Berbagai Gaya Renang yang Aman untuk Penderita Spondylolithesis

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 26/03/2020
Bagikan sekarang

Spondylolisthesis merupakan kondisi ketika salah satu ruas tulang belakang bergeser dari posisi normal. Kondisi ini bisa menyebabkan nyeri punggung bagian bawah. Salah satu cara mengurangi gejala ini adalah dengan melakukan latihan aerobik, seperti berenang. Lantas, gaya renang apa yang cocok untuk penderita spondylolisthesis?

Berbagai gaya renang untuk spondylolisthesis

Meski penderita spondylolisthesis merasakan nyeri di punggung bawah, mereka tetap disarankan untuk melakukan olahraga.

Apabila, nyeri yang dirasakan tidak berat, Anda disarankan untuk melakukan olahraga, seperti berenang. Olahraga ini dapat meningkatkan fleksibilitas, daya tahan, dan kekuatan. 

Berenang juga dapat memperkuat otot punggung dan menstabilkan tulang belakang. Akan tetapi, tentu terdapat beberapa gaya renang tertentu yang dianjurkan untuk para penderita spondylolisthesis agar nyeri pada punggung yang dirasakan tidak semakin parah. 

1. Gaya punggung

Salah satu gaya renang untuk penderita spondylolisthesis adalah gaya punggung.

Hal ini dikarenakan ketika Anda melakukan gaya punggung, terdapat tarikan yang menyelaraskan bahu Anda dan membuat punggung bagian atas menjadi lebih kuat. 

Gaya punggung juga melibatkan otot latissimus dorsi, otot yang berada pada punggung bagian tengah dan membuat punggung pada bagian samping ikut bekerja, sehingga otot punggung semakin kuat.

Gaya ini juga tidak membutuhkan teknik pengambilan napas yang membuat punggung melengkung dan memperparah rasa nyeri Anda.

2. Gaya bebas

infeksi telinga perenang

Selain renang gaya punggung, penderita spondylolisthesis juga dapat menjadikan gaya bebas sebagai alternatif untuk melakukan olahraga yang satu ini. 

Akan tetapi, Anda juga perlu memperhatikan beberapa hal ketika melakukan gaya bebas jika menderita spondylisthesis, seperti:

  • Tidak memutar kepala terlalu sering saat mengambil napas.
  • Hindari terlalu menyimpang dari poros tubuh karena berisiko cedera leher dan punggung.
  • Menjaga kepala dan tetap melihat ke bawah saat tidak sedang dalam posisi mengambil napas

3. Berjalan di dalam air

lansia berenang

Teknik berenang yang salah bisa jadi membuat Anda justru cedera. Untuk itu, jika Anda tidak begitu andal untuk berenang, Anda mungkin bisa berjalan kaki di dalam kolam.

Meski bukan gaya renang, jalan kaki di kolam ternyata bisa dikategorikan sebagai gerakan aerobik yang efektif untuk orang dengan spondylolisthesis.

Metode yang satu ini juga tidak tidak terlalu berisiko terhadap kram kaki. Tidak hanya itu, berjalan di dalam kolam juga terbukti mengurangi nyeri punggung bagian bawah.

Hal ini karena saat berjalan di dalam kolam, Anda harus mengencangkan perut supaya punggung tetap lurus.

Anda dapat melakukan gerakan ini pada kolam yang memiliki kedalaman setara dengan dada Anda agar tidak menimbulkan risiko tenggelam.   

Tips berenang untuk penderita spondylolisthesis

Selain gaya renang, ada beberapa tips lain yang bisa Anda lakukan untuk meringankan gejala spondylolisthesis ketika berenang, yaitu: 

  • Menggunakan alat snorkeling atau alat bantu pernapasan lainnya. Hal ini dapat membantu mengurangi gerakan punggung yang melengkung ketika mengambil napas ke permukaan air. 
  • Berenang bersama pelatih atau teman yang mahir agar mereka dapat mengawasi gerakan yang Anda lakukan, seperti bahu yang sejajar dengan pinggul saat berenang. 
  • Menggunakan papan pelampung untuk menjaga keseimbangan dan tetap mengapung saat berenang. 

Sebenarnya, meski gaya renang tertentu dapat dilakukan untuk orang spondylolisthesis tetap terdapat risiko. Semuanya bergantung dengan kemahiran dan seberapa sering Anda berlatih.

Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum rutin melakukan olahraga renang untuk mengetahui olahraga serta gaya renang yang tepat untuk penderita spondylolisthesis.

Image by Keith Johnston from Pixabay

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

5 Olahraga yang Sebaiknya Dihindari Penderita Spondilolistesis

Ada sejumlah olahraga yang perlu dihindari oleh penderita spondilolistesis. Pasalnya, olahraga ini bisa memperparah kondisi tulang belakang.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

5 Olahraga Aman untuk Penderita Spondilolistesis Alias Tulang Belakang Bergeser

Tulang belakang bergeser akibat spondilolistesis bukanlah alasan untuk jauh dari olahraga. Ini 5 jenis olahraga yang aman bagi Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

Agar Gejala Spondilolistesis Tak Terus Kambuh, 4 Perawatan Ini Perlu Dilakukan

Gejala spondilolistesis yang muncul bisa mengganggu aktivitas. Supaya tidak kambuh, pasien bisa menerapkan perawatan spondilolistesis berikut ini.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

5 Gerakan Olahraga untuk Pemulihan Lordosis

Lordosis dapat menimbulkan nyeri dan mengubah postur. Untungnya, ada gerakan olahraga yang bisa dilakukan penderita lordosis untuk mencegah dampak tersebut.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu

Direkomendasikan untuk Anda

gaya renang aman untuk lansai

3 Gaya Renang yang Aman untuk Lansia yang Ingin Tetap Bugar

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 19/04/2020
mengatasi nyeri spondilolistesis

5 Cara Mengatasi Nyeri Akibat Spondilolistesis Secara Alami Hingga Medis

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 18/01/2020
pose yoga dihindari spondilolistesis

Penderita Spondilolistesis Tak Boleh Sembarang Yoga, Ini 5 Pose yang Perlu Dihindari

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 14/11/2019
yoga untuk spondilolistesis

5 Gerakan Yoga yang Aman Dilakukan Penderita Spondilolistesis

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 13/11/2019