6 Efek Samping yang Muncul Setelah Operasi Angkat Rahim

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/04/2019
Bagikan sekarang

Histerektomi adalah operasi pengangkatan rahim yang biasanya dilakukan ketika seorang wanita mengalami masalah tertentu pada rahimnya. Ya, pengangkatan ini diperlukan supaya mencegah komplikasi dari penyakit lain. Histerektomi akan dianjurkan jika Anda mengalami fibroid, endometriosis, atau kanker. Nah, sebaiknya sebelum melakukan histerektomi, pahami dulu berbagai efek samping yang bisa muncul setelahnya. 

Efek samping operasi pengangkatan rahim (histerektomi)

Sebuah operasi mengangkat organ tubuh tertentu tentu saja memiliki efek samping. Beberapa orang mungkin mengalami dampak secara psikologis dan fisik selama proses pemulihan pengangkatan rahim berlangsung.

1. Dampak fisik

Pada proses pemulihan, Anda mungkin akan mengalami flek selama beberapa hari setelah operasi. Hal ini sangat normal dan disarankan untuk menggunakan pembalut ketika proses pemulihan ini berlangsung. Selain flek berikut beberapa efek samping histerektomi yang harus Anda perhatikan pada bekas sayatan.

  • Merasakan nyeri
  • Pembengkakan dan kulit kemerahan
  • Rasa gatal dan terbakar
  • Mati rasa pada kaki Anda.

Selain itu, efek samping lainnya adalah merasakan gejala menopause. Apabila Anda melakukan pengangkatan rahim secara keseluruhan, tentu saja ovarium Anda juga diangkat.

2. Gejala menopause selama beberapa tahun

Setelah histerektomi dilakukan, tentu saja efek samping permanen yang Anda alami adalah menopause. Akan tetapi, gejala kondisi ini ternyata akan terus muncul selama beberapa tahun untuk beberapa wanita. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan hormon estrogen pada tubuh Anda.

  • Merasakan rasa panas yang tiba-tiba
  • Vagina kering
  • Keringat pada malam hari
  • Insomnia
  • Penurunan gairah seks
  • Merasakan nyeri ketika berhubungan intim.

3. Dampak psikologis

Rahim adalah salah satu organ yang penting bagi para wanita. Dengan dilakukannya operasi ini, tentu saja peluang Anda untuk hamil sudah tertutup. Rasa sedih dan perasaan yang bertentangan mengenai kondisi ini sering menjadi efek samping histerektomi.

Oleh karena itu, konsultasikan kepada dokter Anda untuk mengetahui apakah ini benar-benar jalan yang harus Anda pilih demi mengembalikan kesehatan Anda.

4. Masalah seksual

Setelah operasi dilakukan, Anda sangat disarankan untuk tidak berhubungan intim selama 6 minggu. Beberapa orang merasakan efek yang berbeda setelah prosedur ini dilakukan. Sebagian merasa gairah seks mereka justru meningkat atau biasa-biasa saja. Sebagian lainnya justru mengalami penurunan gairah, frekuensi orgasme, dan justru merasa sakit ketika berhubungan intim.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa histerektomi menimbulkan efek samping yang buruk pada sebagian wanita. Mereka mengalami penurunan libido secara drastis. Namun, kebanyakan dari mereka justru merasakan dampak positif pada kehidupan seksual mereka.

Selain itu, dikutip dari verywellhealth, sebuah penelitian di tahun 2014, menemukan 10-20% wanita mengalami penurunan fungsi seksual saat dilakukan histerektomi karena kasus penyakit tumor jinak.

Pada kasus tumor ganas, penurunan fungsi seksual lebih buruk lagi. Meski demikian, tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hubungan histerektomi dengan masalah seksual.  

5. Efek samping dari anestesi

Pada saat operasi berlangsung tentu saja Anda akan diberikan anestesi agar tidak merasakan sakit. Nah, efek yang terjadi setelahnya adalah suasana hati tidak stabil, kelelahan, atau merasa letih selama beberapa hari. Kemungkinan Anda juga merasa mual. Oleh karena itu, beritahukan ke dokter Anda gejala tersebut agar diberikan resep obat sesuai keluhan Anda.

6. Efek samping lainnya

Beberapa studi menunjukkan beberapa efek samping histerektomi muncul bagi sebagian wanita.

  • Berat badan naik
  • Konstipasi
  • Demam
  • Nyeri panggul

Supaya efek samping setelah histerektomi terkendali dengan baik, maka Anda harus rutin periksa ke dokter.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Berbagai Tanda dan Gejala Anda Sebentar Lagi Mau Menopause

Setiap wanita dewasa pada akhirnya akan menopause. Selain berhentinya menstruasi, apa lagi tanda dan gejala awal menopause yang umum muncul?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Rr. Bamandhita Rahma Setiaji

Redakan Sensasi Panas Akibat Menopause Dengan Akupunktur

Akupunktur termasuk terapi alternatif yang disebut-sebut bisa mengatasi gejala hot flashes atau rasa panas dari dalam tubuh akibat menopause. Benarkah bisa?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Wanita yang Menopause Dini, Rentan Terkena Penyakit Jantung

Menopause dini terjadi lebih cepat dari rata-rata usia pada umumnya. Wanita dengan kondisi ini berisiko terkena penyakit jantung. Simak ulasannya berikut.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji

5 Hal yang Umumnya Jadi Penyebab Gusi Berwarna Pucat (Perlukah Khawatir?)

Gusi yang sehat seharusnya berwarna merah muda. Apabila warna gusi pucat, mungkin ada masalah pada kondisi kesehatan Anda yang tidak bisa dianggap remeh.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini

Direkomendasikan untuk Anda

berat badan naik menopause

Berat Badan Malah Naik Setelah Menopause? Ternyata Ini Sebabnya

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 17/11/2019
seks setelah menopause

Sering Bikin Wanita Cemas, Ini 4 Mitos Seputar Seks Setelah Menopause

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Diah Ayu
Dipublikasikan tanggal: 23/04/2019
bawang dayak

3 Khasiat Bawang Dayak dari Kalimantan yang Berpotensi Baik Buat Kesehatan

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 27/02/2019
istri menopause

3 Tips Bijak Memberitahu Suami Bahwa Anda Sudah Menopause

Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 27/01/2019