backup og meta
Kategori
Cek Kondisi

3

Tanya Dokter
Simpan
Konten

Apakah Operasi Angkat Rahim Bisa Sebabkan Menopause Dini?

Ditinjau secara medis oleh dr. Carla Pramudita Susanto · General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 20/01/2023

Apakah Operasi Angkat Rahim Bisa Sebabkan Menopause Dini?

Apakah Anda sudah atau baru akan menjalani operasi angkat rahim (histerektomi)? Ada pakar mengatakan bahwa menjalani operasi angkat rahim pada usia muda bisa menyebabkan menopause lebih cepat.

Namun, bagaimana faktanya? Apakah benar wanita yang melakukan histerektomi bisa mengalami menopause dini? Simak ulasan berikut untuk tahu jawabannya.

Apakah operasi angkat rahim bisa menyebabkan menopause?

Jawaban singkatnya, yakni benar ada risikonya. Menopause normalnya terjadi pada wanita usia 50-an.

Namun, ada beberapa wanita yang mengalami menopause lebih cepat dari usia normal pada umumnya.

Salah satu hal yang meningkatkan risiko menopause dini tersebut, yaitu menjalani operasi angkat rahim (histerektomi). Bahkan, risikonya bisa mencapai dua kali lipat.

Fakta tersebut diungkapkan dalam satu penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Duke University of Medical Center.

Para peneliti tersebut melakukan penelitian mengenai efek samping histerektomi, yaitu menopause dini, pada wanita usia 30—47 tahun.

Peneliti mengamati 406 wanita yang menjalani histerektomi dan membandingkannya dengan 465 wanita sehat yang tidak menjalani operasi ini.

Peneliti mengumpulkan sampel darah dan memberikan kuesioner kepada wanita tersebut setiap tahun selama 5 tahun.

Hasilnya menunjukkan bahwa 14,8% wanita yang menjalani histerektomi mengalami menopause selama masa penelitiannya. Sementara wanita yang tanpa histerektomi terdata hanya sebanyak 8% mengalami menopause. 

Risiko menopause dini ini lebih tinggi terjadi pada wanita yang menjalani operasi angkat rahim sekaligus dengan salah satu indung telur atau ovariumnya.

Namun, risikonya juga tetap terjadi pada wanita dengan histerektomi yang kedua indung telurnya masih dipertahankan.

Kenapa operasi angkat rahim bisa menyebabkan menopause?

Operasi angkat rahim dapat menyebabkan menopause dini karena kemungkinan kegagalan ovarium lebih tinggi pada wanita yang menjalani histerektomi.

Meski tak diketahui pasti apa penyebabnya, para pakar menduga bahwa proses pembedahan histerektomi dapat mengganggu aliran darah ke ovarium.

Hal ini kemungkinan menyebabkan produksi hormon reproduksi wanita menurun sehingga indung telur (ovarium) tidak dapat berfungsi normal.

Selain itu, histerektomi bisa menyebabkan kadar FSH (Follicle-stimulating hormone) meningkat yang kemudian mempercepat penipisan folikel yang menjadi faktor penyebab menopause.

Kapan menopause bisa terjadi bila menjalani histerektomi?

menopause bisa terjadi bila menjalani histerektomi?

Risiko menopause dini memang lebih tinggi bila Anda menjalani operasi angkat rahim.

Namun, bila salah satu atau kedua ovarium Anda dipertahankan, menopause tidak langsung terjadi begitu saja setelah operasi selesai dilakukan.

Peneliti dari Duke University of Medical Center memperkirakan, menopause akan terjadi dua tahun lebih awal dibandingkan jika Anda tidak menjalani histerektomi.

Ada pula yang menyebut kalau Anda kemungkinan akan mengalami menopause dalam waktu lima tahun setelah operasi angkat rahim dilakukan.

Adapun jika operasi angkat rahim Anda menyertakan pengangkatan kedua ovarium (ooforektomi), menopause akan terjadi segera setelah operasi selesai berapa pun usia Anda.

NHS mengatakan, kondisi ini dikenal juga dengan surgical menopause atau menopause bedah.

Ooforektomi memang dapat menyebabkan menopause lebih cepat terjadi, karena tempat hormon reproduksi diproduksi dihilangkan.

Prosedur pengangkatan satu buah indung telur (ooforektomi tunggal) menyebabkan jumlah hormon reproduksi akan berkurang, sehingga menyebabkan menopause lebih cepat terjadi.

Sementara operasi pengangkatan dua buah indung telur (ooforektomi bilateral) menandakan produksi hormon reproduksi benar-benar berhenti dan menopause bisa segera terjadi.

Apa tanda menopause pada wanita yang menjalani operasi angkat rahim?

Tanda pertama dari perimenopause (transisi menuju menopause) pada wanita adalah perubahan pola menstruasi.

Misalnya menstruasi menjadi tidak teratur. Akhirnya saat menopause terjadi, menstruasi Anda akan berhenti sama sekali.

Meski begitu, tanda umum tersebut tidak akan dialami oleh wanita yang menjalani operasi pengangkatan rahim.

Melansir Sutter Health, bagi wanita yang tidak punya rahim atau yang menjalani prosedur operasi pengangkatannya, periode menstruasi tidak akan menjadi tanda terjadinya menopause.

Namun, jika salah satu atau kedua indung telur Anda masih dipertahankan, Anda masih mungkin merasakan gejala perimenopause atau menopause lainnya, seperti berikut ini.

  • Hot flashes.
  • Perubahan mood atau suasana hati.
  • Vagina kering.
  • Penurunan gairah seksual.
  • Gangguan tidur.
  • Nyeri payudara.
  • Kelelahan.

Sementara pada wanita yang menjalani histerektomi total (berikut dengan ovarium) mungkin saja tak ada tanda-tanda menopause yang Anda rasakan.

Adapun bila gejala menopause yang Anda rasakan cukup mengganggu, Anda bisa berkonsultasi kepada dokter untuk mengatasi atau mengontrolnya.

Perlukah khawatir alami  menopause dini setelah operasi angkat rahim?

menopause dini setelah operasi angkat rahim?

Menopause dini akibat histerektomi bisa menyebabkan penurunan hormon estrogen, baik secara drastis atau berkala.

Padahal, hormon estrogen dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang dan melindungi Anda dari berbagai masalah kesehatan.

Inilah mengapa menopause dini lebih berisiko menyebabkan berbagai penyakit pada wanita yang mengalaminya, seperti osteoporosis, depresi, penyakit jantung, hingga gangguan saraf.

Oleh karena itu, pastikan Anda mengetahui manfaat dan risiko dari pengobatan yang Anda jalani, termasuk operasi angkat rahim.

Selalu konsultasikan dengan dokter untuk jenis pengobatan yang tepat sesuai kondisi Anda.

Catatan

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Carla Pramudita Susanto

General Practitioner · Klinik Laboratorium Pramita


Ditulis oleh Ihda Fadila · Tanggal diperbarui 20/01/2023

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan