Mungkin Anda pernah merasakan ketakutan saat terjebak dalam situasi yang mengancam atau berbahaya. Menyeberang jalan saat sebuah mobil mendadak melintas kencang, misalnya, atau tersentak kaget di tengah lamunan bolong karena kayaknya kompor lupa dimatikan sebelum berangkat ngantor tadi. Setelah diingat-ingat ternyata benar sudah matiin kompor, Anda menertawakan diri sendiri dan kembali melanjutkan bengong ria.

Sekarang bandingkan dengan cerita yang satu ini. Anda tengah beraktivitas seperti biasa berbelanja di swalayan dekat rumah dan berpapasan dengan teman lama, misalnya. Di tengah obrolan temu kangen, tiba-tiba Anda dilanda kepanikan yang amat sangat seperti akan didatangi sebuah musibah besar. Jantung Anda berdebar sangat kencang sampai terasa menyakitkan, keringat dingin, dan berkunang-kunang. Mendadak Anda ingin pingsan atau bahkan seperti ingin mati. Lalu setelah segalanya terlewati, kepanikan tersebut berubah menjadi ketidakberdayaan.

Salah satu di antara dua contoh kasus di atas merupakan kasus gangguan panik yang ditandai oleh serangan panic attack, sementara yang lainnya merupakan panik biasa. Sebelum mencari tahu mana adalah yang mana, ada baiknya untuk mengulik lebih dalam tentang arti kepanikan itu sendiri.

Apa itu panik?

Panik adalah sensasi ketakutan tiba-tiba yang begitu kuat sewaktu menghadapi suatu kondisi yang dirasakan berbahaya atau mengancam. Kepanikan ini begitu kuat sehingga mengaburkan kemampuan berpikir logis, menggantikannya dengan kecemasan dan kegelisahan luar biasa yang disertai dorongan impulsif untuk lari atau bersembunyi. Panik umumnya timbul pada kondisi potensi bencana atau kekerasan, seperti perampokan dan penjarahan yang dapat membahayakan kesehatan atau jiwa.

Contoh kasus pertama adalah contoh situasi panik biasa yang dipicu oleh pemicu stres spesifik yang mengaktifkan reaksi flight or flight tubuh. Panik adalah insting. Ketika seseorang merasa stres, sistem saraf simpatik mereka biasanya mengganas, melepaskan luapan energi guna mempersiapkan tubuh untuk bertindak. Kemudian sistem saraf parasimpatik mengambil alih pengelolaan stres, sehingga tubuh perlahan kembali stabil. Kepanikan kini tergantikan oleh rasa lega karena kita berhasil melewati krisis dan kembali melanjutkan hidup. Episode kepanikan ini biasanya pulih dengan cepat.

Tapi, jika cemas atau panik datang berulang di luar batas toleransi sehingga mengganggu kehidupan, sebaiknya Anda waspada. Pasalnya, ada kemungkinan panik Anda sudah menjadi gejala gangguan klinis yang ditandai dengan serangan panik.

Apa bedanya panik biasa dengan panic attack?

Panic attack ditandai oleh rasa takut akan datangnya bencana atau kehilangan kontrol, bahkan ketika tidak ada bahaya nyata. Panic attack merupakan salah satu gejala dari gangguan panik klinis. Gangguan panik berbeda dari reaksi ketakutan dan kecemasan normal terhadap pemicu stres. Gangguan panik adalah kondisi klinis serius yang menyerang sekitar satu dari setiap 75 orang mungkin memiliki gangguan panik.

Cerita kedua merupakan contoh kasus gangguan panik. Orang dengan gangguan panik memiliki serangan ketakutan dan kecemasan mendadak, yang bertahan lama dan berulang, berlangsung selama setidaknya 10-30 menit atau lebih. Ini disebut serangan panik atau panic attack.

Selama serangan panik, rasa takut yang dialami seseorang sangat di luar proporsi dari situasi sebenarnya, yang seringnya tidak mengancam. Lebih sering, situasi di kenyataan dan reaksi yang ditimbulkan tidak berhubungan sama sekali.

