Kenali Perbedaan Demensia dengan Delirium dan Depresi

Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 09/03/2020
Bagikan sekarang

Demensia atau sering disebut sebagai penyakit pikun pada orang usia lanjut, merupakan kondisi yang sulit dideteksi sejak dini. Meski demikian, Anda dapat mengenalinya dari beberapa ciri-ciri tertentu. Demikian juga, penting untuk mengetahui perbedaan demensia dengan kondisi yang sering dianggap memiliki ciri yang mirip, yaitu delirium dan depresi.  Hal ini akan mempermudah Anda menentukan pertolongan yang dapat Anda lakukan.

Mengenali demensia dan ciri-cirinya

Sebelum mengenali lebih jauh perbedaan demensia dengan delirium dan depresi, maka kenali terlebih dahulu tanda dan ciri demensia.

Umumnya pasien demensia tidak menyadari dirinya mengalami demensia, keluarganya juga baru akan menyadari perubahan pada pasien jika pasien sudah tidak dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Secara medis, tanda-tanda awal seseorang mengalami demensia adalah sering melupakan janji yang dibuat, sulit memahami atau mengingat instruksi, serta tidak dapat merawat kebersihan tubuh.

Ada berbagai tipe demensia, yaitu Alzheimer, demensia vaskular (misalnya, karena stroke), demensia frontotemporal, Lewy-body dementia, dan lain-lain. Tipe yang paling sering adalah Alzheimer dan demensia vaskular. Anda perlu mengetahui bahwa demensia bukanlah suatu proses yang normal dari proses penuaan, sehingga harus mendapat penanganan khusus.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang demensia, inilah ciri-cirinya.

  • Bersifat kronis dan biasanya berbahaya, tergantung penyebab.
  • Terjadi perlahan-lahan namun terus-menerus dan berlangsung dalam jangka waktu lama.
  • Kesadaran dan kewaspadaan normal.
  • Dapat memusatkan perhatian dengan baik.
  • Sulit mengingat hal-hal yang terjadi sekarang dan masa lalu.
  • Kemampuan berpikir terganggu, sulit menilai sesuatu, dan susah menemukan kata-kata saat berbicara.
  • Tidak mengalami ilusi, halusinasi, dan delusi serta dapat membedakan kenyataan dan khayalan.
  • Pola tidur biasanya normal.

Apakah perbedaan delirium dan depresi dengan demensia?

Jika demensia dapat dikenali dari tanda dan ciri-ciri di atas, maka ketahui perbedaan demensia dengan delirium dan depresi dari penjelasan berikut.

Delirium

Delirium dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai kebingungan akut. Menurut data, 10-30% lansia yang dirawat di rumah sakit mengalami masalah ini. Jika Anda mengamati seseorang mengalami kebingungan, apatis, dan tidak bersemangat, Anda patut mencurigai bahwa orang tersebut mengalami delirium.

Ciri khas delirium adalah adanya suatu penyakit yang mendasarinya. Pada lansia, penyebab paling sering adalah infeksi saluran kemih. Selain itu, penyakit lain juga dapat mendasari, seperti gangguan kelenjar tiroid, jantung koroner, stroke, gangguan elektrolit, dan penyakit ginjal.

Mengonsumsi obat tertentu, seperti difenhidramin, benzodiazepine, dan obat penghilang rasa sakit golongan narkotika, juga berkontribusi sebagai penyebab delirium.

Untuk lebih jelasnya, mari simak perbedaan demensia dengan delirium melalui ciri-ciri delirium berikut ini.

  • Bersifat akut atau subakut, tergantung penyebab.
  • Terjadi mendadak dan berlangsung dalam waktu singkat, bisa selama beberapa jam hingga kurang dari satu bulan.
  • Kesadaran menurun dan kewaspadaan berubah-ubah.
  • Sulit memusatkan perhatian.
  • Sulit mengingat hal-hal yang terjadi sekarang.
  • Kemampuan berpikir terganggu dan pikiran tidak terstruktur.
  • Dapat mengalami ilusi, halusinasi, dan delusi serta sulit membedakan kenyataan dan khayalan.
  • Pola tidur terganggu.

Depresi

Depresi merupakan suatu gangguan mood yang memengaruhi kebiasaan dan perasaan orang yang mengalaminya. Penderitanya akan sulit melakukan aktivitas sehari-hari secara normal karena kehilangan rasa tertarik terhadap banyak hal dan selalu merasa sedih.

Pada depresi berat, penderita kehilangan motivasi dan merasa bahwa hidupnya tidak berarti. Penderita biasanya menarik diri dari pergaulan, berat badannya menurun atau meningkat, merasa cemas, dan sulit tidur.

Berikut ini adalah ciri-ciri depresi.

  • Mulai secara mendadak dan biasanya disebabkan oleh perubahan yang tidak diinginkan dalam hidup sehingga mengganggu kejiawaan penderita.
  • Dapat terjadi secara cepat maupun perlahan dan berlangsung minimal dua minggu hingga beberapa bulan dan tahun.
  • Kesadaran dan kewaspadaan normal.
  • Sulit memusatkan perhatian.
  • Sulit mengingat kejadian yang menyebabkan depresi.
  • Dapat berpikir dengan baik namun tidak memiliki semangat dan harapan.
  • Biasanya tidak mengalami ilusi, halusinasi, dan delusi, tetapi dapat muncul pada keadaan depresi berat.
  • Pola tidur terganggu.

Apa yang bisa dilakukan jika ada yang mengalami hal-hal di atas?

Setelah mengenali perbedaan ciri-ciri demensia dengan delirium dan depresi, maka tak kalah penting mengetahui hal-hal yang dapat Anda lakukan jika mengetahui ada yang mengalami kondisi tersebut.

Untuk demensia, pada awalnya penderita tetap dapat menjalani hidupnya seperti biasa, termasuk melakukan kegiatan sehari-hari. Jika gejala makin parah, Anda dapat berperan sebagai ‘caregiver’, yaitu membantu penderita melakukan aktivitas sehari-hari,  menempelkan label nama di benda-benda sekitar penderita  agar penderita berlatih mengingat nama benda-benda tersebut, memberi tanda pada pintu dan jendela, dan sebagainya.

Jangan lupa, berkonsultasilah dengan dokter untuk mendapatkan nasihat lebih detil tentang bagaimana merawat penderita di rumah. Dokter juga dapat menentukan obat-obatan apa yang diperlukan oleh pasien.

Apabila keluarga atau teman Anda mengalami ciri-ciri delirium, segera hubungi dokter agar dapat dilakukan pemeriksaan sehingga penyakit yang menyebabkan delirium dapat ditentukan dan ditangani segera.

Lalu, bagaimana jika Anda menduga keluarga atau teman Anda mengalami depresi? Jika keluarga atau teman Anda terlihat seperti kehilangan energi, tidak ada keinginan melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan, dan ekspresinya tampak seperti orang depresi, Anda dapat membawa orang tersebut ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Selain obat-obatan, akan diberikan petunjuk bagaimana cara penderita  menghadapi masalah yang memicu depresinya dan apa yang bisa dilakukan orang-orang sekitarnya untuk mendukung penderita keluar dari keadaan depresi.

Mengetahui perbedaan demensia dengan delirium dan depresi merupakan hal penting. Semakin cepat Anda menyadari perubahan yang terjadi pada keluarga atau teman Anda, maka penderita dapat segera ditangani dan terhindar dari berbagai hal yang mengancam hidupnya.  

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

6 Tips Manjur Agar Pengidap Demensia Selalu Ingat Jadwal Minum Obat

Rutin minum obat merupakan salah satu kunci penting dalam pengobatan demensia. Demi memudahkan Anda, jajal beberapa cara ini supaya tidak lupa minum obat!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Tahap Penyakit Alzheimer, dari Stadium Awal Hingga Lanjut

Alzheimer adalah penyakit yang akan bertambah semakin parah seiring berjalannya waktu. Maka itu, ayo kenali apa saja tahap penyakit Alzheimer dan tandanya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti

Tak Cuma Pikun, Ini 10 Tanda Penyakit Alzheimer yang Perlu Anda Cermati

Penyakit Alzheimer membuat seseorang jadi mudah lupa. Namun, selain itu masih banyak ciri-ciri Alzheimer yang juga harus diwaspadai. Cari tahu di sini, ya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Yurika Elizabeth Susanti

Pentingnya Asupan Vitamin B-12 Bagi Kesehatan Lansia

Di antara semua jenis vitamin yang ada, lansia perlu lebih memerhatikan kebutuhan vitamin B12 hariannya. Memang apa manfaat vitamin B12 untuk lansia?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Ivena
Nutrisi, Hidup Sehat 07/11/2018

Direkomendasikan untuk Anda

main game mendeteksi demensia

Faktanya, Main Game di Ponsel Bisa Bantu Mendeteksi Demensia Lho!

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 25/11/2019
latihan otak mencegah pikun

Yuk, Lakukan 9 Latihan Otak Ini Agar Tidak Cepat Pikun!

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 09/10/2019
detak jantung tidak teratur

Waspada, Detak Jantung Tidak Teratur Dapat Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2019
menolak minum obat

5 Solusi Saat Orang dengan Demensia Menolak Minum Obat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Dipublikasikan tanggal: 20/01/2019