Cairan Praejakulasi: Benarkah Bisa Sebabkan Kehamilan?

Oleh

Anda para pria pasti pernah bertanya-tanya tentang cairan yang keluar sebelum ejakulasi atau cairan praejakulasi. Cairan yang keluar ini memang tidak banyak, berbeda dengan cairan yang keluar saat ejakulasi terjadi. Lalu apakah cairan ini mengandung sperma? Kalau cairan tersebut mengandung sperma, apakah kehamilan bisa terjadi? Mari simak penjelasannya.

BACA JUGA: Panduan Penting untuk Melakukan Seks Aman

Apakah itu cairan praejakulasi?

Banyak yang menduga bahwa cairan praejakulasi sama dengan air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi. Cairan praejakulasi berasal dari kelenjar Cowper – kelenjar yang sangat kecil terletak di dasar penis. Fungsi dari cairan ini adalah untuk melumaskan urethra sehingga mempermudah air mani untuk dialirkan keluar.

Rangsangan seksual menjadi pemicu cairan ini keluar. Setiap laki-laki memiliki kapasitas cairan praejakulasi yang berbeda-beda. Ada yang banyak mengeluarkan cairan sebelum ejakulasi terjadi, ada pula yang tidak sama sekali mengeluarkan cairan sepanjang berhubungan seksual. Bagi Anda yang tidak mengeluarkan cairan apa pun sebelum ejakulasi, tenang dulu, mungkin jumlah cairan yang diproduksi kelenjar Cowper tidaklah banyak.

Apakah cairan pra-ejakulasi mengandung sperma?

Faktanya, berbeda dengan cairan praejakulasi, sperma diproduksi oleh testis. Jadi, cairan praejakulasi dan sperma datang dari dua bagian yang berbeda pada penis. Kita pun langsung berasumsi bahwa cairan tersebut bebas dari sperma. Apa iya?

Ternyata, berdasarkan sebuah penelitian yang melibatkan 27 orang, dikutip dari NCBI, ditemukan 10 dari 27 orang memiliki sperma pada cairan praejakulasi mereka. Beberapa sample sisanya tidak ditemukan sperma pada cairan ejakulasi  mereka.

BACA JUGA: Manfaat dan Risiko Menelan Sperma Saat Seks Oral

Namun, cairan yang dikeluarkan sebelum ejakulasi ini cukup kecil, sekitar 4 ml, sperma yang terkandung di dalam cairan tersebut juga cukup sedikit. Sedangkan pada air mani yang keluar saat ejakulasi, sperma sangat berlimpah di dalamnya. Rata-rata, setiap laki-laki memiliki konsentrasi sperma yang sama pada cairan praejakulasi. Tapi mengapa tidak semua laki-laki mengeluarkan cairan praejakulasi yang mengandung sperma?

Begini, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda. Cairan sebelum ejakulasi pada setiap laki-laki dipengaruhi oleh makanan dan obat yang dia konsumsi. Tentu saja, saat seseorang sedang dalam pengobatan tertentu, konsentrasi sperma pada cairan pra-ejakulasi akan semakin menipis. Kondisi ini juga bisa dikaitkan dengan tingkat kesuburan.

Tapi tenang dulu, Anda tidak bisa langsung berasumsi bahwa tidak adanya sperma pada cairan praejakulasi berarti laki-laki tersebut tidak subur. Sekali lagi, perlu ditelusuri beberapa faktor pemicunya.

Apakah cairan praejakulasi bisa membuat hamil?

Nah, ini adalah pertanyaan yang dinanti-nantikan. Sperma yang terkandung di dalam cairan praejakulasi memang sedikit, tapi para peneliti pun juga menyarankan untuk selalu memakai kondom saat berhubungan seks. Peneliti juga tidak menyimpulkan bahwa penemuan sperma tersebut meningkatkan risiko kehamilan, tidak serta merta Anda terbebas dari risiko kehamilan akibat cairan praejakulasi. Anda dan pasangan tidak tahu apakah cairan tersebut mengandung sperma atau tidak.

Kehamilan dapat terjadi saat sperma berada di dalam atau di sekitar lubang vagina. Kita tidak tahu persis sperma mana yang berhasil membuahi sel telur. Untuk itu, seks aman tetap harus dilakukan. Ditambah, laki-laki tidak selalu tahu kapan mereka akan ejakulasi, meskipun beberapa di antaranya berhasil mencabut penis sebelum ejakulasi terjadi.

BACA JUGA: Kenapa “Ejakulasi di Luar” Masih Bisa Sebabkan Kehamilan

Apakah cairan praejakulasi dapat menularkan penyakit kelamin?

Namun mencabut penis sebelum terjadinya ejakulasi, tetap menjadi seks yang berisiko. Tidak hanya kehamilan saja. Penyakit menular seksual juga dapat menyebar melalui cairan praejakulasi ini. Anda mungkin berasumsi hanya air mani dalam jumlah banyak yang dapat sebabkan kehamilan dan penyebaran penyakit menular seksual.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, cairan tersebut diproduksi oleh kelenjar Cowper. Contohnya pada kasus gonore. Infeksi ini menyerang urethra dan kelenjar yang membantu reproduksi manusia. Bakteri dan virus dapat menginfeksi kelenjar Cowper, sehingga sangat mungkin sekali bakteri dan virus menyebar saat terjadi seks oral. Ya, bakteri bisa berpindah bahkan tanpa terjadi ejakulasi.

Kelenjar Cowper sangat rentan terhadap infeksi bakteri, di mana bakteri dapat bertahan hidup pada kelenjar tersebut untuk waktu yang lama. Tak hanya gonore saja, HIV pun bisa menular melalui cairan praejakulasi. Para peneliti dalam skala kecil menemukan bahwa HIV ditemukan pada cairan pra-ejakulasi.  Inilah alasan Anda tetap perlu melakukan seks aman.

BACA JUGA: 5 Langkah Seks Aman Jika Pasangan Mengidap HIV

Share now :

Direview tanggal: Desember 29, 2016 | Terakhir Diedit: September 6, 2017

Sumber
Yang juga perlu Anda baca