Duck Syndrome, Gangguan yang Sering Mendera Anda yang Ambisius

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 1 Juli 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Mungkin sebagian dari Anda ada yang memiliki teman yang hidupnya terlihat sukses dan banyak didambakan banyak orang. Lulus dari universitas ternama, mendapat pekerjaan di perusahaan yang bergengsi, dan di saat yang bersamaan tetap bisa bersenang-senang di unggahan sosial medianya.

Namun, siapa sangka bahwa di balik itu semua ternyata teman Anda sebenarnya sedang diterpa banyak beban? Kerap disebut duck syndrome, berikut penjelasannya.

Apa itu duck syndrome?

duck syndrome
Sumber: Teaching Commons Stanford

Duck syndrome merupakan istilah yang mengacu pada sebuah perilaku di mana seseorang sebenarnya sedang dirundung banyak masalah tapi tetap tampak baik-baik saja dari luar.

Istilah ini pertama kali digunakan oleh Universitas Stanford dan agaknya telah menjadi persoalan di kalangan mahasiswanya. Sebutan duck syndrome diambil dari analogi seekor bebek yang sedang berenang.

Saat bebek berenang, orang-orang hanya melihat bagian atas tubuhnya yang melaju dengan tenang dan perlahan. Sedikit dari mereka yang tahu bahwa ada kaki yang terus-terusan bergerak tak menentu dengan susah payah di bawah air.

Sindrom ini banyak terjadi pada remaja yang masih bersekolah atau berkuliah dan para dewasa muda yang baru memulai karirnya di dunia kerja.

Mengapa duck syndrome bisa terjadi?

masalah kesehatan mahasiswa baru

Masa-masa di sekolah menengah bisa menjadi bakal munculnya duck syndrome. Bayangkan bila Anda adalah salah satu murid terbaik di sekolah. Berbagai pujian dari guru dan teman-teman sudah menjadi makanan sehari-hari.

Kesuksesan tersebut pun membuat Anda merasa optimis dan semakin berambisi untuk menggapai prestasi yang lebih besar saat masuk ke perguruan tinggi nanti. Ada juga semacam beban yang mendorong Anda untuk mempertahankan citra sebagai murid teladan.

Sayangnya, masa perkuliahan tak semudah yang Anda bayangkan. Sistem pendidikan yang jauh berbeda, materi pelajaran yang lebih kompleks, serta tuntutan untuk membangun pertemanan yang luas demi masa depan nanti, semua hal itu akhirnya membuat Anda mulai merasa kewalahan.

Namun, lagi-lagi karena citra diri tersebut, Anda enggan mengakuinya dan berusaha mati-matian untuk tetap terlihat tenang dan berhasil mengerjakan semuanya. Tak peduli akan keadaan diri yang sudah lelah, yang penting Anda tetap mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Hal ini kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan oleh dewasa muda yang baru memulai karirnya. Dengan dunia yang lebih menuntut untuk tetap produktif dan menghasilkan kontribusi terbaik bagi perusahaan, mereka kerap mengenyampingkan perasaan dan terus memikirkan pekerjaan. Bahkan terkadang hal ini membuat mereka lupa akan batasan diri.

Tak ada yang mau membahas tentang bagaimana sulitnya mengerjakan suatu tugas, tak ada yang mau mengaku bahwa ada yang baru saja dimarahi atasan karena alasan yang memalukan, duck syndrome membuat mereka berlaku seakan tak pernah mengalami kegagalan.

Selain itu, faktor luar juga bisa mendorong terjadinya duck syndrome. Beberapa di antaranya adalah kecenderungan orang-orang terdekat yang kerap membangga-banggakan prestasi serta pola asuh helikopter.

Orangtua yang selalu mengawasi segala tindakan anak secara tak langsung dapat menumbuhkan perasaan takut gagal pada diri seseorang.

Bagaimana cara mengatasinya?

stres ibu rumah tangga

Meski bukan termasuk diagnosis resmi dalam dunia psikologi, duck syndrome tetaplah menjadi masalah yang harus diatasi. Bila terus-terusan dibiarkan, perilaku ini bisa berakibat pada kebiasaan tak sehat seperti mendorong tubuh untuk terus-terusan bekerja di luar kemampuan.

Selain itu, sindrom ini juga bisa berujung pada gangguan kecemasan dan depresi. Terutama bila mereka mengalami kegagalan, mereka mungkin akan langsung merasa seakan dunia telah berakhir.

Bila Anda sudah mulai merasakan pertanda seperti yang sudah dijelaskan dan mulai terasa mengganggu kehidupan Anda, hal pertama yang bisa Anda lakukan adalah menjalani psikoterapi atau terapi bicara.

Dalam sesi terapi ini, Anda bisa mencurahkan semua yang telah dirasakan dan segala kekhawatiran Anda tentang banyak hal. Nantinya, terapis atau psikolog akan membantu Anda untuk mencarikan solusinya bersama.

Pilihan lainnya adalah terapi interpersonal, di mana Anda akan dibantu oleh terapis untuk membangun kemampuan dalam mengatasi emosi serta hal-hal yang menghubunginya secara efektif.

Perlu diketahui juga, terapi yang akan didapatkan pada setiap orang bisa berbeda-beda. Mengingat duck syndrome bukanlah gangguan resmi, psikolog akan mengatasinya melalui pendekatan yang sesuai dengan kondisi yang menyertainya seperti gangguan kecemasan atau stres kronis.

Duck syndrome rentan menyerang mereka yang sedang berada di tengah perjalanan mengejar kesuksesan. Namun sebelum hal ini terjadi, Anda bisa melakukan pencegahan dengan mengikuti pelatihan untuk manajemen stres. Manfaatkan juga layanan kesehatan mental seperti konseling yang ada di sekitar Anda.

Yang terpenting adalah tanamkan pada diri Anda bahwa hidup tak selalu berjalan sempurna. Jadikan kegagalan sebagai kesempatan untuk membentuk kemampuan yang lebih baik lagi. Niscaya, kesuksesan yang Anda raih bisa menjadi kepuasan untuk Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber