Hidup dengan diabetes? Anda tidak sendiri. Ikut komunitas kami sekarang!

home

Apa keluhan Anda?

close
Tidak akurat
Susah dipahami
Yang lainnya

Pasien Diabetes Berisiko Terkena Glaukoma, Apa Penyebabnya?

Pasien Diabetes Berisiko Terkena Glaukoma, Apa Penyebabnya?

Glaukoma menjadi komplikasi diabetes pada mata yang paling umum ditemui. Gangguan mata ini lama-kelamaan bisa menyebabkan hilangnya penglihatan atau kebutaan. Bagaimana cara pengobatan dan pencegahan dari kondisi ini?

Bagaimana diabetes menyebabkan glaukoma?

Glaukoma adalah penyakit yang menyebabkan kerusakan saraf optik mata. Kondisi ini dapat terjadi saat adanya penumpukan cairan berlebihan pada bola mata.

Mata akan menghasilkan cairan untuk mengisi bagian di dalamnya. Cairan baru akan masuk, sedangkan cairan lainnya akan meninggalkan mata melalui saluran drainase.

Umumnya, glaukoma akan menyebabkan saluran drainase ini tersumbat dan cairan terperangkap.

Kelebihan cairan di bagian dalam ini dapat meningkatkan tekanan pada mata.

Pada akhirnya, hal ini bisa merusak pembuluh darah dan saraf optik di indra penglihatan Anda.

Salah satu komplikasi diabetes pada mata yakni retinopati diabetik dapat meningkatkan risiko Anda mengalami glaukoma.

Retinopati diabetik menyebabkan pembuluh darah di retina mata lemah dan rusak. Hal ini akan memicu pertumbuhan pembuluh darah abnormal.

Pembuluh darah ini kemungkinan bisa menghalangi saluran drainase alami mata. Alhasil, tekanan di dalam mata meningkat dan menyebabkan terjadinya glaukoma.

Gejala glaukoma pada pasien diabetes

komplikasi mata diabetes

Pada tahapan awal, glaukoma sering kali menimbulkan sedikit gejala sehingga orang dengan diabetes kebanyakan tidak menyadarinya.

Glaukoma akan menyebabkan perubahan bertahap pada penglihatan Anda. Jika tidak segera diobati, kondisi ini mungkin menyebabkan kehilangan penglihatan atau kebutaan.

Selain itu, masing-masing jenis glaukoma juga akan menimbulkan tanda dan gejala yang bervariasi seperti berikut ini.

1. Glaukoma sudut terbuka

Jenis glaukoma yang paling umum ditemui, yang ditandai dengan saluran atau sudut drainase mata yang terbuka.

Meski terbuka, cairan mata tidak mengalir karena adanya sumbatan.

Beberapa gejala dari glaukoma sudut terbuka, antara lain:

  • penurunan penglihatan bagian samping mata,
  • penglihatan seperti dalam terowongan gelap (tunnel vision),
  • sakit kepala parah,
  • nyeri pada mata, serta
  • mual dan muntah.

2. Glaukoma sudut tertutup

Jenis glaukoma ini terjadi saat bagian iris mata menonjol keluar, yang menyebabkan timbulnya penyumbatan pada sudut antara iris dan kornea.

Orang dengan diabetes umumnya mengalami glaukoma sudut tertutup kronis dan gejalanya terus berkembang dari waktu ke waktu, seperti:

  • nyeri mata,
  • sakit kepala parah,
  • pandangan kabur dan berkabut,
  • melihat lingkaran cahaya saat menatap lampu,
  • mual dan muntah, serta
  • mata merah.

3. Glaukoma neovaskular

Jenis glaukoma ini disebabkan oleh pertumbuhan pembuluh darah abnormal pada mata.

Pembuluh darah abnormal akan menghalangi cairan mata masuk ke saluran drainase.

Gejala dari glaukoma neovaskular hampir mirip dengan jenis lainnya, termasuk:

  • sakit atau nyeri mata,
  • penglihatan kabur, dan
  • mata merah.

Diagnosis dan pengobatan glaukoma diabetes

diagnosis glaukoma

Apabila Anda terkena diabetes dan mengalami sejumlah gejala di atas, lebih baik konsultasikan ke dokter.

Dokter spesialis mata dapat mendiagnosis glaukoma pada pasien diabetes.

Dokter akan melakukan prosedur tes tonometri nonkontak (pneumotonometri) untuk mengukur tekanan di dalam bola mata (intraokular).

Saat menjalani prosedur ini, udara akan diembuskan ke bagian depan mata guna membantu meratakan kornea mata anda.

Setelah itu, mesin akan mengukur ketahanan mata terhadap embusan udara.

Selain tes tonometri, dokter juga dapat menguji bidang penglihatan dan memeriksa saraf optik mata untuk hasil diagnosis yang lebih baik.

Jika Anda memiliki glaukoma, dokter spesialis mata dapat memberikan pengobatan meliputi pemberian obat dan prosedur medis tertentu.

1. Obat tetes mata

Glaukoma pada pasien diabetes umumnya diobati dengan obat tetes untuk meredakan tekanan mata.

Berikut beberapa obat tetes mata khusus yang umum diresepkan dokter.

  • Antagonis adrenergik, seperti betaxolol hidroklorida atau timolol.
  • Penghambat karbonik anhidrase, seperti brinzolamide atau dorzolamide.
  • Golongan analog prostaglandin, seperti latanoprost, bimatoprost atau travoprost.

Dokter akan memberi tahu mengenai obat tetes mata mana yang sesuai dengan kondisi Anda. Terlebih, obat ini mungkin bereaksi dengan pengobatan diabetes.

2. Prosedur laser atau operasi

Jika pemberian obat tetes mata tidak menunjukkan perbaikan gejala, dokter dapat menyarankan prosedur laser, operasi trabekulektomi, atau implan glaukoma.

Laser

Prosedur yang bertujuan membantu menghilangkan kelebihan cairan dari bola mata dengan memperbaiki sudut drainase.

Glaukoma sudut terbuka diobati dengan trabekuloplasti, sedangkan glaukoma sudut tertutup akan menjalani iridotomi.

Trabekulektomi

Tindakan operasi dengan membuat sayatan kecil pada bagian putih mata dan pembuatan kantong yang disebut filtration bleb.

Kelebihan cairan akan mengalir melalui sayatan ke kantong, lalu kembali diserap tubuh.

Implan glaukoma

Perangkat drainase glaukoma berupa tabung kecil akan diletakkan pada mata.

Hal ini membantu mengalirkan kelebihan cairan untuk kembali diserap melalui pembuluh darah.

Cara mencegah glaukoma untuk diabetesi

Glaukoma pada orang diabetes perlu segera diobati untuk mencegah penglihatan semakin buruk dan kebutaan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pasien diabetes perlu menjalani pemeriksaan mata (dilated eye exam) secara rutin setiap tahunnya.

Prosedur medis ini bermanfaat untuk memeriksa ada tidaknya kerusakan saraf optik atau risiko terkena komplikasi diabetes pada mata.

Selain itu, Anda perlu melakukan sejumlah perubahan gaya hidup seperti di bawah ini.

  • Selalu mengikuti anjuran perawatan diabetes dari dokter untuk menjaga kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol dalam batas aman.
  • Hindari dan berhenti merokok yang dapat mempersempit pembuluh darah.
  • Berolahraga selama 30 menit atau lebih, seperti berjalan kaki atau berenang.

Apabila memiliki pertanyaan lebih lanjut, silakan konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik masalah Anda.

[embed-community-10]

health-tool-icon

Kalkulator BMI (IMT)

Gunakan kalkulator ini untuk memeriksa Indeks Massa Tubuh (IMT) dan mengecek apakah berat badan Anda ideal atau tidak. Anda juga dapat menggunakannya untuk memeriksa indeks massa tubuh anak.

Laki-laki

Wanita

Anda atau keluarga hidup dengan diabetes?

Anda tidak sendiri. Ayo gabung bersama komunitas pasien diabetes dan temukan berbagai cerita bermanfaat dari pasien lainnya. Daftar sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

What Is Glaucoma?. American Academy of Ophthalmology. (2021). Retrieved 5 October 2021, from https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-glaucoma

Glaucoma and Diabetes. Diabetes. (2019). Retrieved 5 October 2021, from https://www.diabetes.co.uk/diabetes-complications/glaucoma.html

Diabetic Eye Disease. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2017). Retrieved 5 October 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/preventing-problems/diabetic-eye-disease

Managing Diabetes. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. (2016). Retrieved 5 October 2021, from https://www.niddk.nih.gov/health-information/diabetes/overview/managing-diabetes

Keep an Eye on Your Vision Health. Centers for Disease Control and Prevention. Retrieved 5 October 2021, from https://www.cdc.gov/visionhealth/resources/features/keep-eye-on-vision-health.html

Zhao, Y. X., & Chen, X. W. (2017). Diabetes and risk of glaucoma: systematic review and a Meta-analysis of prospective cohort studies. International journal of ophthalmology, 10(9), 1430–1435. https://doi.org/10.18240/ijo.2017.09.16

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Satria Aji Purwoko Diperbarui 19/10/2021
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro