Perbedaan Gejala Demam Novel Coronavirus dengan Flu Biasa

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Wabah novel coronavirus kini telah menyerang lebih dari 40.000 orang serta menewaskan lebih dari 1.000 orang secara global. Rata-rata orang yang terinfeksi virus ini mengalami gejala demam. Nah, bagaimana cara membedakan gejala demam novel coronavirus dengan flu biasa?

Gejala demam coronavirus vs gejala demam biasa

Menurut CDC, orang yang terinfeksi novel coronavirus atau 2019-nCoV biasanya mengalami  demam, batuk dan sesak napas. Khusus untuk demam, biasanya muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus. 

Jumlah hari dihitung tersebut berdasarkan masa inkubasi novel coronavirus. Karena itu, ada kemungkinan orang sudah terinfeksi baru mengalami gejala demam setelah beberapa hari dan lolos thermal scanner bandara, seperti yang terjadi Paris, Prancis.

Lalu, apakah demam pada novel coronavirus dan demam pada flu berbeda? Faktanya, demam keduanya ternyata bisa berbeda. 

Menurut dr. Sita Laksmi Andarini, Ph.D, Sp.P(K), dokter spesialis paru di MRCCC Siloam Semanggi, demam pada 2019-nCoV dan flu biasa terletak pada riwayat perjalanan, apakah Anda pernah mengunjungi daerah yang positif menjadi tempat penularan virus atau tidak.

bepergian saat coronavirus

Jika Anda tidak memiliki riwayat bepergian ke lokasi yang terinfeksi virus, tetapi mengalami demam tinggi dan pernah berkontak langsung dengan orang yang terinfeksi coronavirus, kemungkinan gejala demam itu dipicu oleh novel coronavirus

Nah, gejala demam terkait coronavirus biasanya diikuti dengan suhu tinggi di atas sekitar 38°C, sedangkan suhu tubuh ketika demam biasa terjadi sekitar 37.2°C.

“Selain itu, infeksi coronavirus atau jenis virus berat lainnya membuat penderitanya kesulitan melakukan aktivitas tertentu. Artinya, infeksi virus tidak sekadar flu biasa, sehingga gejala demam novel coronavirus tidak dapat disamakan dengan flu pada umumnya,” tutur dr. Sita ketika ditemui di MRCCC Siloam Semanggi. 

Gejala novel coronavirus tidak hanya ditandai dengan demam biasa, melainkan juga badan terasa lemas dan sakit. Selain itu, biasanya demam terkait coronavirus tidak mudah turun suhunya hingga beberapa hari.

Dengan begitu, Anda bisa membedakan mana yang termasuk tanda-tanda gejala novel coronavirus dengan gejala flu biasa, dan menentukan langkah selanjutnya. Atau bila ragu, langsung hubungi dokter bila gejala demam sudah melanda.

Bisakah gejala demam novel coronavirus disembuhkan?

menurunkan demam

Sebagian dari Anda mungkin mengira bahwa gejala demam pada novel coronavirus dapat disembuhkan dengan obat penurun panas. Faktanya, tidak demikian. 

Menurut dr. Sita Laksmi sebagai salah satu anggota dari American Thoracic Society, demam pada novel coronavirus justru tidak akan turun dengan obat penurun panas biasa. Normalnya, suhu tubuh seseorang yang mengalami demam justru akan turun pada flu biasa. 

Di sisi lain, obat khusus yang efektif untuk mengobati novel coronavirus masih belum ada yang disetujui oleh pemerintah. Oleh karena itu, tenaga kesehatan melakukan perawatan dengan mencoba mengurangi gejala, seperti demam, batuk, muntah, diare, dan rasa lelah. 

Pengobatan yang tidak tertuju pada virus tersebut bertujuan agar pasien tetap merasa nyaman saat tubuh melawan infeksi virus. 

Sebenarnya, metode perawatan ini termasuk obat untuk mengurangi demam. Akan tetapi, dokter biasanya meresepkan obat antireptik, seperti ibuprofen dan acetaminophen

minum obat sambil tiduran

Obat-obat tersebut mungkin dapat menurunkan gejala demam pada novel coronavirus. Namun, diperlukan metode tambahan agar suhu tubuh menurun, seperti mandi air dingin dan memenuhi kebutuhan cairan. 

Umumnya, orang yang pernah terkena infeksi novel coronavirus mengalami gejala yang cukup ringan dan kemungkinan sembuhnya cukup besar. Selain itu, hampir sebagian besar pasien yang mendapatkan perawatan ini dapat menghindari risiko komplikasi dan sembuh. 

Hal ini mungkin dikarenakan novel coronavirus termasuk infeksi menular akut, tetapi terdapat beberapa orang yang mengalami gejala ringan dan pemulihannya mirip dengan flu biasa

Walaupun demikian, bukan berarti Anda boleh menyepelekan gejala yang dialami ketika wabah ini sedang berlangsung. 

Gejala novel coronavirus, terutama demam, mungkin terdengar tidak begitu parah. Namun, ketika mengalami gejala tersebut dan memiliki riwayat bepergian dari Tiongkok atau berkontak langsung dengan pasien yang terinfeksi, sebaiknya periksakan kondisi Anda. 

Adakah obat antiviral yang dapat melawan novel coronavirus?

alkohol suhu tinggi coronavirus

Perawatan yang dilakukan untuk meringankan gejala novel coronavirus, terutama demam, batuk, hingga mengganggu saluran pernapasan, memang cukup membantu. Hal ini dikarenakan belum ada obat antiviral yang benar-benar dikhususkan untuk melawan infeksi novel coronavirus

“Sampai saat ini belum ada obat antivirus khusus untuk novel coronavirus. Akan tetapi, baru-baru ini ilmuwan dari Tiongkok berusaha menggabungkan obat antiviral dan malaria dan hasilnya masih belum diketahui, ”tambah dr. Sita Laksmi. 

Para ahli berusaha mencari obat yang efektif menghilangkan virus dalam tubuh untuk pasien dengan kondisi yang parah. 

Menurut sejumlah laporan penelitian, salah satu contoh antivirus yang sedang dipelajari oleh tim peneliti adalah kombinasi obat HIV, yaitu lopinavir dan ritonavir. 

vaksin novel coronavirus

Gabungan kedua obat tersebut menunjukkan bahwa pasien dengan 2019-nCoV di Thailand membaik dalam waktu 48 jam setelah menerima pengobatan. Obat HIV tersebut tentu tidak bertindak sendiri, melainkan juga digunakan bersamaan dengan obat flu oseltamivir. 

Kini, para ilmuwan dari Tiongkok sedang menguji coba, apakah gabungan obat antivirus Remdesivir dengan obat anti-malaria efektif untuk novel coronavirus. Tidak hanya mengurangi gejala demam pada coronavirus, melainkan benar-benar menyerang virus yang bersemayam di tubuh pasien. 

Gejala demam baik pada novel coronavirus maupun flu biasa memang hampir mirip. Akan tetapi, yang membedakan adalah suhu tubuh dan riwayat bepergian Anda. 

Maka itu, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter ketika mengalami gejala flu sebagai upaya mengurangi risiko komplikasi infeksi.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 12, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 11, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca