Masih Muda Sudah Sering Lupa? Waspada, Mungkin Gangguan Kognitif Ringan

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 Oktober 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Menjadi pelupa merupakan suatu hal yang wajar dalam pertambahan usia. Namun sebagian orang lebih mudah lupa daripada orang lain, meskipun usianya masih tergolong muda. Kondisi ini kemungkinan pertanda dari gangguan kognitif ringan atau yang lebih dikenal dengan mild cognitive impairment (MCI).

Apa itu gangguan kognitif ringan?

Gangguan kognitif ringan adalah penurunan fungsi kognitif yang ditemukan pada seseorang, yang kondisinya lebih serius untuk individu seusianya. Kondisi ini berkaitan dengan sel saraf otak sebagai organ yang berperan dalam mengingat dan berpikir, ataupun riwayat pengobatan yang mempengaruhi aliran darah menuju otak.

Apa gejala dan ciri gangguan kognitif ringan?

Karena masih tergolong ringan, gangguan kognitif ini tidak terlalu berpengaruh terhadap aktivitas atau kehidupan penderitanya. Gejala gangguan kognitif ringan yang paling sering muncul di antaranya sering melupakan benda pribadi, melupakan janji atau jadwal yang bukan rutinitas, serta kesulitan mengingat nama seseorang. Beberapa hal tersebut termasuk gejala dari gangguan kognitif ringan amnestik.

Selain itu gangguan kognitif juga dapat bersifat nonamnestik yang mempengaruhi kemampuan berpikir. Sehingga seseorang yang mengalaminya sering mengalami kesulitan untuk mengatur hal, membuat perencanaan, atau memberikan penilaian. Baik gangguan ingatan ataupun gangguan berpikir dapat terjadi secara bersamaan pada orang yang sama.

Karena memiliki gejala yang tidak spesifik seperti mudah lupa, maka penegakan diagnosis dari gangguan kognitif ringan cukup kompleks. Pemeriksaan untuk memastikan gangguan ini meliputi riwayat pengobatan, riwayat dementia pada keluarga, status kesehatan mental, serta memeriksakan kondisi kejiwaan untuk menghilangkan dugaan gangguan kesehatan mental dengan gejala serupa sepeti skizofrenia, depresi, atau gangguan bipolar.

Apa penyebab gangguan kognitif ringan?

Penyebab gangguan kognitif ringan diduga karena adanya kerusakan pada bagian otak yang serupa pada penderita dementia. Akibatnya terjadi beberapa perubahan pada:

  • penumpukan plak beta-amyloid pada otak
  • kekurangan aliran darah ke otak
  • beberapa kerusakan kecil akibat stroke
  • mengecilnya bagian otak tertentu
  • pembengkakan pembuluh darah otak akibat cairan
  • kurangnya kadar glukosa pada bagian otak yang bertugas untuk berpikir

Apakah penderita gangguan kognitif ringan akan mengidap demensia atau Alzheimer?

Gangguan kognitif ringan tidak termasuk dari gejala demensia karena dampaknya yang tidak cukup serius dan penderita masih bisa beraktivitas sendiri. Meskipun demikian, gangguan ini dianggap sebagai gejala awal dari demensia dan dapat berkembang menjadi Alzheimer yang merupakan salah satu gejala dari dementia.

Namun, hanya 10-15% penderita gangguan kognitif ringan yang berakhir dengan dementia. Dalam beberapa kasus, kerusakan pada otak juga dapat diperbaiki dengan perubahan gaya hidup. Selain itu, gejala gangguan kognitif ringan seperti mudah lupa dan mengalami kesulitan berpikir dapat dipicu oleh faktor stress.

Faktor paling penting dari perkembangan gangguan kognitif ringan menjadi demensia adalah usia. Ditambah lagi jika terdapat faktor riwayat penyakit kardiovaskuler, obesitas, dan diabetes yang meningkatkan risiko dementia. Kerusakan akibat peningkatan kadar protein amyloid pada sirkulisasi cairan otak juga merupakan faktor penting, namun akan sulit untuk dikenali dan memberikan jawaban pasti apakah gangguan kognitif ringan tersebut dapat berkembang menjadi dementia.

Cara mencegah dan mengatasi gangguan kognitif ringan

Perubahan gaya hidup merupakan upaya yang dapat mencegah sekaligus menghambat perkembangan dari gangguan kognitif ringan. Hal ini dikarenakan kerusakan otak dapat dimulai saat seseorang mengalami obesitas, atau saat terjadi gangguan pada jantung pada pembuluh darah yang menghambat suplai darah dengan oksigen otak. Upaya menjaga kesehatan fisik dalam pencegahan penurunan kognitif dapat dilakukan dengan cara:

  • Rutin beraktivitas fisik
  • Mengontrol tekanan darah dan kadar gula darah
  • Berhenti merokok
  • Menerapkan pola gizi seimbang, terutama dengan mengonsumsi sumber protein, sayur dan buah

Selain menjaga kesehatan fisik, penderita gangguan kognitif ringan juga disarankan mengikuti kegiatan yang menstimulasi kemampuan kognitif, seperti aktif dalam kegiatan sosial, menyelesaikan puzzle, dan membaca. Namun hingga saat ini, penurunan kemampuan kognitif otak dan dementia tidak dapat ditangani dengan konsumsi obat. Kombinasi dalam menjaga kesehatan mental dan fisik dapat memperbaiki kemampuan kognitif dan mencegahnya untuk berkembang menjadi dementia.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Terapi Urine dengan Minum Air Kencing, Benarkah Efektif?

Terapi urine dengan minum air kencing yang terdengar menjijikkan telah dipercaya sejak berabad-abad lalu. Apakah manfaatnya?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Urologi, Kandung Kemih 23 September 2020 . Waktu baca 8 menit

Gejala Alergi Dingin Ringan Hingga Berat yang Wajib Anda Kenali

Kulit mendadak memerah, hidung meler, dan bersin-bersin di ruangan ber-AC? Ini mungkin pertanda gejala alergi dingin. Simak ciri-ciri alergi dingin lainnya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Alergi, Penyakit Alergi Lainnya 21 September 2020 . Waktu baca 6 menit

Meski “Wangi”, Hobi Menghirup Aroma Spidol Bisa Membahayakan Kesehatan

Aroma menyengat spidol mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian orang. Padahal, kebiasaan mencium spidol menyimpan segudang bahaya untuk tubuh.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Hidup Sehat, Tips Sehat 21 September 2020 . Waktu baca 3 menit

Mengapa Ada Orang yang Nyetrum Ketika Disentuh?

Pernah merasa seperti tersengat listrik saat bersentuhan dengan orang lain? Ini dia penjelasan kenapa orang tertentu nyetrum ketika disentuh.

Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15 September 2020 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kepribadian introvert ekstrovert kesehatan

Apakah Kepribadian Anda Introvert atau Ekstrovert? Ini Pengaruhnya untuk Kesehatan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 30 September 2020 . Waktu baca 4 menit
teh tanpa kafein

3 Jenis Teh yang Tidak Mengandung Kafein

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Waktu Efektif Minum Kopi

Waktu Paling Sehat untuk Minum Kopi Ternyata Bukan Pagi Hari

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
Psoriasis kulit kepala

Psoriasis pada Kulit Kepala

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 28 September 2020 . Waktu baca 7 menit