Mengenal Perbedaan Panic Attack dan Anxiety Attack

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/06/2020 . 6 menit baca
Bagikan sekarang

Panic attack dan anxiety attack kesannya hanya panik dan cemas biasa saja, padahal kedua kondisi ini digolongkan sebagai gangguan psikologis. Jangan-jangan, Anda juga mengalaminya? Simak lebih jauh apa itu panic attack, apa itu anxiety attack, dan bagaimana cara mengenali ciri-ciri serta gejalanya.

Apa itu anxiety atau kecemasan?

Cemas adalah sistem alarm alami tubuh saat Anda merasa terancam, di bawah tekanan, atau menghadapi situasi yang membuat stress dan tidak nyaman. Umumnya, kecemasan bukanlah suatu hal yang buruk. Rasa cemas bisa membantu Anda untuk tetap waswas dan fokus, menyiapkan Anda untuk bekerja, dan memotivasi Anda untuk memecahkan masalah.

Kecemasan lebih dari sekedar insting. Sebagai hasil dari reaksi “fight or flight” tubuh, kecemasan memiliki beberapa tanda dan gejala fisik.

Apa saja tanda Anda sedang cemas?

Tanda dan gejala anxiety atau kecemasan adalah:

  • deg-degan, gelisah
  • berkeringat
  • perut mulas atau pusing
  • sering buang air kecil atau diare
  • napas ngos-ngosan
  • tremor dan kedutan
  • otot tegang
  • sakit kepala
  • lemah lesu
  • insomnia
  • ketakutan
  • sulit fokus
  • mudah marah
  • tegang dan waswas
  • sensitif terhadap potensi bahaya, mudah kaget
  • pikiran kosong

Namun jika Anda terus dihinggapi oleh kecemasan dan ketakutan yang luar biasa yang berkepanjangan hingga mengganggu rutinitas dan fungsi Anda sehari-hari, inilah yang disebut dengan gangguan kecemasan.

Gangguan kecemasan bisa menakutkan, mengganggu, dan melemahkan. Karena banyak gejalanya yang serupa juga ditemukan pada sejumlah penyakit umum (seperti penyakit jantung, masalah tiroid, dan gangguan pernapasan), orang yang mengalami gangguan kecemasan sering membuat beberapa kunjungan ke ruang gawat darurat atau kantor dokter, berpikir bahwa mereka memiliki penyakit yang mengancam jiwa. Membutuhkan hingga beberapa bulan atau bertahun-tahun dan banyak episode frustrasi sebelum mendapatkan diagnosis yang tepat.

Bedanya panik biasa dengan panic attack

Gangguan kecemasan sebenarnya merupakan payung besar yang melingkupi enam macam gangguan psikis, yaitu generalized anxiety disorder (GAD), serangan panik atau panic attack, obsessive-compulsive disorder (OCD), fobia, social anxiety disorder, dan post-traumatic disorder (PTSD).

Di sisi lain, serangan panik adalah sebuah kondisi turunan dari anxiety attack yang memiliki karakteristik lebih spesifik. Istilah “panic attack” dan “anxiety attack” sering kali digunakan untuk mendeskripsikan satu sama lain. Padahal, dalam dunia medis, anxiety attack merupakan istilah yang kurang tepat.

Mungkin Anda pernah merasakan perasaan takut yang membanjiri tubuh saat terjebak dalam situasi yang mengancam atau berbahaya. Menyeberang jalan saat sebuah mobil mendadak melintas kencang, misalnya, atau mendengar teriakan massa yang menggelegar saat terjadi demo. Kepanikan sesaat bikin menggigil dan bulu kuduk merinding, menyebabkan jantung berdebar kencang, perut terasa mulas, dan pikiran kalut bercampur aduk. Saat bahaya tersebut usai, biasanya gejala kepanikan juga akan menghilang. Kepanikan kini tergantikan oleh rasa lega karena kita berhasil melewati krisis dan kembali melanjutkan hidup.

Sekarang, bayangkan jika Anda tengah berbelanja di sebuah swalayan dan bertemu dengan tetangga atau teman lama. Di tengah obrolan yang mengasyikkan, tiba-tiba Anda dilanda kepanikan yang amat sangat seperti akan didatangi sebuah musibah besar. Jantung Anda berdebar kencang sampai terasa menyakitkan, keringat dingin, dan berkunang-kunang. Mendadak Anda ingin pingsan, merasa gila, atau bahkan seperti ingin mati. Lalu setelah segalanya terlewati, kepanikan tersebut berubah menjadi rasa lemas, lelah, dan kebingungan; Anda terus menerus dihantui pikiran kenapa hal itu mendadak terjadi, kapan akan terjadi lagi, dan harus bagaimana saat serangan tersebut kembali.

Jika Anda sering mengalami kepanikan mendadak tanpa sebab dan tidak berkaitan dengan situasi yang sedang Anda hadapi, dan Anda terus diteror rasa takut bahwa serangan ini akan terjadi lagi dan lagi, Anda mungkin mengalami satu kondisi psikis serius namun mudah ditangani, yaitu serangan panik alias panic attack.

Lalu, apakah panic attack?

Cathy Frank M.D., direktur Outpatient Behavioral Health Services di Henry Ford Hospital, menjelaskan bahwa serangan panik, atau panic attack, terjadi secara spontan dan bukan sebagai reaksi dari sebuah situasi yang penuh tekanan. Serangan panik terjadi tanpa alasan dan tidak dapat diprediksi. Selama serangan panik berlangsung, orang yang mengalaminya akan terjebak dalam teror dan ketakutan yang luar biasa hingga merasa seperti akan mati, kehilangan kontrol atas tubuh dan pikiran, atau mengalami serangan jantung. Lebih lanjut lagi, penderita akan diteror perasaan khawatir terhadap munculnya serangan panik selanjutnya.

Walaupun penyebab pasti dari sebuah serangan panik belum dapat diketahui, penelitian memperkirakan bahwa kombinasi antara kondisi biologis tubuh (gen) dan faktor eksternal lingkungan memiliki kontribusi yang sama besarnya terhadap serangan dan perkembangan panic attack.

Bagaimana mendeteksi panic attack?

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM 5), serangan panik dikarakteristikan oleh empat atau lebih dari gejala di bawah ini:

  • jantung berdebar kencang, laju jantung cepat
  • keringat deras
  • gemetaran, menggigil
  • sensasi kehabisan napas, kesulitan bernapas
  • merasa tercekik atau seperti tersedak
  • nyeri atau rasa tidak nyaman di dada
  • mual, atau perut bergejolak
  • kepala berkunang-kunang, kehilangan keseimbangan, pingsan
  • derealisasi dan depersonalisasi, perasaan terpisah dari tubuh atau kenyataan
  • rasa seperti kehilangan kontrol atas tubuh, merasa gila
  • ketakutan akan mati
  • mati rasa atau paresthesia
  • keringat dingin, panas dingin, atau tubuh memerah dan menghangat

Banyak gejala dari gangguan kecemasan dan panic attack yang mirip satu sama lain, namun pada gangguan kecemasan, periode serangan umumnya lebih singkat dan tidak seserius serangan panik. Meski demikian, gejala anxiety attack lebih sulit untuk hilang dalam sekejap dan bisa bertahan lama hingga berhari-hari, atau bahkan berbulan-bulan.

Banyak orang yang memiliki gangguan kecemasan ini juga mengalami depresi di satu momen dalam hidupnya. Kecemasan dan depresi dipercaya mengakar dari kerentanan biologis yang sama, yang dapat menjelaskan mengapa kedua kondisi yang berlainan ini sering kali terjadi tumpang tindih. Depresi memperparah gejala gangguan kecemasan, begitu pula sebaliknya. Penting untuk Anda mencari pertolongan untuk kedua masalah psikis ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 menit baca

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 menit baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 4 menit baca
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 menit baca
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 menit baca
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca