Berbagai Penyebab Utama Seseorang Ingin Bunuh Diri

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/07/2019
Bagikan sekarang

Bunuh diri sering menjadi jalan pilihan terakhir ketika seseorang merasa masalah hidupnya tidak bisa terselesaikan. Namun, tidak demikian kenyataannya. Anda bisa mencegah kasus bunuh diri terjadi di sekitar lingkungan Anda apabila Anda tahu, ciri-ciri serta penyebab seseorang ingin mengakhiri hidupnya.

Fakta bunuh diri

Respon seseorang saat menghadapi masalah berbeda-beda. Ada yang optimis ketika dirinya sedang ditimpa banyak masalah. Ada juga yang pesimis sembari merasa tidak sanggup dan merasa hidupnya tidak berarti lagi. Respon seseorang ini dipengaruhi oleh seberapa kuat mental seseorang menghadapi masalah.

Mental seseorang bisa dibangun dari bagaimana pengalaman seumur hidupnya dijalani. Apabila ia kerap ditimpa masalah dan berhasil melewatinya, ada kemungkinan ia bisa menjadi pribadi yang kuat dan mau berjuang untuk bertahan hidup.

Lalu jika ia merupakan orang yang sering merasakan kegagalan berulang dan merasa putus asa, ini juga bisa menjadi penyebab bunuh diri.

Selain itu, adanya perasaan tak dihargai, membandingkan hidup dengan orang lain, belum lagi tekanan-tekanan sosial seperti bullying, akan membuat orang mengalami stres. Stres yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan seseorang menjadi depresi.

Depresi membawa seseorang pada keinginan bunuh diri. Hal ini bukan lagi hal yang tabu. Pada tahun 2015 dalam laporan penyuluhan Kementerian Sosial Republik Indonesia sudah terdapat 810 kasus bunuh diri di Indonesia.

Apa penyebab seseorang ingin bunuh diri?

Keinginan mengakhiri hidup dapat didasari oleh beberapa faktor berikut:

1. Depresi

Depresi adalah salah satu penyakit mental, namun gejalanya agak sulit dikenali atau disadari. Seringnya seseorang menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, namun ia tidak tahu cara keluar dari masalah.

Begitu juga, ketika seseorang murung dan selalu menutup diri, kadang orang-orang berasumsi dan mengira itu adalah karakter seseorang yang pemalas atau bahkan tidak pandai bergaul.

Depresi juga sering membuat seseorang punya pikiran bahwa tidak ada orang yang sayang padanya lagi, membuat seseorang menyesali hidupnya, atau bahkan berpikir bila ia mati tidak ada yang rugi.

2. Adanya sikap impulsif

Impulsif artinya melakukan sesuatu berdasarkan dorongan hati (impulse). Impulsif memang tidak sepenuhnya buruk, selalu ada sisi baiknya. Orang-orang yang impulsif dapat melakukan sesuatu secara spontan

Akan tetapi orang yang impulsif biasanya menjadi ceroboh dan cenderung nekat. Sayangnya, perilaku impulsif ini bisa bahaya bila dibarengi dengan munculnya pikiran negatif, berisiko menyebabkan ia berpikir cepat untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

3. Masalah sosial

Ada beberapa orang yang berniat tidak ingin bunuh diri. Sayangnya, karena orang tersebut  tidak bisa bertahan dan keluar dari masalah sosial yang dihadapi , akhirnya ia memilih bunuh diri.

Masalah sosial seperti dikucilkan, bullying, atau bahkan dikhianati bisa menjadi pemicu orang berpikir mengakhiri hidupnya. Beberapa orang berpikir dengan mencelakai dirinya sendiri, ini dapat menyadarkan orang-orang yang menyakitinya.

4. Filosofi tentang kematian

Beberapa orang memiliki filosofi berbeda tentang kematian. Bahkan muncul istilah “orang yang bunuh diri, bukan ingin mengakhiri hidupnya, tetapi ingin mengakhiri rasa sakit yang dirasakan.” Rasa sakit di sini bisa mengacu pada rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Orang-orang seperti ini tidak dalam keadaan depresi. Mereka melihat tidak adanya peluang untuk hidup, sehingga memilih takdirnya sendiri dengan mempercepat untuk mengakhiri rasa sakit tersebut.

5. Sakit mental lainnya

Studi Psychological Autopsy menemukan bahwa dalam kasus bunuh diri ditemukan adanya satu atau lebih diagnosis sakit mental pada 90% orang yang bunuh diri. Juga ditemukan satu dari dua puluh orang yang menderita skizofrenia mengakhiri hidupnya. Kasus bunuh diri juga ditemukan pada kelainan kepribadian seperti antisosial, borderline, dan narcissistic personality disorder.

Faktor lainnya yang harus diwaspadai, seperti:

  • Pengalaman buruk yang memicu trauma

Trauma yang terjadi pada masa kecil dapat terbentuk di dalam alam bawah sadar seseorang. Pada akhirnya, akan terasa adanya kesulitan untuk keluar dari trauma tersebut. Trauma tersebut akan menghambat seseorang, bahkan jika seseorang tidak sanggup memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri atas hal buruk yang terjadi padanya. Dampak fatalnya, ia berisiko bunuh diri.

  • Faktor keturunan

Riwayat keturunan genetik juga bisa menyebabkan seseorang melakukan bunuh diri. Jika ada keluarga Anda yang memiliki riwayat bunuh diri, Anda perlu melatih adanya pikiranpositif ketika memiliki masalah berat atau dalam keadaan apa pun, tetaplah berpikir positif.

Tanda seseorang yang ingin bunuh diri

Anda bisa mengamatit tanda seseorang ingin bunuh diri jika ada perubahan perilaku yang terjadi pada keluarga atau kerabat Anda. Bisa jadi, orang tersebut tidak mampu menghadapi permasalahannya dan sedang membutuhkan pertolongan.

Ada beberapa tanda seseorang ingin bunuh diri, seperti:

  • Selalu berbicara putus asa atau menyerah
  • Selalu membicarakan tentang kematian
  • Melakukan tindakan yang mengantar pada kematian, seperti menyetir ugal-ugalan, melakukan olahraga ekstrem tanpa berhati-hati, atau mengonsumsi dosis obat berlebihan
  • Kehilangan minat pada hal yang ia sukai
  • Berbicara atau mem-posting sesuatu dengan kata-kata galau masalah hidup, seperti tidak ada harapan dan merasa tidak berharga
  • Mengatakan sesuatu yang menyalahkan dirinya seperti “ini semua tidak akan terjadi jika aku tidak ada di sini” atau anggapan “mereka akan lebih baik tanpa diriku”
  • Perubahan suasana hati yang drastis, dari sedih bisa tiba-tiba merasa bahagia
  • Berbicara tentang kematian dan bunuh diri
  • Mengucapkan selamat tinggal pada seseorang, padahal ia tak ada rencana pergi ke mana-mana.
  • Depresi berat yang membuatnya memiliki gangguan tidur

Bagaimana cara menanganinya?

Setiap masalah pasti ada solusinya, Seberat apa pun itu, permasalahan juga pasti akan berakhir. Yang perlu Anda lakukan jika Anda atau kerabat Anda mengalami tanda-tanda ingin diri adalah mencari bantuan profesional, kunjungi terapis.

Berkumpul dengan orang-orang yang positif dan suportif. Selalu ingat, bahwa hidup memang sementara, permasalahan Anda pun hanya sementara tanpa harus mengakhiri hidup Anda. Setiap orang di muka bumi ini berharga dan bisa memiliki peran yang baik, dan yang terpenting jangan pernah menyerah.

Jika teman atau saudara Anda mengalami masalah dan putus asa, Anda harus menjadi pendengar yang baik. Coba bujuk untuk pergi ke terapis, tetapi jangan beradu argumen tentang kematian atau bunuh diri. Orang yang sedang memiliki masalah berat, cenderung tidak dapat berpikir rasional. Terus berikan semangat.

Saat orang mengalami depresi, umumnya obat yang dipakai dalam pengobatan adalah obat antidepresan. Anda harus berkonsultasi dulu ke dokter sebelum menggunakannya.

Perhatian!

Apabila Anda merasakan gejala depresi, memiliki perasaan bunuh diri, atau mengetahui orang yang sedang dalam pikiran bunuh diri, hubungi call center polisi di 110 atau layanan kesehatan jiwa milik Kemenkes pada nomor 119 atau 118.

Anda juga bisa menghubungi Rumah Sakit Jiwa (RSJ) untuk pertolongan pertama, misalnya:

  • RSJ Marzoeki Mahdi Bogor 0251-8310611, petugas psikolog dan psikiater profesional dari RSJ akan memberikan layanan 24 jam.
  • Layanan yang biasanya tersedia di beberapa rumah sakit besar atau RSJ Dr Soeharto Herdjan Grogol Jakarta yang dapat terhubung pada unit gawat daruratnya untuk mendapat pertolongan segera.
  • Layanan kesehatan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) juga memfasilitasi warga Indonesia yang membutuhkan layanan konsultasi kesehatan mental, misalnya depresi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

Anak dan remaja termasuk kelompok yang rentan stres saat masa pandemi COVID-19, karena itu orangtua perlu memahami penyebab dan cara mengatasi kondisi ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 17/05/2020

Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Beragam manfaat detoks digital mengarahkan Anda untuk memiliki hubungan lebih baik dengan. Namun, apa sebetulnya detoks digital itu?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

Momen kelulusan pelajar dan mahasiswa harus dilewatkan saat pandemi COVID-19. Bagaimana hal ini berpengaruh pada kondisi psikologis mereka?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 13/05/2020

Kenapa Kita Mudah Marah Saat Sedang Lapar?

Saat lapar, rasanya hanya ingin marah sampai Anda mendapat yang Anda mau. Tapi, kok bisa begitu, ya? Kenapa kita mudah marah saat kelaparan?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hari Raya, Ramadan 10/05/2020

Direkomendasikan untuk Anda

minyak esensial untuk meredakan stres

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
delusi dan halusinasi

Delusi dan Halusinasi, Apa Bedanya?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020
Pedofilia kekerasan seksual

Pedofilia dan Kekerasan Seksual pada Anak, Apa Bedanya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/05/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020