Pseudoseizure, Kejang-kejang yang Menandakan Gejala Gangguan Mental

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 31 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Kejang biasanya erat dikaitkan dengan epilepsi atau ayan. Namun, ada satu jenis kejang yang tergolong non-epiletik (tidak berkaitan dengan epilepsi) yang dikenal dengan nama pseudoseizure. Gejala kejang pseudoseizure dapat disebabkan oleh gangguan jiwa.

Apa itu pseudoseizure?

Kejang pada umumnya disebabkan oleh kelainan fungsi listrik otak. Gangguan aktivitas listrik dalam otak itu akan menyebabkan otot-otot tubuh jadi kehilangan kendali atas pergerakannya. Otot-otot tubuh akan melakukan gerakan berulang tanpa sadar dan tidak terkontrol. Kejang epilepsi bahkan bisa membuat seseorang sampai kehilangan kesadaran.

Berbeda dengan kejang-kejang yang terkait penyakit epilepsi, penyebab kejang pseudoseizure sama sekali tidak berhubungan dengan gangguan aktivitas listrik dalam otak. Pseudoseizure adalah gejala kejang yang disebabkan oleh kondisi psikologis berat.

Kejang pseudoseizure lebih banyak dialami oleh wanita yang memiliki gangguan jiwa daripada laki-laki.

Apa gejala kejang pseudoseizure?

Gejala kejang yang mungkin muncul pada pengidap gangguan jiwa sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pada pengidap epilepsi. Gejala kejang pseudoseizure di antaranya:

  • Gerakan otot berulang yang tidak terkendali.
  • Kehilangan fokus.
  • Kehilangan kesadaran.
  • Merasa pusing.
  • Terjatuh tiba-tiba.
  • Badan terasa kaku dan otot tegang karena berkontraksi.
  • Pandangan kosong.
  • Tidak menyadari apa yang terjadi di sekelilingnya.

Oleh karena itu mendapatkan diagnosis yang tepat dan lengkap dari kondisi kesehatan mental adalah hal yang penting untuk menanganani gejala pseudoseizure.

Pemicu pseudoseizure

Pseudoseizure dapat terjadi bersamaan dengan gejala gangguan mental yang menyebabkannya. Jika seseorang tiba-tiba mengalami kejang tapi tidak merespon obat epilepsi, kemungkinan ia juga mengalami gangguan kesehatan mental tertentu yang dapat memicu pseudoseizure.

Berbagai masalah kesehatan mental dengan intensitas berat dapat menjadi pemicu dari gangguan ini. Pseudoseizure lebih umum ditemukan pada individu yang mengalami:

  • Gangguan kepribadian.
  • Trauma kekerasan fisik dan seksual.
  • Stres akibat konflik dalam keluarga.
  • Gangguan pengendalian marah.
  • Gangguan afektif.
  • Memiliki riwayat serangan panik.
  • Gangguan kecemasan.
  • Obsessive compulsive disorder (OCD)
  • Gangguan disosiatif.
  • Post-traumatic stress disorder (PTSD)
  • Gangguan psikosis, seperti skizofrenia
  • Riwayat penyalahgunaan obat
  • Riwayat trauma kepala
  • Riwayat attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Pseudoseizure umumnya merupakan kondisi sekunder yang muncul akibat adanya gangguan kesehatan mental tertentu. Maka, mengidentifikasi kondisi pemicu merupakan langkah paling penting untuk merencanakan pengobatan dan pengendalian kekambuhan gejalanya.

Diagnosis pseudoseizure

Tanpa melihat secara langsung karakteristik terjadinya kejang, dokter akan kesulitan untuk membedakan kejang non-epileptik dan epileptik. Berbagai gejala kejang pseudoseizure yang dilaporkan seseorang akan sangat sama persis dengan kejang akibat epilepsi.

Dalam banyak kasus, dokter akan menyadari bahwa individu yang mengalami kejang bukan disebabkan karena epilepsi karena obat epilepsi yang diberikan tidak memberikan efek sama seperti pada penderita epilepsi.

Pemeriksaan aktivitas otak juga dapat menjadi penegak diagnosis pseudoseizure dengan memperhatiakn keabnormalan aktivitas sel saraf otak dan membedakannya dengan aktivitas otak pengidap epilepsi saat kejang.

Riwayat kesehatan dan paparan tekanan mental serta pendapat dari beberapa ahli psikologis, psikiatri dan neurologis juga diperlukan untuk mengenali pseudoseizure beserta kondisi yang menyebabkannya.

Penanganan pseudoseizure

Pseudoseizure ditangani dengan metode yang berbeda-beda, bergantung dengan kondisi yang menyebabkannya. Namun pada umumnya dilakukan metode yang berfokus pada gejala dan manajemen paparan dari sumber stres. Beberapa penanganan yang efektif untuk mengatasi pseudoseizure diantaranya:

  • Konseling pribadi dan keluarga
  • Terapi perilaku kognitif
  • Mengajarkan teknik relaksasi
  • Terapi perilaku
  • Terapi terhadap ingatan traumatis
  • Konsumsi antidepresan
  • Pengobatan sesuai dengan gangguan kesehatan mental

Tidak ada satu jenis terapi untuk mengatasi pseudoseizure yang pasti bakal cocok untuk orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan mental yang berbeda-beda. Oleh karena itu, tenaga psikiatri juga memerlukan penilaian secara formal dari pemicu stres dari masing-masing gangguan kesehatan mental sebelum menyarankan metode pengobatan yang sesuai.

Misalnya jika stres dan pemicu kejang yang dialami berasal dari trauma, maka metode pengendalian yang dianjurkan adalah metode konseling atau teknik relaksasi seperti meditasi atau menyibukkan diri dengan berolahraga.

Munculnya kejang pseudoseizure tidak dapat dihilangkan atau dicegah begitu saja. Meski demikian, mengendalikan kambuhnya gangguan mental dapat meminimalisisir munculnya gejala kejang pasien.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bahaya Pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa

Dengan belenggu pasung berarti orang dengan gangguan jiwa dibiarkan tanpa penanganan yang baik, semakin lama tidak ditangani maka kondisinya akan memburuk.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Psikologi 9 April 2020 . Waktu baca 4 menit

Penyebab Hoarding, ‘Hobi’ Menimbun Barang yang Sudah Tidak Diperlukan

Suka menyimpan barang yang sudah tidak terpakai, alias hoarding ternyata termasuk gangguan kesehatan mental. Apa penyebab hoarding?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 7 Maret 2020 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Dokter dan Staf Medis COVID-19 Menjaga Kesehatan Mentalnya?

Tidak hanya pasien COVID-19 yang mengalami tekanan psikologis, dokter dan staf medis lainnya pun memiliki isu kesehatan mental ketika menghadapi wabah ini.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 27 Februari 2020 . Waktu baca 6 menit

4 Cara Terbebas dari Gangguan Kecemasan

Mengatasi gangguan kecemasan bisa menggunakan obat sampai meditasi, bahkan kelompok berbagi. Mana yang cocok dengan Anda? Cek di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Rachmadin Ismail
Hidup Sehat, Psikologi 10 Desember 2019 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

apa itu depresi

Penyakit Mental

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
Dipublikasikan tanggal: 17 September 2020 . Waktu baca 9 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit
perbedaan stres dan depresi, gangguan kecemasan

Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 9 Juni 2020 . Waktu baca 6 menit
Pedofilia kekerasan seksual

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30 Mei 2020 . Waktu baca 4 menit