Spondylosis

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 4 Oktober 2020 . Waktu baca 10 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu spondylosis?

Spondylosis adalah istilah medis yang digunakan untuk menggambarkan proses penuaan (degenerasi) tulang belakang. Tulang belakang Anda yang disebut juga dengan vertebra. Di setiap pasang vertebra terdapat tiga sendi, yakni cakram intervertebralis yang berada di bagian depan tulang belakang.

Dua sendi lainnya adalah sendi facet yang berada di bagian belakang vertebra. Sendi ini terbuat dari tulang rawan yang berfungsi untuk melindungi tulang. Kemudian, ada juga ligamen di sekitar vertebra yang membantu menopang sendi dan tulang.

Seiring bertambahnya usia, tulang, cakram, tulang rawan, dan ligamen akan mengalami penurunan. Taji tulang (pertumbuhan tulang yang tidak normal) bisa terbentuk, cakram akan mengering dan retak, tulang rawan menjadi aus, dan ligamen bisa menebal.

Semua perubahan pada tulang dan bagian di sekitarnya inilah yang Anda kenal sebagai spondylosis. Spondylosis terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya:

  • Penyakit spondylosis lumbalis (lumbar) adalah degenerasi yang menyerang cakram tulang belakang bagian bawah.
  • Penyakit spondylosis cervicalis (cervical) adalah degenerasi yang menyerang cakram tulang belakang di sekitar leher. Cakram mengalami kekurangan air sehingga menyusut dan osteoarthritis akan terbentuk, ditandai dengan adanya taji tulang.
  • Penyakit spondylosis toraks adalah degeneratif yang menyerang sendi pada tulang belakang di sekitar dada, seperti cakram intervertebralis dan sendi facet (sendi zygapophyseal).

Seberapa umumkah penyakit ini?

Spondylosis adalah kelainan tulang belakang yang umum terjadi dan bisa menyerang siapa saja. Akan tetapi, kondisi penurunan pada tulang belakang ini lebih sering menyerang lansia, tepatnya orang yang berusia di atas 60 tahun.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala spondylosis?

Pada tahap awal, kelainan tulang belakang umumnya tidak menimbulkan gejala. Gejala biasanya muncul ketika kondisinya bertambah buruk. Setiap jenis spondylosis sangat mungkin menunjukkan gejala yang berbeda-beda.

Lebih jelasnya, berbagai tanda dan gejala yang umumnya terjadi pada orang yang terkena spondylosis adalah:

  • Pada orang dengan spondylosis cervical, gejala yang ditimbulkan adalah nyeri dan kaku pada leher. Di samping itu, gejala lain yang meliputi masalah pada usus dan kandung kemih.
  • Orang yang terkena spondylosis toraks, rasa nyeri dan kaku biasanya terasa di area punggung tengah karena yang bermasalah adalah tulang belakang sekitar dada.
  • Penderita spondylosis lumbalis biasanya mengalami nyeri dan kaku di sekitar punggung bawah.

Penurunan kondisi tulang ini dapat menyebabkan stenosis tulang belakang, yaitu kondisi penyempitan saluran pada tulang belakang. Akibatnya, sumsum tulang belakang dan atau akar saraf tulang belakang bisa tertekan.

Dilansir dari The Spine Hospital, jika kondisi ini terjadi, biasanya orang dengan spondylosis juga akan mengalami gejala seperti:

  • Kesemutan dan mati rasa pada lengan tangan, tungkai, dan area lain pada kaki.
  • Otot di sekitar lengan, bahu, tungkai pada kaki dan tangan akan melemah membuat Anda kesulitan untuk beraktivitas normal.
  • Mengalami kesulitan koordinasi tubuh, seperti susah menyesuaikan gerak tangan dan mata atau susah berjalan.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan di atas dan tidak kunjung sembuh setelah diobati dengan perawatan rumahan, segera ke dokter. Lebih cepat ditangani, tentu kondisinya akan lebih baik.

Penyebab

Apa penyebab spondylosis?

Penyebab utama dari spondylosis adalah aus dan memipihnya tulang, mengeringnya cakram, dan menebalnya ligamen di sekitar tulang belakang.

Perlu diketahui bahwa tulang belakang memberi struktur dan menopang tubuh. Selain itu, tulang ini juga melindungi hampir semua cabang saraf utama yang berjalan dari otak.

Tulang belakang membantu memberi struktur tubuh dan menopang sebagian besar beratnya. Ia juga membawa dan melindungi hampir semua cabang saraf utama yang berjalan dari otak.

Seiring bertambahnya usia, beratnya aktivitas tertentu, atau masalah kesehatan tertentu bisa menyebabkan cakram menjadi kering, tipis dan kehilangan kemampuannya. Sendi facet antar tulang belakang juga bisa akan mengalami aus sehingga menyebabkan fungsinya jadi kurang optimal.

Tulang rawan juga menjadi terkikis sehingga mengakibatkan pertumbuhan taji tulang. Semua hal ini akhirnya bisa menyebabkan spondylosis.

Faktor-faktor risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk penyakit ini?

Setiap orang memiliki risiko terhadap kelainan tulang yang berbeda-beda. Berikut ini adalah berbagai faktor yang bisa meningkatkan risiko spondylosis:

  • Memiliki berat badan berlebihan atau obesitas.
  • Memiliki gaya hidup yang malas bergerak dan kurang suka olahraga.
  • Mewarisi genetik tertentu yang membuat risiko kelainan tulang menjadi lebih besar.
  • Mengalami cedera tulang belakang atau menjalani operasi tulang belakang.
  • Punya kebiasaan merokok.
  • Memiliki pekerjaan yang membutuhkan gerakan berulang atau menahan beban yang melibatkan tulang belakang.
  • Menderita radang sendi psoriatis atau masalah pada kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan dan depresi.
  • Usia bertambah tua.

Komplikasi

Apa saja komplikasi dari penyakit spondylosis?

Kelainan tulang belakang ini dapat menyebabkan komplikasi. Berikut ini komplikasi spondylosis yang mungkin terjadi adalah:

  • Stenosis tulang belakang. Kondisi penyempitan saluran saraf pada tulang belakang yang menyebabkan gejala mati rasa, kesemutan, atau kelemahan pada kaki.
  • Radikulopati serviks. Perubahan pada cakram atau tulang di punggung yang menyebabkan saraf terjepit, sehingga menimbulkan nyeri, mati rasa, dan hipersensitivitas pada punggung.
  • Mielopati spondilotik serviks. Sumsum tulang belakang yang terkompresi atau terjepit sehingga menimbulkan nyeri dan mati rasa pada tungkai kaki.
  • Skoliosis. Ada hubungan antara kelainan tulang belakang ini dengan skoliosis, yaitu melengkungnya tulang belakang ke arah samping sehingga tulang belakang membentuk huruf S atau C.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana spondylosis didiagnosis?

Selain pemeriksaan fisik, dokter dapat melakukan tes tertentu untuk membantu diagnosis spondylosis. Tes ini meliputi X-ray dan MRI atau tes darah untuk mengeliminasi penyakit lainnya.

  • X-ray – cara terbaik untuk mengonfirmasi diagnosis pada spondylosis – untuk melihat kerusakan pada tulang, taji tulang dan terkikisnya tulang rawan atau piringan. Namun, X-ray tidak dapat menunjukkan kerusakan awal pada tulang rawan.
  • Tes darah untuk mengeliminasi penyakit lain.
  • Magnetic resonance imaging (MRI) untuk menunjukkan kemungkinan kerusakan pada piringan atau penyempitan area dimana saraf tulang belakang berakhir.
  • Elektromiografi untuk mengukur aktivitas listrik di saraf, ketika mengirimkan pesan ke otot untuk berkontraksi atau beristirahat.
  • Nerve conduction study yaitu pemasangan elektroda ke kulit di atas saraf. Guncangan kecil akan dikirimkan dan melewati saraf tersebut. Kemudian, dokter akan mengukur kekuatan dan kecepatan sinyal saraf.

Apa saja pengobatan untuk spondylosis?

Setelah tes kesehatan dan diagnosis ditegakkan, dokter akan menentukan pengobatan spondylosis yang tepat untuk Anda.

Berikut pengobatan spondylosis lumbar, toraks, maupun cervicalis adalah:

Minum obat yang diresepkan dokter

Rasa nyeri yang menjadi gejala umum dari kelainan tulang belakang ini, biasanya bisa diredakan dengan minum obat-obatan berikut ini:

  • Obat NSAID. Obat ini dapat meringankan rasa nyeri dan peradangan pada tulang belakang. Contoh obat yang sering diresepkan adalah ibuprofen.
  • Kortikosteroid. Obat ini juga bisa meredakan rasa sakit pada punggung yang lebih parah dan tidak efektif diobati dengan obat NSAID. Contoh obatnya adalah prednison yang biasanya diberikan dalam bentuk pil jangka pendek atau disuntik jika lebih parah.
  • Obat relaksan otot. Obat ini dapat membantu meredakan kejang pada otot leher atau otot sekitar punggung bawah. Contoh obat yang biasanya digunakan adalah cyclobenzaprine.
  • Obat anti kejang. Obat ini dapat mengurangi rasa nyeri pada saraf yang rusak. Obat golongan ini yang biasanya diresepkan adalah gabapentin (Neurontin, Horizant) dan pregabalin (Lyrica).
  • Antidepresan. Obat antidepresan tertentu dapat membantu meringankan rasa nyeri pada leher atau punggung bawah.

Beberapa obat-obatan di atas bisa Anda dapatkan baik tanpa atau dengan resep dari dokter. Jika obat yang sedang Anda gunakan tidak cukup ampuh, konsultasikan lebih lanjut dengan dokter untuk mempertimbangkan peningkatan dosis atau penggantian jenis obat.

Mengikuti terapi

Selain minum obat, pengobatan spondylosis lumbalis, cervicalis, atau toraks bisa juga dilakukan dengan cara mengikuti terapi. Tujuannya adalah untuk membantu meregangkan dan memperkuat otot di sekitar leher, bahu, dan tulang belakang.

