3 Tipe Pria yang Paling Berisiko Mengalami Ereksi Berkepanjangan (Priapismus)

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Hampir kebanyakan pria pasti bergidik begitu membayangkan penisnya tidak bisa “berdiri” alias impotensi. Disfungsi ereksi memang harus diwaspadai, tapi Anda juga tidak boleh senang dulu jika penis justru ereksi terlalu lama selama 4 jam atau lebih — bahkan tanpa adanya rangsangan seksual. Kondisi ini disebut sebagai priapismus. Tidak semua pria dapat mengalami hal ini, maka baca lebih lanjut untuk mengetahui berbagai faktor risikonya.

Sekilas tentang priapismus, masalah ereksi terlalu lama

Ereksi terlalu lama akibat priapismus tidak disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap rangsangan seksual, melainkan akibat adanya gangguan fungsi pembuluh darah dan saraf dalam tubuh.

Normalnya, ereksi terjadi ketika penis dialiri darah segar dari jantung sehingga mengembang dan menegang “berdiri” sebelum akhirnya orgasme dan ejakulasi. Penis kembali lemas setelahnya karena darah kembali mengali balik menuju jantung.

Jika Anda mengalami priapismus, darah akan terus terjebak di batang penis dan perlahan oksigen di dalamnya akan menguap. Darah yang menggumpal tersebut kemudian akan berubah menjadi asam dan kaku, sehingga sulit untuk keluar dari penis.

Selain penis yang kaku karena ereksi terlalu lama tanpa adanya rangsangan seksual, priapismus juga dapat menyebabkan rasa sakit yang terus meningkat. Pada priapismus jenis iskemik, kondisi ini bisa terjadi berulang yang ditandai dengan batas penis yang terasa kaku, tetapi ujung (kepala) penis terasa lembut.

Darah yang kekurangan oksigen di penis dapat merusak jaringan penis. Jika tidak segera diobati kondisi ini bisa mengakibatkan kerusakan jaringan pada penis dan disfungsi ereksi permanen.

Siapa saja yang berisiko mengalami priapismus?

Priapismus termasuk kondisi langka, tetapi biasanya menyerang pria usia 30-an. Ada beberapa tipe pria yang paling berisiko mengalami ereksi terlalu lama akibat priapismus. Mereka adalah:

1. Pria yang mengalami gangguan aliran darah

Priapismus yang terjadi berulang (priapismus iskemik) biasanya lebih sering terjadi pada pria yang memiliki anemia sel sabit. Dalam beberapa kasus, kondisinya dimulai dengan ereksi tiba-tiba yang menyakitkan dalam durasi pendek dan terus berlanjut serta berulang menjadi ereksi yang lebih sering dan lebih lama.

Selain anemia sel sabit, beberapa kelainan darah ini juga dapat menyebabkan pria mengalami ereksi terlalu lama akibat adanya gangguan pada aliran darah yang masuk dan keluar pada penis:

2. Pria yang mengonsumsi obat-obatam tertentu

Priapismus juga dapat terjadi sebagai kemungkinan efek samping setelah menggunakan obat tertentu yang dapat memengaruhi aliran darah ke penis. Obat-obat ini meliputi:

  • Obat yang disuntikkan langsung ke penis untuk mengobati disfungsi ereksi, seperti alprostadil, papaverine, phentolamine, dan lain-lain.
  • Antidepresan, seperti fluoxetine (Prozac), bupropion (Wellbutrin), dan sertraline.
  • Alpha blocker seperti prazosin, terazosin, doxazosin, dan tamsulosin.
  • Obat yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan atau gangguan psikotik, seperti hydroxyzine, risperidone (Risperdal), olanzapine (Zyprexa), lithium, clozapine, chlorpromazine dan thioridazine.
  • Obat pengencer darah, seperti warfarin (Coumadin) dan heparin.
  • Terapi hormon, misalnya gonadotropin.
  • Hormon seperti hormon pelepas testosteron atau gonadotropin.
  • Obat yang digunakan untuk mengobati ADHD, seperti atomoxetine (Strattera).

3. Pria dengan kondisi tertentu

Berbagai kondisi di bawah ini dapat meningkatkan risiko pria mengalami ereksi yang berkepanjangan, yaitu:

  • Gangguan metabolisme
  • Gangguan neurogenik
  • Kanker yang melibatkan penis
  • Gigitan laba-laba, sengatan kalajengking, dan infeksi beracun lainnya
  • Penyalahgunaan alkohol dan narkoba

Pilihan pengobatan untuk mengobati priapismus

Pengobatan priapismus disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Pilihan pengobatan ereksi berkepanjangan yang paling umum adalah penggunaan obat resep seperti phenylephrine, terapi fisik dengan mengeluarkan darah yang menggumpal dan membilas penis menggunakan larutan garam untuk mengurasi rasa sakit, hingga pembedahan sebagai jalan terakhir dokter untuk memperbaiki aliran darah di penis. Bicarakan lebih lanjut dengan dokter mengenai jenis pengobatan yang paling tepat untuk kondisi Anda.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 10, 2018 | Terakhir Diedit: Februari 28, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca