Kenapa Beberapa Pasien UGD Lebih Diutamakan dari yang Lain?

Oleh

Mungkin kejadian di rumah sakit yang suka bikin dongkol ini pernah Anda alami: Anda masuk ke UGD untuk mendapatkan pertolongan secepatnya, tapi dokter jaga justru mendahulukan pasien lain yang baru datang setelah Anda untuk diobati. Namun, jangan buru-buru merasa ditelantarkan dan langsung protes “Lho, kok situ main nyelonong masuk? Kan saya duluan yang daftar!”

Kadang, dokter dan tim diharuskan untuk mendahulukan pasien yang kondisinya lebih gawat daripada Anda. Ini adalah prosedur yang wajar di dunia kedokteran karena setiap UGD pasti menganut sistem triase gawat darurat medis.

Kenapa ada beberapa pasien yang harus didahulukan untuk mendapat pertolongan medis?

Di UGD, sistem triase gawat darurat medis digunakan untuk menentukan pasien mana yang harus ditangani lebih dahulu dibandingkan dengan pasien lainnya. Konsep awal triase gawat darurat adalah membagi pasien menjadi 3 kategori, yaitu immediate, urgent, dan non-urgent. Konsep yang pertama kali diciptakan untuk situasi perang ini masih berlaku untuk digunakan di zaman modern ini, dan digunakan di berbagai negara seperi Inggris, Belanda, Swedia, India, Australia, dan organisasi militer NATO.

Sistem triase medis akan mengevaluasi dan mengategorikan pasien yang sakit atau mengalami truma ketika sumber daya kesehatannya tidak berbanding dengan jumlah pasien yang ada di saat itu. Sistem ini akan sangat berguna pada kondisi seperti adanya bencana alam dengan jumlah korban yang sangat banyak, atau ketika dalam satu waktu bersamaan entah karena apa sebuah UGD rumah sakit kebanjiran pasien dalam jumlah yang banyak.

Bagaimana cara dokter menyortir pasien gawat darurat dengan sistem triase medis?

Sistem triase medis memilah-milih pasien berdasarkan kondisi pasien saat masuk ruang perawatan dan memberikan kode warna untuk pasien, mulai dari merah, kuning, hijau, putih dan hitam. Apa arti dari warna-warna ini?

  1. Merah: Kode warna merah diberikan kepada pasien yang jika tidak diberikan penanganan dengan cepat maka pasien pasti akan meninggal, dengan syarat pasien tersebut masih memiliki kemungkinan untuk dapat hidup. Contohnya seperti pasien dengan gangguan pernapasan, trauma kepala dengan ukuran pupil mata yang tidak sama, dan perdarahan hebat.
  2.  Kuning: Kode warna kuning diberikan kepada pasien yang memerlukan perawatan segera, namun masih dapat ditunda karena ia masih dalam kondisi stabil. Pasien dengan kode kuning masih memerlukan perawatan di rumah sakit dan pada kondisi normal akan segera ditangani. Contohnya seperti pasien dengan patah tulang di beberapa tempat, patah tulang paha atau panggul, luka bakar luas, dan trauma kepala.
  3. Hijau: Kode warna hijau diberikan kepada mereka yang memerlukan perawatan namun masih dapat ditunda. Biasanya pasien cedera yang masih sadar dan bisa berjalan masuk dalam kategori ini. Ketika pasien lain yang dalam keadaan gawat sudah selesai ditangani, maka pasien dengan kode warna hijau akan ditangani. Contohnya seperti pasien dengan patah tulang ringan, luka bakar minimal, atau luka ringan.
  4. Putih: Kode warna putih diberikan kepada pasien hanya dengan cedera minimal di mana tidak diperlukan penanganan dokter.
  5. Hitam: Kode warna hitam diberikan kepada pasien yang setelah diperiksa tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Misalnya, mereka yang masih hidup namun mengalami cedera yang amat parah sehingga meskipun segera ditangani, pasien tetap akan meninggal.

Namun demikian, sistem triase gawat darurat medis ini tidak kaku. Jika pasien dengan kode merah yang telah mendapat penanganan pertama dan kondisinya sudah lebih stabil maka kode pasien tersebut bisa diubah menjadi warna kuning. Sebaliknya, pasien dengan kode kuning yang kondisinya mendadak tambah parah bisa saja kodenya diubah jadi warna merah.

Baca Juga:

Yang juga perlu Anda baca