Jenis Ikan yang Boleh Dikonsumsi untuk Penderita Asam Urat

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 28/02/2020
Bagikan sekarang

Anda mungkin tak asing dengan anjuran untuk tidak memakan seafood jika Anda memiliki asam urat. Banyak jenis ikan dinilai memiliki kandungan purin tinggi yang dikhawatirkan akan meningkatkan kadar zat asam urat dalam tubuh. Padahal, ada beberapa jenis ikan yang aman dikonsumsi untuk para penderita asam urat. Apa saja jenis ikan tersebut?

Jenis ikan yang aman dikonsumsi untuk penderita asam urat

Ikan merupakan bahan makanan yang mengandung banyak nutrisi. Paling dikenal dengan kandungan lemak omega-3 dan omega-6 yang bermanfaat untuk kesehatan jantung dan otak, ikan dapat menjadi sumber protein yang baik bagi Anda yang sedang ingin mengurangi konsumsi daging.

Sayangnya, beberapa jenis ikan seperti ikan teri, sarden, dan ikan haring juga memiliki kandungan purin yang tinggi. Tingginya kandungan purin tersebut akan meningkatkan kadar asam urat dalam tubuh yang jika dikonsumsi berlebihan dampaknya dapat memperburuk gejala berupa nyeri sendi.

Bagi Anda yang senang makan ikan dan tidak ingin melewatkan berbagai kandungan baiknya untuk tubuh, berikut adalah beberapa jenis ikan dengan kandungan purin lebih rendah yang boleh dikonsumsi untuk penderita asam urat.

1. Ikan Salmon aman dikonsumsi untuk penderita asam urat

manfaat salmon untuk kulit

Selain berguna untuk menjaga kesehatan jantung, otak, paru-paru, dan sirkulasi darah, kandungan omega 3 dalam salmon ternyata juga dapat menurunkan risiko terkena serangan gout yang biasa dialami oleh para penderita asam urat.

Menurut sebuah studi yang dipublikasikan pada jurnal Arthritis & Rheumatology, pasien asam urat yang mengonsumsi ikan berlemak seperti salmon dua hari sebelum pemeriksaan memiliki risiko serangan gout lebih rendah sebanyak 33 persen. Bahkan dikatakan juga bahwa efeknya lebih baik daripada mengonsumsi suplemen omega 3.

2. Ikan lele

manfaat ikan lele
Sumber: Kompasiana

Ikan yang harganya terjangkau dan banyak ditemukan di Indonesia ini dapat menjadi pilihan yang aman untuk pasien asam urat. Kandungan purin dalam ikan lele lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya.

Ikan lele juga merupakan sumber vitamin D yang baik. Vitamin D akan membantu menjaga kesehatan tulang dengan membantu tubuh dalam menyerap kalsium. Selain itu, vitamin D juga membantu pertumbuhan sel dalam tubuh dan menjaga sistem imunitas agar bisa bekerja dengan lancar.

3. Kakap merah

kakap merah

Kakap merah termasuk dalam salah satu ikan yang boleh dikonsumsi untuk pasien asam urat. Seperti yang diketahui, kekurangan konsumsi vitamin D dapat memicu serangan artritis yang masih berkaitan dengan asam urat. Konsumsi kakap merah dapat menjadi sumber vitamin D yang baik selain ikan lele.

Kandungan lemak dalam kakap merah juga lebih sedikit dibandingkan dengan ikan lainnya. Bagi Anda yang ingin memenuhi kebutuhan protein tanpa mengonsumsi banyak lemak, ikan kakap merah bisa mejadi pilihan.

4. Ikan nila

ikan tilapia
Sumber: Nutrition Tribune

Ikan yang juga banyak dibudidayakan di Indonesia ini memiliki kandungan purin yang rendah sehingga aman untuk dikonsumsi oleh pasien asam urat. Serupa dengan ikan kakap merah, ikan nila hanya memiliki kandungan lemak sebesar tiga gram dalam penyajian 100 gram.

Ikan nila juga memberikan manfaat lain untuk tubuh. Ikan nila tinggi akan kandungan zat selenium yang berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas, membantu mengurangi risiko penyakit yang berkaitan dengan hilangnya memori seperti alzheimer, dan membantu menjaga kesehatan kelenjar getah bening.

Penting untuk diingat, jenis ikan di atas boleh dikonsumsi bagi Anda yang memiliki asam urat, tapi Anda tetap harus membatasi porsinya. Ikan-ikan seperti kakap merah lebih baik dikonsumsi setiap 3-6 kali dalam sebulan. Selain itu, mengolah dengan cara memanggang atau merebus ikan juga lebih disarankan.

Pasien dengan asam urat tentunya juga memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda. Agar bisa menyesuaikan dengan keadaan Anda, konsultasikan lagi kepada dokter jenis ikan mana yang lebih aman dikonsumsi.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Intip 5 Tips Membuat Sushi yang Sehat dan Lezat

Sushi memang lezat dan menyehatkan bila disajikan dengan cara yang benar. Lantas, bagaimana tips membuat sushi yang sehat dan lezat? Berikut tipsnya.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

Bolehkah Ibu Menyusui Makan Sushi? Simak Penuturan Ahli Berikut Ini

Makanan mentah, seperti sushi menjadi pantangan untuk ibu hamil. Lantas, apakah ibu menyusui juga tidak boleh makan sushi? Yuk, cari tahu di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Parenting, Menyusui 26/09/2019

Jamkho

Jamkho adalah obat herbal yang bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol Anda. Cari tahu informasi lengkap mengenai obat ini di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Alergi Telur Ayam, Bolehkah Makan Telur Puyuh dan Telur Bebek?

Katanya, kalau punya alergi telur ayam masih boleh makan telur puyuh dan telur bebek. Tapi, benarkah anggapan ini? Cari tahu kebenarannya di sini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari

Direkomendasikan untuk Anda

gejala asam urat tidak umum

6 Gejala Asam Urat yang Tidak Umum dan Sering Diabaikan

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 23/04/2020
tes kadar asam urat normal tinggi

Berapa Kadar Asam Urat yang Normal? Bagaimana Cara Tahunya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 23/02/2020
pantangan asam urat

5 Pantangan yang Harus Dipatuhi Pengidap Asam Urat

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 22/02/2020
anak makan sushi

Kapan Si Kecil Boleh Makan Sushi?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 21/10/2019