Ketika Beban Depresi Bersembunyi di Balik Topeng Wajah Ceria

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Sebuah senyuman bisa menyimpan seribu arti. Tidak semua senyum menandakan kebahagiaan. Bagi orang-orang tertentu, senyum yang terpajang di wajahnya menjadi cara untuk menyembunyikan gejala depresi yang ia miliki.

Orang yang depresi masih bisa tersenyum, tapi…

Gejala depresi seringkali digambarkan sebagai orang yang lesu lunglai, selalu bermuram durja, susah berkonsentrasi, dan tidak produktif. Namun begitu, beberapa orang yang memiliki depresi bisa terlihat normal dan beraktivitas seperti biasa, seolah segalanya baik-baik saja padahal Anda hanya menjalani rutinitas semata tanpa arah tujuan. Gejala depresinya tidak terlalu kentara karena terselubung atau tertutupi oleh keseluruhan perilaku normalnya di kehidupan sehari-hari.

Maka, mungkin saja orang tersebut bisa tetap kerja atau sekolah, sambil menutupi depresinya dengan senyum yang ia tampilkan. Senyuman tersebut juga bisa menjadi cara untuknya agar tampak seperti “orang normal” kebanyakan.

Dalam beberapa budaya atau keluarga, cap negatif terhadap gangguan kesehatan mental juga dapat memengaruhi hal ini. Misalnya, beberapa orang menganggap bahwa mengekspresikan emosi adalah cara untuk “mencari perhatian” atau sebagai tanda kelemahan, sehingga orang yang depresi memilih untuk menyembunyikannya.

Selain itu, senyuman yang terpajang di wajah orang tersebut juga bisa menjadi “tameng” untuknya melindungi diri dari pertanyaan-pertanyaan usil orang sekitar, ketika suatu saat melihatnya tampak lebih pendiam dan murung — “Ah, aku tidak apa-apa kok! Hahaha… Cuma lagi bad mood saja!”.  Semua orang memiliki harapan masing-masing tentang diri kita untuk menjadi lebih baik atau lebih kuat. Namun, terkadang harapan itu tidak sesuai dengan realita, sehingga Anda mungkin lebih cenderung ingin menyembunyikan perasaan Anda.

Apa saja tanda dan gejala depresi yang perlu diwaspadai?

Gejala depresi bisa tampak berbeda pada satu orang dan yang lainnya. Beberapa orang memiliki gejala yang samar sehingga kelihatannya normal atau baik-baik saja, tapi diam-diam mengidap depresi kronis.

Itu sebabnya terkadang sulit untuk mendiagnosis depresi. Namun, masing-masing orang sebenarnya dapat mengenali tanda-tandanya.

Gejala depresi yang paling umum adalah:

  • Perubahan nafsu makan, berat badan, dan pola tidur (suka terbangun tengah malam; sulit tidur; selalu bermimpi buruk).
  • Perasaan nelangsa, putus asa.
  • Merasa tidak memiliki harga diri.
  • Merasa harga dirinya rendah.
  • Tidak ingin melakukan hal-hal yang pernah disukai.
  • Suasana batin yang tidak menentu dan tidak tenteram.
  • Selalu cemas dalam menghadapi berbagai hal, walaupun hal tersebut sepele untuk sebagian besar orang.
  • Diliputi perasaan sedih atau amarah yang terus-menerus tanpa alasan jelas.
  • Mudah lelah saat beraktivitas fisik.
  • Badan selalu terasa lemah, kurang bergairah, tak bertenaga.

Meski begitu, beberapa orang bisa menyembunyikan berbagai gejala ini di balik topeng wajah cerianya. Maka, bukan hal yang tidak mungkin jika beberapa orang yang memiliki depresi tetap bisa aktif bekerja atau bersekolah, memiliki kehidupan sosial yang baik dengan orang-orang di sekitar, dan tampak bahagia.

Menyembunyikan depresi di balik tawa dan senyum bisa meningkatkan risiko bunuh diri

Senyum dan tawa yang ditunjukkan mungkin bertindak sebagai sebuah “perisai” agar ia tidak menunjukkan gejala depresi di depan banyak orang sehingga mengekspos “kelemahan diri”nya. Senyuman tersebut juga bisa berarti ia tidak ingin membebani siapa pun dengan kondisi yang ia alami sebenarnya.

Mungkin juga dapat berarti sebagai “hukuman” bagi diri sendiri, karena menganggap “masih banyak orang lain yang lebih menderita dariku, lalu apa yang aku harus keluhkan?”

Meski begitu, topeng senyuman ini akan terlepas dengan sendirinya ketika orang yang bersangkutan sudah dalam kesendirian. Karena ia tidak memiliki cara untuk berbagi dan meluapkan emosinya, orang-orang yang menyembunyikan depresinya cenderung memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi.

Bahkan, “motivasi” yang ia dapat dari senyuman tersebut bisa mendorongnya untuk lebih nekat menjalankan rencana tersebut, dibandingkan orang-orang dengan depresi berat yang merasa ingin bunuh diri tapi kadangtidak memiliki energi untuk bertindak.

Apa saja pilihan perawatannya?

Depresi dapat diatasi dengan pengobatan dokter, psikoterapi, perubahan gaya hidup, maupun kombinasi dari semua hal tersebut. Langkah paling penting untuk mengobati gejala depresi adalah membuka diri kepada seseorang di sekitar yang Anda percaya.

Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter atau psikolog. Semakin cepat depresi dideteksi dan diobati, semakin tinggi peluang kesembuhannya.

Baca Juga:

Sumber