Contoh peregangan yang aman dilakukan pasien spondylosis di bawah pengawasan terapis adalah:

  • Lumbar Spine Rotations. Posisikan tubuh berbaring telentang dengan kedua lutut ditekuk dan telapak kaki menyentuh tanah. Lalu, letakkan kedua tangan di samping tubuh. Dorong kedua lutut ke samping kiri dan kanan dengan posisi tubuh bagian atas tetap lurus. Lakukan gerakan ini secara berulang.
  • Knee to Chest. Posisikan tubuh Anda tidur telentang dan perlahan angkat satu kaki ke dada dengan lutut ditekuk. Tahan posisi ini selama 30 detik , kemudian, letakan kembali kaki menyentuh lantai dan lurus ke depan. Ulangi latihan ini dengan lutut kaki yang lain.

Menjalani operasi

Jika pengobatan di atas tidak menunjukkan hasil yang efektif dalam mengobati spondylosis, dokter mungkin akan merekomendasikan operasi pembedahan. Terutama jika sudah terjadi adanya tekanan besar pada sumsum tulang belakang atau akar saraf tulang belakang.

Jenis operasi yang biasanya dilakukan sebagai pengobatan spondylosis adalah:

  • Disektomi untuk mengangkat cakram yang mengalami hernia, yakni cakram tulang rawan dari tulang belakang yang menonjol keluar dan menjepit saraf.
  • Laminektomi untuk mengangkat taji tulang atau mengangkat bagian tulang belakang yang disebut lamina.
  • Laminoplasti untuk membuka ruang jaringan saraf dengan mengubah posisi lamina.
  • Fusi tulang belakang menyatukan segmen tulang belakang menggunakan tulang yang ditransplantasikan dengan atau tanpa instrumen, seperti batang dan sekrup.

Pengobatan di rumah

Apa saja perubahan-perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi spondylosis?

Selain pengobatan dokter, ada beberapa pengobatan rumahan yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengurangi gejala spondylosis, yakni:

  • Lakukan latihan fisik yang direkomendasikan dokter dengan rutin.
  • Tempelkan kompres air panas atau es di sekitar punggung yang terasa nyeri. Hindari menempelkan kompres lebih dari 15 menit untuk mencegah masalah pada kulit.
  • Sesuaikan aktivitas harian dengan kondisi tubuh. Hindari pekerjaan yang membuat Anda harus mengangkat benda berat di punggung.

Pencegahan

Bagaimana cara mencegah penyakit spondylosis?

Tidak cara yang dapat sepenuhnya mencegah spondylosis karena umumnya kerusakan ini normal berkaitan dengan penuaan yang menyebabkan keausan pada sendi dan tulang belakang.

Namun, bila Anda memiliki pekerjaan yang mengharuskan melihat ke atas, ke bawah, atau posisi tubuh membuat postur tidak biasa, cobalah untuk beristirahat lebih sering. Lakukan gerakan peregangan dan penguatan yang dapat menjaga tulang belakang tetap sehat.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Kifosis

    Kifosis adalah kelainan tulang belakang. Lantas, seperti apa gejala, penyebab, dan cara mengatasinya? Cari tahu jawabannya di sini.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Hidup Sehat, Tips Sehat 1 Juni 2019 . Waktu baca 9 menit

    Sakit Tulang Belakang

    Sakit tulang belakang adalah keluhan umum. Cari tahu informasi tentang penyebab, gejala, pengobatan, serta cara mencegah kondisi ini di Hello Sehat.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Atifa Adlina
    Penyakit A-Z, Kesehatan A-Z 7 April 2019 . Waktu baca 10 menit

    Penyebab Nyeri Tulang Ekor (Coccydynia) yang Perlu Anda Ketahui

    Selain sakit di tulang pinggang, tulang ekor juga bisa terasa nyeri. Ada banyak penyebab dari tulang ekor sakit yang bisa terjadi. Apa saja?

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
    Hidup Sehat, Tips Sehat 4 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

    4 Gerakan Sederhana yang Manjur Atasi Nyeri Tulang Ekor

    Nyeri tulang ekor bisa sangat mengganggu aktivitas. Jangan cemas, ada gerakan sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi nyeri di tulang ekor.

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji
    Kebugaran, Hidup Sehat 28 September 2018 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    spina bifida

    Spina Bifida

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Shylma Na'imah
    Dipublikasikan tanggal: 25 September 2020 . Waktu baca 13 menit
    kelainan tulang belakang

    Kelainan Tulang Belakang

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 27 Agustus 2020 . Waktu baca 10 menit
    gaya renang untuk spondylolisthesis

    Berbagai Gaya Renang yang Aman untuk Penderita Spondylolithesis

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Nabila Azmi
    Dipublikasikan tanggal: 12 September 2019 . Waktu baca 4 menit
    olahraga untuk penderita lordosis

    5 Gerakan Olahraga untuk Pemulihan Lordosis

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 26 Agustus 2019 . Waktu baca 4 menit