Benarkah Lari “Nyeker” Lebih Sehat Daripada Pakai Sepatu?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 25 Juni 2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa harus lari tanpa alas kaki alias “nyeker” kalau ada banyak sepatu lari yang dijual di pasaran. Tunggu dulu. Sepatu lari diduga dapat membuat otot-otot kaki menegang akibat dikekang dan dipaksa bekerja lebih keras. Itu sebabnya banyak orang kini beralih untuk membiasakan diri lari bertelanjang kaki, karena katanya juga lebih bermanfaat. Benarkah demikian?

Lari tanpa alas kaki itu sehat, kok!

Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa lari tanpa alas kaki dapat meningkatkan kelincahan gerak kaki karena memperkuat otot, tendon, dan ligamen kaki tanpa dibatasi oleh tekanan dari sepatu. Selain itu, lari nyeker dapat memperkuat otot-otot kecil di telapak kaki, pergelangan kaki, dan pinggul yang bisa membantu Anda memperbaiki postur sekaligus memantapkan keseimbangan tubuh.

Berlari “nyeker” juga dipercaya dapat menghindari Anda dari cedera olahraga, seperti otot betis yang tertarik, keseleo, atau cedera Achilles tendon yang disebabkan oleh ketegangan otot berlebihan.

Manfaat lari tanpa alas kaki tidak berhenti sampai di situ saja, lho! Berlari “nyeker” dapat sekaligus Anda jadikan sebagai sesi pijat kaki gratis karena berjalan di atas permukaan yang tidak rata dapat merangsang titik-titik sensitif di telapak kaki untuk memperlancar aliran darah — mirip seperti terapi akupunktur.

Lari di atas tanah tanpa alas kaki juga membantu Anda merasa lebih terkoneksi dengan alam sekitar, yang membantu mengurangi stres.

Meski begitu, bukan berarti Anda lebih baik berlari bertelanjang kaki, lho! Lari “nyeker” masih menyimpan sejumlah risiko kesehatan yang perlu Anda pertimbangan masak-masak.

Lari nyeker tingkatkan risiko cedera

Tak dapat dipungkiri, kapalan atau cedera tertusuk benda tajam dan puing-puing jalanan menjadi risiko terbesar dari lari “nyeker”. Berlari di atas permukaan tanah yang lembap atau jalanan kotor juga dapat meningkatkan risiko infeksi kulit dari mikroorganisme yang tinggal di sana, seperti kutu air hingga kadas dan kurap.

Pada sebagian besar orang yang belum terbiasa, lari tanpa alas kaki dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman atau pegal-pegal hingga bahkan cedera seperti tendonitis atau kram kaki akibat otot betis yang menegang.

Selain itu, terbiasa lari tanpa alas kaki bisa mengubah struktur asli telapak kaki Anda. Sebuah penelitian terbitan jurnal Nature menyatakan bahwa telapak kaki pelari yang bertelanjang cenderung lebih rata daripada yang lari pakai sepatu lari.

Telapak kaki manusia dibuat alami melengkung. Lengkungan tersebut berfungsi untuk menyeimbangkan tubuh ketika Anda melakukan gerakan. Telapak kaki rata justru dapat menyebabkan Anda rentan mengalami nyeri dan sakit otot setelah berlari. Dalam kasus tertentu, hal ini dapat meningkatkan risiko Anda terkena plantar fascitis.

Jadi, lebih baik pakai sepatu lari?

Selain berfungsi untuk melindungi kaki dari batu atau benda asing yang mungkin menyakiti telapak kaki Anda, sepatu juga menjaga agar lengkungan kaki Anda tidak berubah merata.

Di sisi lain, beberapa ahli beranggapan bahwa memakai sepatu dapat menyebabkan otot-otot kecil kaki melemah sehingga menciptakan postur lari dan gaya gerak kaki yang buruk. Daniel Lieberman, PhD, seorang profesor biologi di Harvad University juga mengatakan pada WebMD bahwa berlari pakai alas bisa saja meningkatkan risiko cedera kaki dan lutut.

Pakai alas atau tidak, yang paling penting adalah untuk selalu memperhatikan keselamatan Anda sendiri saat berlari. Hindari lari di atas permukaan yang tidak rata dan rentan menyembunyikan “ranjau” berbahaya. Melatih postur lari yang baik juga dapat membantu Anda terhindar dari cedera olahraga.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Menjadi Atlet di Mata Atlet Muda Indonesia

Menjadi atlet sejak usia belia sebaiknya berdasarkan keinginan si anak sendiri. Inilah kisah-kisah para atlet muda Indonesia atas pilihannya.  

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kebugaran, Hidup Sehat 9 September 2020 . Waktu baca 7 menit

Olahraga di Luar Rumah Saat Pandemi? Perhatikan Hal-hal Ini

Olahraga yang dilakukan di luar rumah bisa bermanfaat bagi kebugaran dan kesehatan mental. Tapi apakah aman olahraga di luar rumah saat pandemi COVID-19?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Coronavirus, COVID-19 30 Juni 2020 . Waktu baca 4 menit

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Kadar kolesterol tinggi bisa menghantui siapa pun. Pelajari sekarang juga apa itu kolesterol dan semua pertanyaan seputar kolesterol yang sering diajukan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Nutrisi, Hidup Sehat 22 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Berapa Lama Olahraga yang Dianggap Efektif?

Berapa lama olahraga juga menentukan kesuksesan tujuan Anda. Terlalu sebentar tak akan efektif, tapi terlalu lama juga tak baik.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kebugaran, Hidup Sehat 16 Juni 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

kejang otot

Kenali Kejang Otot, Mulai dari Gejala, Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit
kram otot

Kenali Penyebab yang Mungkin Membuat Anda Mengalami Kram Otot

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 19 Oktober 2020 . Waktu baca 6 menit
kebugaran jantung

Cara Mudah Ukur Kebugaran Jantung dan Paru, Tak Perlu Periksa ke Rumah Sakit

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 29 September 2020 . Waktu baca 4 menit
memaksa anak jago olahraga

Bagaimana Cara Mendorong Anak Menjadi Atlet?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rina Nurjanah
Dipublikasikan tanggal: 9 September 2020 . Waktu baca 7 menit