home
close

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Senang Makan Jengkol Saat Puasa? Ini 5 Tips Supaya Mulut Tetap Segar

Senang Makan Jengkol Saat Puasa? Ini 5 Tips Supaya Mulut Tetap Segar

Para penggemar jengkol dan petai pasti setuju bahwa rasa kedua makanan biji-bijian ini lezat meski harus menanggung bau mulut setelah memakannya. Namun, Anda mungkin perlu lebih berhati-hati jika makan jengkol dan petai saat puasa.

Hal ini karena aroma kedua biji-bijian tersebut bisa saja menetap lebih lama di dalam mulut ketimbang dimakan ketika Anda sedang tidak berpuasa. Lantas, bagaimana menjaga kesegaran mulut saat puasa setelah makan jengkol dan petai?

Cara agar mulut segar meski makan jengkol saat puasa

makan petai dan jengkol bersamaan

Mengonsumsi makanan dan minuman selama bulan Ramadan memang tidak bisa sebebas hari biasanya.

Ketika ingin mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, Anda mau tidak mau harus menunggu waktu sahur dan berbuka puasa.

Nah, bagaimana jika di saat-saat tertentu rasanya sangat ingin makan jengkol atau petai padahal sedang puasa? Melansir dari Oral Health Foundation, satu dari sekian banyak penyebab bau mulut yakni karena makan makanan dengan aroma kuat.

Alhasil, aroma makanan tersebut kemudian menetap di mulut sampai jangka waktu tertentu. Namun, jangan khawatir, Anda bisa memuaskan hasrat untuk makan jengkol dan petai ketika puasa sembari memastikan mulut senantiasa segar.

Berikut beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesegaran mulut usai makan jengkol dan petai saat puasa:

1. Perbanyak minum air putih

sudah cukup minum air putih belom

Minum air putih yang cukup selama puasa bukan hanya berguna untuk mencegah dehidrasi.

Bagi Anda yang baru saja makan jengkol atau petai, minum air putih yang banyak dapat membantu “membilas” sisa makanan yang masih ada di lidah atau di sela-sela gigi.

Memperbanyak minum air putih juga membantu merangsang produksi air liur (saliva) guna menghilangkan bakteri penyebab bau mulut.

Jangan khawatir Anda akan jadi bolak-balik ke toilet untuk buang air kecil karena hal tersebut normal adanya.

2. Menyikat gigi setelah makan

sering sikat gigi

Menyikat gigi setelah selesai makan jengkol atau petai dapat membantu mengurangi bau mulut sekaligus membuat mulut segar saat puasa.

Ini karena sisa jengkol dan petai bisa saja tertinggal di antara gigi sehingga memicu timbulnya bau mulut.

Menyikat gigi akan membantu membersihkan sisa makanan yang tertinggal serta memastikan kebersihan mulut.

Bukan hanya itu, penumpukan plak pada gigi juga bisa membuat aroma mulut tidak sedap selama Anda berpuasa.

3. Rajin membersihkan lidah

cara membersihkan lidah

Mengutip dari laman Mayo Clinic, meski sekilas tampak bersih, sebenarnya lidah mengandung banyak bakteri yang dapat mengakibatkan bau mulut.

Jika bakteri di lidah menumpuk ditambah dengan adanya aroma khas usai makan petai dan jengkol yang masih bertahan di mulut, tentu mulut Anda tidak terasa segar saat puasa.

Itu sebabnya, usahakan rutin membersihkan lidah setelah selesai menggosok gigi. Anda bisa menggunakan pembersih lidah atau tongue scraper agar lebih optimal dalam membersihkan seluruh bagian lidah.

Mulailah membersihkan lidah dari belakang ke depan dengan perlahan-lahan. Ulangi prosesnya sampai Anda tidak lagi melihat ada sisa kotoran yang mungkin menempel di tongue scraper.

4. Kunyah perman karet mint tanpa gula

mencegah asam lambung

Salah satu cara untuk menghalau bau mulut setelah makan jengkol atau petai saat puasa adalah dengan makan permen karet.

Akan tetapi, sebaiknya hindari permen karet yang memiliki rasa karena kandungan gulanya cukup tinggi.

Gula yang terlalu banyak ini dapat digunakan oleh bakteri di dalam mulut untuk memproduksi asam. Akibatnya, jumlah asam yang meningkat bisa mengakibatkan bau mulut saat puasa semakin menjadi-jadi.

Bahkan, ditambah lagi karena sebelumnya Anda baru saja makan jengkol dan petai. Alih-alih makan permen karet dengan rasa manis, cobalah mengunyah permen karet tanpa gula dengan rasa mint.

Rasa mint dapat membantu menyamarkan aroma jengkol dan petai di mulut sekaligus memberikan sensasi dingin agar nafas terasa segar.

5. Gunakan obat kumur setelah makan jengkol saat puasa

obat kumur untuk anak

Selain membuat napas lebih segar, obat kumur (mouthwash) juga bisa membantu menyamarkan aroma khas usai makan jengkol atau petai di kala puasa.

Namun sebelumnya, pastikan terlebih dahulu bahwa obat kumur yang Anda pakai bukan hanya bisa mengusir bau mulut, tetapi juga mampu membunuh kuman.

Bukan itu saja, pemakaian obat kumur saat puasa juga dapat membersihkan bakteri, plak, serta sisa makanan yang tertinggal setelah menggosok gigi.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What You Ca Do About Bad Breath. Retrieved 20 April 2020, from https://www.webmd.com/oral-health/features/get-rid-bad-breath#1 

Bad Breath. Retrieved 20 April 2020, from https://www.dentalhealth.org/bad-breath

Bad Breath. Retrieved 20 April 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bad-breath/diagnosis-treatment/drc-20350925

How Do You Get Rid of Garlic or Onion Breath?. Retrieved 20 April 2020, from https://www.medicalnewstoday.com/articles/321334

8 Tips to Get Rid of Garlic and Onion Breath. Retrieved 20 April 2020, from https://www.healthline.com/health/get-rid-of-garlic-onion-breath#1

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri Diperbarui 12/04/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Damar Upahita
x