Sepakati waktu kunjungan orangtua bersama

Sebagai pasangan suami istri, Anda dan pasangan merupakan satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Oleh sebab itu, pastikan bahwa Anda dan pasangan membuat keputusan penting bersama-sama.

Hal ini tentu saja termasuk soal jadwal kunjungan ke orangtua masing-masing. Ada baiknya untuk menjadwalkannya dan menyepakatinya berdua.

Punya suami yang cenderung anak mami, bukan berarti membuatnya bisa pergi mengunjungi orangtuanya kapan pun tanpa sepengetahuan Anda. Apalagi jika agenda ini sampai mengorbankan janji kencan berdua.

Anda dan pasangan perlu sama-sama berkomitmen untuk menjadikan satu sama lain sebagai prioritas. Hal ini dilakukan agar ikatan Anda sebagai suami istri semakin kuat dan memiliki hubungan yang langgeng.

6. Jadwalkan waktu berkualitas berdua

Menjadwalkan waktu dengan orangtua masing-masing memang penting. Namun, meluangkan waktu berkualitas berdua juga jauh lebih penting.

Kegiatan ini akan menambah keintiman serta memperkuat ikatan Anda dan pasangan. Oleh karena itu, penting untuk mengatakan pada pasangan bahwa saat ini Anda juga perlu menjadi prioritasnya.

7. Bicarakan baik-baik dengan pasangan

Sebagai pasangan suami istri, Anda harus mengomunikasikan semua hal yang dirasakan. Dengan membagi keluh kesah Anda pada pasangan, ia juga akan tahu apa yang Anda rasakan.

Namun, gunakan bahasa dan intonasi yang lembut serta tepat. Tujuannya agar pasangan tidak bersikap defensif atau merasa bahwa ibunya disalahkan.

Untuk itu, sebelum memutuskan untuk menikah dengan pria yang masuk kategori anak mami, sebaiknya pikirkan baik-baik.

Bukan berarti tidak boleh, tetapi memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi juga baik untuk mempersiapkan diri. Dengan begitu, Anda tahu langkah apa yang perlu dilakukan dan hal apa yang perlu diperjelas dengan pasangan.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca