Sebenarnya, Bau Badan Itu Bisa Menular Atau Tidak, Ya?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Bau badan bisa membuat Anda minder. Bayangkan, jika Anda berada di tempat yang ramai berdesak-desakan, otomatis bau yang tidak menyenangkan ini akan tercium ke mana-mana. Kalau sudah begini, bisa-bisa Anda ikut jadi bau. Tapi, apa iya bau badan itu menular? Daripada penasaran, yuk, cari tahu jawabannya berikut ini.

Apakah bau badan bisa menular?

Jawabannya tentu saja tidak. Bau badan bukanlah penyakit atau kondisi yang bisa menular.

Bau badan, yang dikenal dengan osmidrosis atau bromhidrosis ini, biasanya mulai terjadi ketika anak mencapai masa pubertas.

Ini terjadi karena kelenjar apokrin yang berada di area ketiak, selangkangan, dan payudara sudah mulai aktif bekerja.

Sebenarnya, keringat yang dihasilkan kelenjar apokrin tidak berwarna dan tidak berbau. Namun, ketika kondisi tubuh berkeringat lebih banyak dan kotor, bakteri yang menempel bisa memecah minyak yang ada pada keringat tersebut.

Alhasil, bakteri itulah yang kemudian menyebabkan bau menyengat yang mengganggu.

Setiap orang menghasilkan keringat dan memiliki bakteri yang menempel di kulit. Itu sebabnya, bau badan dihasilkan sendiri oleh tubuh.

Itu artinya, bau badan tidak dapat menular atau didapatkan dari orang lain.

Tidak bisa menular, inilah yang membuat Anda bau badan

bau badan berubah

Meskipun bau badan tidak dapat menular, kondisi ini bisa menyerang Anda kapan saja. Terutama jika Anda tidak menjaga kebersihan tubuh dan melakukan aktivitas yang cenderung berkeringat.

Semakin tinggi aktivitas yang dilakukan, semakin banyak keringat yang dikeluarkan. Kondisi ini tentu rentan membuat Anda bau badan karena bakteri semakin gencar memecah keringat.

Apalagi jika Anda mandi tidak bersih, bakteri yang menempel akan semakin menumpuk, membuat keringat Anda semakin berbau tidak sedap.

Menurut laman Medline Plus, keringat yang berlebihan tidak hanya disebabkan oleh aktivitas tubuh saja. Ada beberapa faktor lain yang bisa membuat produksi keringat meningkat, seperti:

  • Cuaca panas dan makanan pedas.
  • Kondisi emosional, seperti cemas, marah, gelisah, khawatir, dan takut.
  • Menjadi gejala dari menopause pada wanita.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, kafein, dan alkohol.
  • Masalah kesehatan, seperti demam, penyakit jantung, stres, atau hipoglikemia.

Selain kelenjar apokrin, kelenjar ekrin yang ada di seluruh tubuh juga menghasilkan keringat. Walaupun biasanya tidak dipecah oleh bakteri, beberapa makanan bisa mengubah bau dari keringat ini.

Misalnya, mengonsumsi daging merah, bawang-bawangan, dan makanan yang mengandung sulfur seperti kol dan brokoli.

Atasi bau badan dengan hal ini

tips memilih sabun mandi

Setelah memahami bahwa bau badan tidak dapat menular, yang perlu Anda ketahui selanjutnya adalah mengurangi bau yang dikeluarkan oleh tubuh.

Bau badan dapat diatasi dengan beberapa cara mudah berikut:

  • Menggunakan sabun antibakteri untuk membunuh kuman yang menempel di kulit.
  • Mandi lebih bersih, terutama ketika membersihkan ketiak, payudara, dan selangkangan.
  • Menghindari pakaian dalam atau baju yang masih basah karena bisa memicu bau apek.
  • Cuci baju dan celana hingga bersih dan bawa baju cadangan ketika Anda melakukan aktivitas yang mengeluarkan banyak keringat.
  • Pakai deodoran atau antiperspirant untuk mencegah bau ketiak

Bila tidak cukup ampuh, jangan ragu untuk melakukan konsultasi pada dokter.

Dokter mungkin akan merekomendasikan Anda untuk suntik botolinum toxin (botox) A untuk memblokir impuls saraf ke kelenjar keringat atau sedot lemak untuk mengurangi kelenjar keringat tertentu.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca