backup og meta
Kategori
Cek Kondisi
Tanya Dokter
Simpan

Diabetes Bisa Sebabkan Impotensi, Bagaimana Cara Mengobatinya?

Ditinjau secara medis oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H. · General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 24/11/2021

Diabetes Bisa Sebabkan Impotensi, Bagaimana Cara Mengobatinya?

Pria yang memiliki diabetes berisiko lebih besar mengalami impotensi atau disfungsi ereksi. Jurnal Diabetic Medicine menyebutkan paling tidak setengah dari pria dengan diabetes merasakan gangguan ereksi dan penurunan libido. Perubahan gaya hidup yang lebih sehat, konsumsi obat, atau perawatan medis tertentu dapat membantu mengatasi impotensi akibat diabetes.

Bagaimana diabetes menyebabkan impotensi?

pengobatan impotensi

Seiring berjalannya waktu, diabetes dapat menyebabkan berbagai penurunan fungsi pada sejumlah organ, mulai dari pembuluh darah, jantung, hingga sistem saraf.

Impotensi yang dialami oleh pria dengan diabetes bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antara yang berkaitan dengan gangguan pada saraf, pembuluh darah, dan otot di sekitar penis.

Gula darah yang terlalu tinggi menyebabkan kerusakan pada saraf di dalam tubuh sehingga terjadi komplikasi neuropati diabetik.

Akibatnya, respons saraf yang bekerja di sekitar penis akan terganggu.

Selain itu, diabetes dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah yang melewati penis. Kondisi ini bisa menyulitkan pria dengan diabetes untuk mengalami ereksi penis.

Pasalnya, selain faktor hormon dan keinginan seksual, kemampuan menjaga ereksi sangat bergantung pada kondisi kesehatan saraf dan pembuluh darah.

Meskipun umum terjadi di antara pasien diabetes, beberapa jenis obat dan cara pengobatan tertentu bisa menjadi solusi dari impotensi akibat penyakit kencing manis ini.

Di samping itu, American Diabetes Association menyebutkan beberapa faktor berikut ini bisa meningkatkan peluang pria dengan diabetes mengalami disfungsi ereksi:

  • kelebihan berat badan,
  • merokok,
  • tidak aktif bergerak atau jarang berolahraga,
  • cedera pada penis,
  • minum obat penurun tekanan darah,
  • gangguan psikologis, seperti cemas berlebihan, depresi, dan trauma.

Jenis obat dan pengobatan impotensi akibat diabetes

efek samping obat kuat

Tak perlu cemas, kondisi impotensi karena diabetes bisa disembuhkan. Pengobatan yang tepat untuk impotensi bergantung dari penyebab dan faktor risiko dari kondisi tersebut.

Jika penyebabnya adalah diabetes, Anda perlu menjalani pengobatan diabetes dan gaya hidup sehat untuk mengendalikan gula darah.

Namun, apabila terdapat juga faktor risiko lainnya seperti masalah psikologis, Anda perlu menjalani terapi khusus untuk membantu mengatasi kondisi tersebut.

Secara umum, pria yang mengalami kesulitan untuk mencapai atau menjaga ereksi akibat diabetes bisa minum obat impotensi atau mengikuti pengobatan untuk disfungsi ereksi lainnya.

1. Pil disfungsi ereksi

Pengobatan yang paling umum untuk impotensi, termasuk akibat diabetes, adalah konsumsi obat kuat.

Beberapa jenis obat seperti sildenafil (Viagra), vardenafil (Levitra), dan tadalafil (Cialis) dapat merilekskan otot di sekitar penis sekaligus melancarkan pembuluh darah.

Akan tetapi, obat kuat tidak dapat menyebabkan ereksi secara otomatis tanpa adanya rangsangan seksual.

Terlebih, obat impotensi ini bersifat sementara, rata-rata efeknya bertahan 4 jam untuk sildenafil dan vardenafil, sedangkan untuk tadalafil adalah 36 jam.

Hindari untuk membeli obat impotensi akibat diabetes secara bebas tanpa resep khusus dari dokter. Konsumsi obat kuat tetap harus dalam pengawasan dokter.

2. Vakum penis

Selain dengan obat kuat, kondisi impotensi akibat diabetes bisa diatasi dengan penggunaan vakum penis.

Alat ini berfungsi untuk meningkatkan aliran darah ke penis sehingga mempermudah ereksi.

Vakum penis umumnya berbentuk tabung yang terhubung ke pompa.

Untuk membantu ereksi, alat ini akan dipasangkan pada penis dan pompa kemudian alat dipompa untuk melancarkan aliran darah di sekitar penis.

3. Terapi hormon

Alprostadil adalah jenis terapi hormon untuk pria yang bisa mengatasi impotensi akibat diabetes melitus.

Terapi ini juga bertujuan untuk menstimulasi aliran darah di area penis.

Terdapat dua metode dalam pemberian obat alprostadil untuk mengatasi disfungsi ereksi.

Pertama, yaitu obat impotensi akibat diabetes ini diberikan melalui injeksi langsung pada penis (intracavernosal injection).

Kedua, alprostadil dimasukkan ke dalam uretra (saluran kemih) melalui perangkat khusus (intraurethral application).

4. Pengobatan lainnya

Beberapa kondisi impotensi akibat diabetes yang serius mungkin membutuhkan pengobatan lebih lanjut.

Jika disfungsi ereksi juga disebabkan oleh stres, konflik dalam hubungan, atau gangguan psikologis lainnya, Anda bisa menjalani konseling secara rutin atau terapi seks.

Sementara operasi bisa mengatasi disfungsi ereksi yang disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah berat ataupun cedera penis.

5. Gaya hidup sehat

Selain dengan obat dan pengobatan medis, kondisi impotensi akibat diabetes akan benar-benar teratasi jika Anda tetap menjalani pola hidup sehat.

Oleh karena itu, pastikan Anda menjaga kadar gula darah selalu terkendali.

Ikutilah aturan makan sehat berdasarkan prinsip diet diabetes dan perbanyak aktivitas fisik, termasuk dengan rutin berolahraga.

Jika Anda aktif merokok, sangat disarankan untuk berhenti. Pasalnya, merokok dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi diabetes, seperti disfungsi ereksi.

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, impotensi karena diabetes bisa sembuh. Untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Dokter akan mendiagnosis disfungsi ereksi melalui pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan, dan sejumlah tes.

Selanjutnya, dokter akan menentukan jenis obat atau metode pengobatan yang tepat untuk kondisi impotensi akibat diabetes yang Anda alami.

Catatan

Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Ditinjau secara medis oleh

dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

General Practitioner · Medicine Sans Frontières (MSF)


Ditulis oleh Fidhia Kemala · Tanggal diperbarui 24/11/2021

advertisement iconIklan

Apakah artikel ini membantu?

advertisement iconIklan
advertisement iconIklan