backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

1

Tanya Dokter
Simpan

Kesehatan Mental Bisa Pengaruhi Kesehatan Fisik, Ini Sebabnya

Ditinjau secara medis oleh dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa · General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 20/08/2023

    Kesehatan Mental Bisa Pengaruhi Kesehatan Fisik, Ini Sebabnya

    Meskipun terlihat seperti dua hal yang berbeda, faktanya kesehatan fisik dan mental tetap saling berhubungan. Saat kondisi fisik Anda memburuk, mental Anda juga bisa mengalami hal yang serupa. Begitu pula sebaliknya.

    Lantas, bagaimana kedua hal tersebut memengaruhi satu sama lain? Adakah cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan keduanya sekaligus? Simak informasi berikut untuk mengetahui jawabannya.

    Hubungan kesehatan fisik dan mental

    Kesehatan fisik dan mental sama pentingnya bagi setiap orang. Pasalnya, seseorang yang mengalami masalah fisik lebih berisiko mengalami gangguan mental, dan sebaliknya.

    Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal BMC Public Health (2019) menyebutkan bahwa seseorang dengan penyakit kronis memiliki risiko 36,6% lebih besar mengalami gangguan mental.

    Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal yang sama pada 2022 lalu turut mendukung pernyataan tersebut.

    Dalam penelitian tersebut, terbukti bahwa seseorang yang rutin melakukan aktivitas fisik selama masa COVID-19 lalu memiliki kondisi mental yang lebih baik.

    Berikut adalah bukti-bukti lain bagaimana kesehatan fisik dan mental saling berhubungan.

    • Stres dapat meningkatkan risiko peradangan di dalam tubuh.
    • Stres oksidatif meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti jantung, diabetes, hingga kanker.
    • Seseorang dengan kebiasaan minum minuman beralkohol dan merokok saat stres memiliki risiko lebih besar mengalami masalah pada kesehatan fisiknya.
    • Efek samping berupa mulut kering pada beberapa obat-obatan untuk pasien gangguan mental dapat meningkatkan risiko penyakit periodontal.
    • Stres akan mengganggu kualitas tidur seseorang sehingga meningkatkan risiko masalah fisik akibat kurang istirahat.
    • Seseorang dengan kondisi fisik yang tidak baik lebih mudah merasakan cemas yang kemudian memperburuk kesehatan mentalnya.
    • Skizofrenia meningkatkan risik penyakit jantung dan pernapasan pada pengidapnya.

    Hubungan antara kesehatan fisik dan mental juga bisa dilihat melalui kondisi yang disebut psikosomatis

    Psikosomatis adalah kondisi saat seseorang mengeluhkan masalah fisik karena pikiran atau emosinya sedang tidak baik.

    Cara menjaga kesehatan fisik sekaligus mental

    Penting untuk diingat bahwa kata “kesehatan” tidak hanya merujuk pada kondisi fisik, tetapi juga mental. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas setiap orang untuk menjaga keduanya sekaligus.

    Berikut adalah beberapa gaya hidup sehat yang bisa Anda terapkan untuk menjaga kesehatan fisik sekaligus mental.

    1. Olahraga rutin

    Tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, olahraga sudah terbukti dapat meningkatkan hormon endorfin.

    Ketika hormon endorfin meningkat, mood Anda akan ikut membaik sehingga kesehatan mental pun ikut terjaga.

    Satu hal yang penting terkait olahraga adalah mencari yang sesuai dengan kemampuan Anda dan melakukannya secara rutin.

    Tidak perlu langsung berolahraga berat, Anda bisa mulai membiasakan untuk berolahraga ringan dengan jalan kaki, jogging, atau senam.

    2. Tidur yang cukup

    Tidak hanya menyebabkan kantuk, kurang tidur juga bisa membahayakan kondisi fisik dan mental Anda. Beberapa masalah yang mungkin timbul yakni masalah jantung, kerusakan sel, hingga gangguan kecemasan.

    Oleh karena itu, Anda perlu berupaya mendapatkan waktu tidur cukup setiap harinya. Orang dewasa setidaknya membutuhkan waktu tidur selama 7–9 jam setiap malam.

    Tidur malam vs tidur siang

    Tidur siang tidak bisa menggantikan kekurangan tidur pada malam hari. Selain itu, tidur siang tidak boleh dilakukan terlalu lama karena justru bisa merusak kualitas tidur pada malam hari.

    3. Pilih makanan sehat

    kriteria makanan sehat

    Junk food dan makanan ringan memang terlihat menggiurkan, tetapi jenis makanan ini tidak akan memberikan Anda asupan gizi yang seimbang.

    Itulah mengapa untuk menjaga kesehatan, Anda perlu membatasi konsumsi junk food dan memperbanyak makanan bergizi, seperti buah dan sayur.

    Pastikan bahwa makanan yang Anda pilih tidak hanya mengenyangkan tetapi juga mengandung berbagai zat gizi, terutama protein, vitamin, dan mineral.

    Pola makan yang tidak sehat erat kaitannya dengan masalah kesehatan seperti obesitas, kurang gizi, penyakit refluks asam lambung (GERD), dan masih banyak lagi.

    4. Hindari rokok, alkohol, dan obat-obatan terlarang

    Beberapa orang mungkin menganggap bahwa merokok dapat memberikan ketenangan. Sayangnya, ini hanyalah efek sementara dan malah bisa berakibat buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

    Sebaliknya, merokok justru bisa mengganggu fungsi otak sehingga berisiko mengakibatkan berbagai masalah kesehatan. Begitu pula dengan alkohol dan obat-obatan terlarang. 

    Semakin lama Anda mengonsumsi salah satu atau bahkan ketiganya, efek yang Anda rasakan juga akan semakin buruk.

    5. Temukan teknik relaksasi yang tepat

    Setiap orang mungkin memiliki mekanisme koping yang berbeda-beda saat menghadapi stres dan situasi sulit. Carilah mekanisme koping seperti apa yang paling tepat bagi Anda. 

    Beberapa contoh mekanisme koping populer yang menyehatkan yaitu meditasi, latihan pernapasan, dan melakukan hobi.

    Dengan teknik relaksasi, diharapkan Anda bisa mengendalikan emosi dengan lebih baik sehingga tidak mempengaruhi kesehatan fisik dan mental Anda.

    Berbagai cara di atas hanyalah langkah awal dan mendasar untuk menjaga kesehatan fisik dan mental secara umum. Jika Anda memiliki masalah fisik atau mental tertentu, mungkin itu tidaklah cukup.

    Apabila Anda merasakan suatu gejala fisik atau mental yang membuat Anda resah, jangan ragu untuk berkonsultasi ke penyedia layanan kesehatan yang tepat.

    Anda dapat berkonsultasi ke psikolog, dokter, maupun dokter spesialis kejiwaan (psikiater) untuk mencari tahu solusinya.

    Catatan

    Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

    Ditinjau secara medis oleh

    dr. Nurul Fajriah Afiatunnisa

    General Practitioner · Universitas La Tansa Mashiro


    Ditulis oleh Hillary Sekar Pawestri · Tanggal diperbarui 20/08/2023

    advertisement iconIklan

    Apakah artikel ini membantu?

    advertisement iconIklan
    advertisement iconIklan