Apa saja tanda dan gejala panic attack?

Seseorang yang mengalami panic attack mungkin menunjukkan reaksi fisik yang kuat selama serangan seperti jantung berdebar atau nyeri dada; berkeringat deras/keringat dingin; menggigil atau hot flashes; tremor atau gemetar; masalah pernapasan; Sensasi tersedak atau dada sesak; kelemahan atau kepala berputar; perasaan ingin pingsan; tangan kesemutan atau mati rasa; mual atau sakit perut; dan rasa takut bahwa Anda kehilangan kontrol tubuh atau akan mati. Gejala serangan panik dapat identik menyerupai serangan jantung.

Serangan panik dapat terjadi setiap saat, tanpa alasan atau peringatan, dan tanpa cara untuk menghentikannya. Gejala utama dari gangguan panik yang membedakan kondisi ini dari setiap kejadian panik biasa lainnya adalah ketakutan mengalami serangan panik di masa depan yang intens dan terus-menerus. Ketakutan akan serangan ini dapat menyebabkan seseorang untuk menghindari tempat-tempat ramai dan/atau situasi di mana serangan panik pernah terjadi, atau di mana mereka percaya serangan dapat terjadi.

Seseorang yang memiliki gangguan panik mungkin menjadi patah semangat dan depresi karena ia tidak bisa melakukan rutinitas normal seperti pergi ke sekolah atau bekerja, pergi ke toko kelontong, atau mengemudi. Gangguan panik yang parah bisa berujung pada agoraphobia, yaitu fobia berada di tengah banyak orang. Penderita agoraphobia sering takut tanpa alasan jelas bila dirinya berada di tempat terbuka atau harus keluar dari rumah.

Apa yang menyebabkan gangguan panik?

Gangguan panik sering dimulai pada usia remaja atau dewasa awal. Untuk alasan yang tidak diketahui, perempuan dua kali lebih mungkin untuk mendapatkan gangguan panik daripada kaum laki-laki. Gangguan panik kadang menurun dalam keluarga, sama halnya risiko keturunan untuk penyakit kompleks lainnya, seperti kanker atau penyakit jantung. Tapi tidak ada yang tahu pasti mengapa beberapa anggota keluarga bisa memiliki gangguan panik sementara yang lainnya tidak.

Serangan panik juga bisa dipicu oleh kombinasi penyebab fisik dan psikologis, seperti stres atau trauma. Walaupun serangan bisa terjadi mendadak, akhirnya penderita benar-benar dapat membantu memicu gejalanya keluar dengan menanggapi gejala fisik dari serangan panik.

Sebagai contoh, jika seseorang dengan gangguan panik mengalami jantung berdebar setelah minum kopi, olahraga berat, atau mengonsumsi obat tertentu, mereka mungkin menafsirkan ini sebagai gejala dari serangan panik. Pemikiran ini kemudian memicu kecemasan yang pada akhirnya memicu serangan panik nyata. Di sisi lain, kopi, olahraga, atau obat-obatan tertentu memang kada dapat menyebabkan serangan panik.

Bagaimana saya bisa tahu apakah saya menderita gangguan panik?

Harap diingat bahwa hanya terapis berlisensi yang dapat mendiagnosis gangguan panik. Banyak orang bisa mengalami serangan panik sesekali, dan jika Anda memiliki satu atau dua serangan ini, tidak ada alasan khusus untuk khawatir. Tidak semua orang yang mengalami serangan panik akan mengembangkan gangguan panik.

Tetapi jika Anda menderita serangan panik berulang (empat kali atau lebih) dalam waktu singkat, dan terutama jika Anda telah mengalami serangan panik tapi terus dibayangi ketakutan akan episode kambuhan di masa depan, segera pertimbangkan berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental yang mengkhususkan diri dalam gangguan panik atau kecemasan untuk mendapatkan diagnosis pastinya.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca