home

Artikel Bersponsor

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Hati-hati Komplikasi Infeksi Penyakit Gusi di Masa Pandemi

Hati-hati Komplikasi Infeksi Penyakit Gusi di Masa Pandemi

Tidak hanya masalah gigi saja, tapi masalah gusi juga perlu diperhatikan, seperti infeksi penyakit gusi. Gusi berperan dalam melindungi akar gigi. Jika gusi bermasalah, maka gusi tidak berperan optimal dalam melakukan tugasnya. Bahkan, bila masalah infeksi penyakit gusi tidak segera diatasi, bisa saja memicu komplikasi penyakit lainnya.

Mengenal gejala infeksi gusi

Penyakit infeksi gusi atau periodontitis adalah salah satu masalah rongga mulut yang bisa dialami siapa saja. Menurut Mayo Clinic, penyakit gusi ini merusak jaringan lunak, bahkan tulang yang mendukung berdirinya gigi. Pada akhirnya, masalah gusi ini mengakibatkan gigi mudah lepas.

Gejala infeksi gusi dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  • Gusi bengkak atau terasa empuk saat disentuh
  • Berwarna merah cerah, merah gelap, hingga keunguan
  • Gusi mudah berdarah
  • Keluar darah saat menyikat maupun membersihkan gigi dengan benang (flossing)
  • Bau mulut
  • Nanah di antara gigi dan gusi
  • Gigi mudah lepas
  • Sakit ketika mengunyah
  • Muncul ruang di antara gigi
  • Resesi gusi atau gusi menurun
  • Perubahan saat menggigit makanan

Awalnya, mungkin terasa seperti masalah mulut biasa. Namun, bila infeksi gusi ini menimbulkan gejala-gejala lain seperti di atas pastinya tidak nyaman, terutama ketika Anda hendak makan ataupun menyikat gigi.

Sebelumnya, ada beragam penyebab gusi bengkak yang perlu dipahami. Misalnya, masalah plak yang terbentuk pada gigi dan mengeras sehingga membentuk karang gigi atau tartar. Terbentuknya tartar dapat menimbulkan iritasi dan peradangan di sekitar gusi.

Peradangan yang berlangsung dapat membentuk kantong di antara gusi dan gigi yang terisi plak, tartar, dan bakteri. Jika kantung gigi ini melebar, bakteri dapat berdampak pada jaringan dan tulang di dalam gusi. Akibatnya, gigi dapat mudah lepas.

Bahkan, peradangan kronis pada masalah gusi dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menimbulkan komplikasi penyakit lainnya.

Komplikasi infeksi penyakit gusi yang mungkin terjadi

Masalah pada rongga mulut, seperti penyakit gusi dapat memengaruhi kesehatan dan menyebabkan risiko komplikasi kesehatan. Berikut komplikasi gusi yang terinfeksi jika dibiarkan:

1. Gangguan pernapasan

Kuman yang terdapat di dalam gusi dapat masuk ke dalam paru-paru dan menimbulkan infeksi gangguan pernapasan. Journal of Medicine and Life menjelaskan, kumpulan kuman pada plak gigi dan infeksi gusi dapat masuk ke dalam sistem pernapasan. Kuman yang masuk dapat meradang dan menginfeksi paru-paru.

Gangguan sistem pernapasan yang mungkin terjadi antara lain pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta emfisema. Namun, peneliti mengatakan hal ini bisa diatasi dengan menjaga kesehatan oral secara rutin untuk menghindari masalah gigi dan gusi yang berdampak pada kesehatan paru-paru.

2. Gangguan kardiovaskuler

Penyakit gusi juga memicu komplikasi gangguan kardiovaskular. Peradangan pada penyakit gusi dapat membebani tubuh dan meningkatkan risiko pembentukan plak pada arteri.

Harvard Health Publishing menjabarkan penjelasan Dr. Hatice Hasturk, seorang periodontis dari Harvard-affiliated Forsyth Institute, organisasi penelitian non profit yang fokus pada kesehatan oral. Dr. Hasturk bersama rekan peneliti lainnya melakukan uji penelitian pada seekor kelinci yang diberi makanan tinggi kolesterol. Saat diteliti, kelinci tersebut mengalami infeksi penyakit gusi.

Peneliti juga mengatakan, “beban” peradangan pada gusi memicu aterosklerosis atau penyempitan dan pengerasan pembuluh arteri akibat timbunan plak pada dinding arteri pada kelinci percobaan. Mereka mengatakan, kelinci juga memiliki risiko tinggi pada serangan jantung.

Peradangan pada gusi secara tidak langsung bisa berdampak pada komplikasi kardiovaskular. Namun, yang perlu dicatat bahwa tak semua orang yang mengalami gangguan kardiovaskular memiliki masalah gusi.

3. Rematik

Penyakit gusi yang parah dapat memicu komplikasi seperti rematik. Hal ini disebabkan peradangan pada gusi dapat mendorong adanya peradangan rematik (rheumatoid arthritis), yakni peradangan sendi akibat respon imun.

Komplikasi ini dapat dicegah dengan memperhatikan kebersihan oral setiap hari, sehingga masalah gigi dan gusi dapat dihindari.

4. Sulit mengontrol gula darah pada diabetesi

Komplikasi lainnya dari infeksi gusi adalah sulitnya mengontrol gula darah pada diabetesi. Berdasarkan jurnal Diabetologia, peradangan infeksi gusi dapat meningkatkan aktivitas sitokin dan mempengaruhi kekebalan tubuh, sehingga kerja tubuh pun terganggu.

Hal ini berdampak pada sulitnya pengendalian gula darah pada diabetesi. Bila diabetesi mengalami periodontitis berat, bisa saja mengalami gangguan organ lainnya, seperti penyakit ginjal.

Tips untuk mencegah komplikasi akibat infeksi gusi

Infeksi gigi yang tidak diatasi segera bisa menyebabkan ragam komplikasi seperti yang disebutkan sebelumnya. Namun, alangkah baiknya mencegah sebelum menunggu kondisi gusi kian memburuk.

Bagaimanapun, penting menjaga kesehatan rongga mulut terutama di tengah pandemi, karena mulut adalah salah satu jalan masuk kuman ke dalam tubuh. Masalah dari mulut bisa memicu gangguan lainnya pada organ.

Oleh karenanya, berikut tips merawat rongga mulut guna mencegah infeksi gusi yang berdampak pada komplikasi.

1. Segera ke dokter gigi bila ada masalah gigi atau gusi

Jangan menunda untuk ke dokter gigi bila ada masalah gigi berlubang, agar tidak menimbulkan masalah peradangan gusi. Bila Anda melihat adanya karang gigi atau tartar yang mulai menumpuk, segera ke dokter gigi untuk dibersihkan, menghindari infeksi gusi yang mungkin terjadi.

2. Selalu berkumur dengan obat kumur atau antiseptic mouthwash

Berkumur dengan antiseptic mouthwash dapat menjaga kesehatan rongga mulut. Berdasarkan American Dental Association, mouthwash dapat mencegah gigi berlubang, mengontrol plak, serta mencegah masalah gusi. Anda bisa memilih mouthwash dengan kandungan essential oils yang dapat mengurangi 99,9% kuman penyebab masalah mulut.

3. Rutin sikat gigi dan flossing

Jangan lupa rutinkan untuk menyikat gigi dengan cara yang benar dua kali sehari untuk mencegah penumpukan plak gigi, serta masalah gusi. Setelahnya, biasakan untuk tetap membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi untuk membersihkan area yang sulit dijangkau dengan sikat gigi.

Lakukan ketiga langkah sederhana di atas untuk mencegah infeksi penyakit gusi dan komplikasinya. Jaga kesehatan mulut untuk jaga kesehatan Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Periodontitis – Symptoms and causes. (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/periodontitis/symptoms-causes/syc-20354473

Gum disease – Complications . (2018). Retrieved 23 November 2020, from https://www.nhs.uk/conditions/gum-disease/complications/

Publishing, H. (2020). Gum disease and heart disease: The common thread – Harvard Health. Retrieved 23 November 2020, from https://www.health.harvard.edu/heart-health/gum-disease-and-heart-disease-the-common-thread

M Bansal, V. (2013). Potential role of periodontal infection in respiratory diseases-a review. Journal Of Medicine And Life6(3), 244. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3786481/

Bingham, C., & Moni, M. (2013). Periodontal disease and rheumatoid arthritis. Current Opinion In Rheumatology25(3), 345-353. doi: 10.1097/bor.0b013e32835fb8ec

Preshaw, P., Alba, A., Herrera, D., Jepsen, S., Konstantinidis, A., Makrilakis, K., & Taylor, R. (2011). Periodontitis and diabetes: a two-way relationship. Diabetologia55(1), 21-31. doi: 10.1007/s00125-011-2342-y

Mouthwash (Mouthrinse) . (2020). Retrieved 23 November 2020, from https://www.ada.org/en/member-center/oral-health-topics/mouthrinse


Foto Penulis
Ditinjau oleh dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh Maria Amanda
Tanggal diperbarui 02/03/2021
x